
Zea berusaha mendorong tubuh Arjuna yang semakin memeluk erat dan menempel pada tubuhnya. Pekikan Zea dan penjelasan bahwa dia tidak seperti yang Arjuna duga tidak didengar oleh pria yang sedang cemburu dan diliputi amarah.
“Arjuna, hentikan,” teriak Zea yang semakin khawatir Arjuna akan khilaf. Apalagi pakaian yang dikenakannya sudah mulai dilucuti oleh Arjuna dan tangan yang sudah bergerilya menyentuh area sensitif tubuh Zea.
“Diam, aku sudah bilang jangan buat aku marah. Kamu hanya milikku Zea.”
Ternyata Zea tidak sanggup melawan Arjuna, kalah dengan kekuatan pria yang sudah menguasai tubuhnya. Dengan kasar Arjuna melepaskan blouse yang dikenaka Zea hingga tampaklah dua aset kembarnya. Sedangkan bawahan Zea sudah dilepas lebih dulu oleh Arjuna.
Zea dengan tubuh yang sudah polos harus rela ketika Arjuna merasakan dan meninggalkan banyak jejak di tubuhnya. Bahkan saat milik Arjuna menghentak masuk dan merusak kehormatannya, Zea memekik dan membenamkan kesepuluh jarinya pada tubuh Arjuna.
Arjuna menyadari jika Zea ternyata belum pernah terjamah.
“Sayang … kamu ….”
“Lepaskan aku,” gumam Zea merasakan perih dan nyeri di bagian intinya.
Arjuna merasakan sensasi kenikmatan luar biasa dan belum pernah dia dapatkan sebelumnya, dia pun tidak ingin menghentikan aksinya malah kembali melanjutkan penyatuan tubuh mereka.
“Sayang, aku mencintaimu. Jangan khawatir, kita akan bersama dan aku pastikan kamu hanya milikku,” tutur Arjuna kemudian melanjutkan aksinya. Zea hanya bisa pasrah, karena tenaganya sudah tidak dapat menghentikan gerakan Arjuna.
...***...
Zea mengerjapkan kedua matanya dan menatap sekeliling, menyadari dia tidak berada di kamarnya dan mengingat apa yang sudah terjadi. Dia pun mendesis pelan karena rasa sakit pada bagian intinya serta remuk redam di seluruh tubuhnya.
"Sudah bangun?” tanya Arjuna yang menaiki ranjang. Zea mengeratkan selimutnya lalu berbaring miring memunggungi pria yang sudah mengambil apa yang dia jaga selama ini.
“Tinggalkan aku sendiri,” titah Zea. Arjuna malah memeluk wanita yang saat ini terlihat begitu marah dan kecewa bahkan dia menempelkan wajahnya pada tengkuk Zea.
__ADS_1
“Maafkan aku sayang, tapi aku bahagia karena kamu sepenuhnya milikku. Aku akan perjuangkan hubungan kita dan kita akan segera menikah.”
“Pergi!,” pekik Zea sambil menangis.
“Cinta, tolong jangan menangis. Aku begini karena aku sangat menyayangimu,” tutur Arjuna.
Zea memaksa Arjuna untuk membiarkan dia sendiri dan pria itu memberikan waktu untuk Zea bahkan sudah menyiapkan pakaian ganti untuk Zea.
Zea tidak menyangka Arjuna akan senekat itu. Rasanya Zea ingin sekali menghajar wajah tampan Arjuna, karena sudah berani menyakiti hati dan fisiknya. Walaupun mereka saling mencintai, yang dilakukan oleh Arjuna tetap salah.
Arjuna resah menunggu Zea di luar kamarnya, terkadang dia menempelkan telinga pada daun pintu berusaha mendengar apa yang terjadi di dalam kamar. Tidak ingin wanita itu menyakiti diri sendiri seperti yang pernah dilakukan dulu . Sampai akhirnya Zea keluar dari kamar, Arjuna bergegas menghampiri.
“Sayang, makan dulu ya. Dari semalam kamu belum makan,” ajak Arjuna sambil merangkul bahu Zea.
“Aku mau pulang!” ujar Zea sambil menggerakan bahunya agar tangan Arjuna terlepas.
“Tidak, aku ingin sendiri,” tolak Zea.
“Zea, aku tau aku salah tapi jangan begini. Biarkan aku menemanimu.”
Zea mengacuhkan Arjuna yang berada di sampingnya, pria itu terus bicara dan meyakinkan Zea kalau dia akan memperjuangkan Zea. Apalagi dengan apa yang sudah dilakukan membuat Arjuna semakin mencintai Zea.
Desisan keluar dari bibir Zea ketika dia melangkah dan berjalan, bukan tanpa alasan tapi karena ulah Arjuna semalam. Melihat akibat dari perbuatannya semalam, Arjuna merasa bersalah tapi bangga berhasil mendapatkan Zea.
“Turunkan aku di lobby dan jangan ikuti aku,” cetus Zea.
“Aku tidak mungkin biarkan kamu sendiri, nanti kamu ….”
__ADS_1
“Tenang saja, aku tidak akan bunuh diri. Terlalu banyak ujian di hidupku bahkan aku tidak sanggup lagi untuk menangis atau mengeluh, termasuk saat ini,” ungkap Zea membuat Arjuna semakin diliputi rasa bersalah.
Di tempat berbeda.
Mauren sedang membujuk ayahnya menghentikan niat menjodohkan dirinya dengan Arjuna. Tentu saja hal ini membuat pria itu heran, sebelumnya Mauren sangat antusias dengan perjodohan dengan Arjuna tapi kini menolak.
Gavin yang menyaksikan itu tidak ikut campur walaupun dia tahu alasan Mauren karena ancaman Arjuna.
“Tidak bisa, Ayah dan Abraham sudah sepakat. Lagipula bukankah kamu sangat menyukai Arjuna, kenapa tiba-tiba menolak?”
“Kak Gavin, tolong bantu aku,” gumam Mauren sambil memohon pada kakaknya. Dia harus berhasil meyakinkan Ayahnya untuk benar-benar mengakhiri rencana mereka atau Arjuna akan menyebarkan videonya. Walaupun Mauren belum pernah melihat sendiri video yang dimaksud Arjuna.
Gavin mengedikkan bahunya, dia tidak ingin ikut campur dengan urusan perjodohan Mauren dan Arjuna. Kalau boleh memohon, justru Gavin ingin Arjuna bersama Mauren agar dia bisa kembali pada Zea. Walaupun mungkin butuh waktu untuk mendapatkan hati mantan istrinya.
“Ayah, aku serius. Kalau Ayah tidak membatalkan perjodohan ini kita hanya akan mendapat malu,” seru Mauren sambil menundukan wajahnya.
“Kenapa bisa begitu? Justru kita akan semakin dipandang begitu pula dengan Arjuna. Karena tidak mudah dan banyak yang menginginkan posisi ini,” tutur Ayah Mauren.
“Ini sama saja Ayah tidak peduli denganku. Arjuna memiliki videoku bersama seorang laki-laki dan dia mengancam akan menyebarkan foto serta video itu. Aku nggak mau kalau nanti masyarakat resah lalu menghujatku apalagi sampai mengarak keliling komplek.”
“Apa? Video dengan laki-laki. Apa kamu sudah gila, bagaimana bisa ada hal seperti itu. Melihat pergaulanmu, Ayah tidak heran kalau kamu bisa dekat dan lebih dari kata dekat dengan Arjuna tapi video? Bagaimana bisa kamu dengan santai membiarkan ada yang mengambil … ah sudahlah. Ayah benar-benar bingung,” ujar Ayah Mauren.
“Kalau Ayah sayang aku, batalkan dengan segera!” titah Mauren
...*********...
__ADS_1