Makin Benci, Makin Cinta

Makin Benci, Makin Cinta
Bertanggung jawab


__ADS_3

Zea memicingkan matanya, khawatir jika Arjuna lagi-lagi berulah dengan pura-pura sakit.


“Pasti bohong,” ujar Zea.


“Serius aku, tolong hubungi Leo dan Almira.” Arjuna bertitah sambil terus memegang perutnya.


Zea pun merangkul tubuh Arjuna dan memapahnya masuk lalu membaringkan di ranjang. Tidak lupa melepaskan alas kaki yang di pakai pria itu.


“Kalau memang sakit beneran kenapa tadi malah minta putar balik?”


Arjuna tidak menjawab dia malah berbaring miring dan menjadikan salah satu bantal sebagai guling. Zea bingung harus bagaimana, dia menatap keliling kamar lalu menuju meja kecil dan mengambil botol air mineral.


“Minum dulu,” titah Zea yang sudah duduk di tepi ranjang dan menyodorkan botol air mineral yang sudah dibuka.


Arjuna beranjak mengangkat tubuhnya, meminum beberapa teguk lalu kembali berbaring dengan posisi sebelumnya.


“Bagaimana aku hubungi Pak Leo dan Almira, aku tidak ada kontak mereka,” keluh Zea.


“Pakai ponselku,” jawab Arjuna yang kembali mengerang kesakitan tapi tangannya mengeluarkan ponsel yang berada di kantong celana.


“Kodenya apa?” tanya Zea karena ponsel Arjuna terkunci.


“Tanggal lahir kamu,” jawab Arjuna.


Zea mencebik mendengar jawaban pria itu. Entah memang sudah sejak lama pin ponselnya adalah tanggal lahir Zea atau memang rencana sesaat Arjuna.


Wanita itu terdiam saat berhasil membuka layar ponsel Arjuna dan menampilkan wallpaper foto dirinya, sempat menoleh pada pria yang masih berbaring dengan erangannya.


Mencari kontak Leo dari log panggilan dan menghubunginya. Ternyata kontak Leo sedang tidak aktif begitupun dengan Almira.


“Nggak aktif,” ujar Zea. “Aku panggil dokter ya, kami ada fasilitas kesehatan loh,” ujar Zea lagi.


“Tidak usah, tolong buatkan teh manis hangat saja. Sepertinya karena telat makan,” ungkap Arjuna sambil melirik Zea yang berjalan ke arah meja di mana tersedia teko elektrik.


“Kamu biasa minum obat apa, aku bisa minta ada yang belikan.”


“Obatnya cuma kamu,” gumam Arjuna tapi didengar oleh Zea.


Zea mengaduk teh manis yang dia buat lalu membawanya dan meletakan di atas nakas sisi ranjang. wanita itu kembali mengambil ponsel Arjuna, hendak menghubungi sekretaris Arjuna.


“Sekretaris kamu namanya siapa?”


Arjuna langsung menoleh, “Eh, mau ngapain hubungi dia.”


“Biar dia urus kamulah masa aku, dia yang kerja dengan kamu.”


“Jangan, nanti kegeeran dia suruh ngurusin aku.”


Arjuna beranjak duduk dan bersandar pada headboard lalu mengambil cangkir yang tadi diletakan Zea, menyesap pelan isinya.

__ADS_1


“Tolong bantu aku ganti baju,” titah Arjuna.


“Hahh, ngaco kamu. Aku panggil housekeeping cowok aja deh,” usul Zea yang langsung berdiri.


Arjuna menahan Zea dengan menarik tangan wanita itu.


“Kamu tega badan aku ditatap cowok?”


Zea hanya mengedikkan bahunya, dengan pandangan tidak terpusat pada Arjuna.


“Cuma kamu yang tahu aku luar dalam, aku sedang sakit Zea dan hanya kamu yang bisa sembuhkan aku,” tutur Arjuna memohon.


Zea melepaskan tangan Arjuna lalu menuju lemari dan mengambil piyama dari tumpukan pakaian Arjuna. Walaupun tidak menyaksikan langsung Arjuna mengganti pakaiannya karena dia membuang pandangan, Arjuna masih saja merengek hal lain membuat Zea masih berada di kamar itu.


Sampai keduanya lelah dan tertidur di ranjang yang sama walaupun tanpa melakukan adegan dewasa ataupun sentuhan mesra.


“Oh, jadi begini ya. Diam-diam kalian tidur bersama.”


Arjuna dan Zea terbangun. Zea terkejut karena dia berada di ranjang yang sama dengan Arjuna bahkan berada di bawah selimut yang sama, tapi pakaiannya masih utuh. Sedangkan Arjuna sedang menguap dan tampak biasa saja.


“Kak Juna bisa-bisanya tiduri Kak Zea. Aku aja yang cuma peluk dan pegangan tangan dengan kak Leo di protes terus,” keluh Almira.


“Eh, mau ke mana kamu?” tanya Leo pada Zea yang beranjak dari ranjang.


“Pulang, kalian sudah datang. Jadi ….”


“Tidak semudah itu,” sela Leo. “Kalian ke gap menginap bersama jadi mau tidak mau harus menerima konsekuensinya," seru Leo.


“Hah, jadi Kak Zea benar tidur dengan Kak Juna?” tanya Almira.


“Eh nanti dulu, kami memang tidur bersama dalam artian sebenarnya. Ah sudahlah, bingung aku dengan kalian,” ungkap Zea lalu berjalan akan menuju pintu tapi dihalangi oleh Almira.


“Tidak bisa begitu, bagaimana kalau perbuatan kalian ini sampai didengar oleh pihak lain. Hotel, orangtua atau ….”


“Apa maksudnya?” tanya Zea pada Leo. “Kalian ancam aku?”


“Zea duduklah dulu, kalau bicara harus dengan pikiran dan hati tenang,” usul Arjuna.


Zea menoleh dan memicingkan matanya. “Ini ulahmu, pasti rencanamu. Dari semalam memang situasinya sudah aneh.”


“Kalau aku tidak rencanakan ini, mana aku  bisa bicara baik-baik denganmu dan tahu kalau kamu memang masih peduli denganku,” tutur Arjuna penuh percaya diri.


Zea mengambil bantal sofa dan mendekati Arjuna lalu memukuli pria itu.


“Dasar pria aneh, bukannya minta maaf dan menyesal malah berulah dan bikin orang khawatir. Pakai acara grebek segala, coba kalau yang pergoki ini Ayahku sudah pasti aku akan dinikahi sekarang juga,” pekik Zea.


Arjuna berusaha menahan pukulan Zea, bahkan sampai jatuh berbaring dan Zea masih terus memukulinya.  


“Memang kamu harus segera menikah.”

__ADS_1


Zea terkejut mendengar suara yang begitu dia kenali.


“Ayah!”


“Iya, ini Ayah. Memang siapa yang kamu harapkan?” tanya Omar.


“Kenapa Ayah ada di sini?” tanya Zea. Saat ini posisi tubuhnya sedang berada di atas tubuh Arjuna.


Leo dan Almira terkikik geli. Arjuna berdehem untuk menyadarkan Zea bahwa posisi mereka benar-benar dalam bahaya.


“Tidak malu kamu begitu di depan Ayah?”


Zea tersadar dan langsung beranjak berdiri, memperbaiki pakaian dan rambutnya yang berantakan.


“Ini tidak seperti yang Ayah pikirkan? Aku bisa jelaskan,” terang Zea. “Tunggu dulu, kenapa Ayah bisa ada di sini?”


“Kak Juna, aku keluar dulu. Kalian bicarakan dan putuskan solusi terbaik, ayo kak,” ajak Almira pada Leo.


“Hei, ini pasti ulah kalian juga ‘kan?” Zea akan mengejar Leo dan Almira tapi dihentikan oleh Omar.


“Duduk!” titah Omar.


Zea pun duduk di tepi ranjang, begitu pula dengan Arjuna. Keduanya seperti tersangka kejahatan yang terbukti bersalah.


“Aku bisa jelaskan, Yah.”


“Hm, tentu saja kamu harus jelaskan.”


“Arjuna sakit dan kami tidak bisa menghubungi Pak Leo dan Almira,” tutur Zea. “Jelaskanlah!” titah Zea sambil menyenggol lengan Arjuna.


“Kamu sudah menjelaskan, aku harus jelaskan apalagi. Ah, apa aku harus sampaikan kalau kamu juga bantu aku berganti baju?”


Omar berdecak mendengar pernyataan Arjuna.  Zea menggeram kesal, mengepalkan kedua tangan di depan wajah Arjuna.


“Zea, apa benar yang dikatakan Arjuna?”


Zea hanya diam.


“Kita tidak macam-macam Yah, hanya tidur. Benar-benar tidur dan itupun tidak sengaja.”


“Sebelumnya juga kalian hanya tidur, bahkan sampai kamu hamil dan lalu aku kehilangan calon cucuku,” tutur Omar.


Zea menundukkan wajahnya, tidak menampik apa yang dikatakan Omar.  Walaupun saat itu Omar ingin sekali menemui Arjuna dan menyampaikan apa yang terjadi tapi Zea melarangnya.


Arjuna menatap Omar dan Zea bergantian, dia paham semua bermuara dari dan kepadanya.


“Aku ingin bertanggung jawab walaupun terlambat. Aku akan menikahi Zea, saat ini juga.”


 \=\=\=\=\=\=

__ADS_1



__ADS_2