Makin Benci, Makin Cinta

Makin Benci, Makin Cinta
Kangen Anak


__ADS_3

Entah sudah berapa kali Zea memuntahkan isi perutnya, sejak mereka pulang termasuk makanan yang masuk saat makan malam.


“Sayang, kita ke rumah sakit ya … kamu kelihatan lemas banget.”


Zea yang baru saja berbaring, menoleh mendengar usulan Arjuna.


“Nggak usah berlebihan, ngapain ke rumah sakit. Aku hanya perlu istirahat,” tutur Zea. “Minyak angin yang tadi bawa ke sini dan kamu nggak usah pakai parfum kalau di rumah. Ganti aja sama minyak telon biar wangi bayi,” seru Zea kemudian berbaring miring dan mengeratkan selimutnya.


Arjuna menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Minyak telon!”


Pria itu khawatir karena Zea tidur dengan perut yang kosong. Jika dia membuka suara lagi, istrinya pasti akan marah. Karena akhir-akhir ini Zea lebih mudah merajuk dan emosi.


“Ini minyak anginnya.” Arjuna letakkan botol kecil di atas nakas sambil menatap wajah Zea yang sudah terlelap.


Setelah mengganti lampu kamar dengan lampu tidur yang lebih temaram, Arjuna ikut berbaring. Bahkan posisinya sudah di belakang tubuh Zea untuk memeluk wanita itu dari belakang tapi urung dilakukan takut Zea tidak nyaman.


“Kalau begini namanya dekat tapi jauh.”


...***...


“Loh, kamu kok udah rapi. Ini jam berapa?”Zea menatap keliling kamar setelah terjaga dan melihat Arjuna yang sudah siap berangkat.


“Sudah, kamu tidur aja sayang.” Tentu saja Arjuna tidak tega membangunkan Zea, sebelum subuh istrinya kembali memuntahkan isi perutnya yang jelas-jelas belum terisi apapun.


“Besok kita pindah ke rumah Papi, di sana ada Almira dan bibi. Jadi aku lebih tenang kalau tinggalkan kamu ke kantor.”


“Nggak bisa kita di sini aja?”


“Di rumah lebih luas, sekalian kita atur kamar untuk anak-anak kita nanti,” seru Arjuna.


“Anak-anak?”


“Hm.”


Arjuna mendekat ke ranjang dan duduk di samping Zea yang masih berbaring.


“Aku ingin buat Arjuna dan Zea junior yang banyak, lima kalau perlu. Biar rumah kita ramai dan saat tua nanti kita tidak kesepian.”


Zea terkekeh mendengar keinginan Arjuna, tapi dia setuju dengan ucapan pria dihadapannya. Apalagi kenyataan Arjuna hanya dua bersaudara dengan Almira serta kesibukan masing-masing, membuat keduanya tidak terlalu dekat dan tentu saja kesepian.


“Asal jangan anak-anak nanti tengil kayak kamu aja.”


“Tengil gimana, mana ada aku tengil.”


Zea menjauhkan tubuhnya, indra penciumannya mendeteksi wangi yang lain dari tubuh Arjuna.


“Kamu pakai parfum?”


“Lah, mulai lagi urusan parfum. Aku nggak ada pakai parfum sayang, kalau nggak percaya ya boleh cium nih tubuh aku.”

__ADS_1


“Kok masih wangi?”


“Memang aku wangi.”


“Ck, ya udah berangkat sana.” Arjuna sudah beranjak dari duduknya hendak mencium kening Zea. “Eh, kamu belum sarapan ya?”


“Gampang, aku bisa sarapan di kantor. Tidak usah pikirkan hal itu.”


“Hm. Peluk.” Zea merengek manja.


Arjuna pun kembali mendekat dan memeluk istrinya. Menghela lega, walaupun dengan drama kehamilan Zea tapi dia ada di samping istrinya. Berbeda dengan kehamilan sebelumnya, di mana Arjuna sama sekali tidak tahu dan harus kehilangan.


Sampai di kantor, Arjuna langsung dihadapkan dengan Almira yang kembali merengek masalah pernikahannya dengan Leo.


“Lalu kapan?”


“Ya ampun kamu ngebet kawin banget sih,” keluh Arjuna dan kebetulan Leo bergabung di ruangan Arjuna.


“Kamu sudah sampai, kok nggak ngabarin?” tanya Leo pada Almira.


“Tuh sekalian ada orangnya, putuskan dong kapan aku dan Kak Leo bisa menikah.”


“Adek gue lo apain sih? Nggak sabar banget pengen dihalalin.”


Leo duduk di depan meja kerja Arjuna menatap Almira yang berdiri di samping Arjuna, lalu menepuk kursi di sampingnya.


“Aku nggak ada macam-macam. Wajar kali dia mau cepat nikah, takut aku diambil orang.”


“Pede banget sih,” keluh Almira yang sudah duduk di samping Leo.


“Hah. Kita sudah sepakat di Bali, Kak Juna kok gitu sih.”


Almira lagi-lagi merengek pada Arjuna dan Leo.


“Zea sudah di Jakarta dan dia sedang hamil, jadi pernikahan kalian diadakan di Jakarta.”


“Aku sih, yes,” sahut Leo.


“Kalian nggak asyik. Kak Zea beneran hamil?”                                                                                                    


“Hm. Nanti kasih tau bibi untuk kondisikan kamar aku, Zea akan aku ajak tinggal di rumah Papi.”


“Kak Leo, kalau kita sudah menikah tinggal di rumah Papi juga ya. Kumpul biar ramai.” Usulan Almira membuat dahi Leo berkerut.


“Kumpul dengan dia lagi,” tunjuk Leo pada Arjuna. “Nggak mau lah, masa dua puluh empat jam harus ketemu dia terus. Yang ada aku nanti stress.”


“Terus kapan dong pastinya pernikahan aku?”


“Leo yang bisa jawab itu, aku sudah putuskan di Jakarta. Kalian segera persiapkan saja. Sudah kamu pulang atau ke mana kek, aku dan Leo harus bekerja, kamu di sini malah buat dia gagal fokus.”


...***...

__ADS_1


Zea duduk bersandar di sofa, dengan mangkuk salad di pangkuannya. Menyaksikan Almira yang sedang mondar mandir menghubungi MUA untuk pernikahannya, ternyata tanggalnya bentrok dan Almira diminta untuk mencari jasa lain.


Arjuna dan Zea sudah berpindah tempat tinggal, drama awal kehamilan pun sudah lewat. Kehamilan Zea sudah memasuki empat bulan dan perut wanita itu sudah terlihat buncit.


“Ya nggak bisa gitu dong, aku sudah booking jauh-jauh hari. Kalian tidak profesional, catat ya … tidak profesional.”


Almira mengakhiri panggilan telepon lalu menghempas tubuhnya di sofa. “Aaaaa,” teriak Almira.


Zea sampai terhenyak karena tidak menduga gadis itu akan berteriak.


“Sabar, jangan emosi. Tinggal seminggu lagi, nanti malah penampilan kamu saat di pelaminan nggak bagus karena pengantinnya hipertensi,” ujar Zea sambil terkekeh.


“Gimana nggak emosi Kak, terus yang make up kita siapa?”


“Ya ampun Almira, masih banyak jasa MUA.”


Tidak lama kemudian Arjuna pulang, karena hari memang sudah cukup sore.


“Kak Juna sudah pulang? Kak Leo pasti disuruh lembur lagi deh.”


“Nggak. Dia juga udah pulang. Anak aku gimana kabarnya?” Arjuna sedikit membungkuk lalu menciumi perut Zea.


“Ish, bucin,” gumam Almira kemudian meninggalkan pasangan yang selalu menunjukkan kemesraan mereka.


“Papa kangen banget nih,” keluh Arjuna masih mengusap dan menciumi perut Zea.


“Kangen siapa?”


“Kangen kamu dan anak kita, makanya aku mau jenguk dia untuk obat kangen.’


Zea memukul lengan Arjuna.


“Alasan aja, bilang aja pengen ….”


“Sttt, serius sayang aku kangen.”


Zea terkekeh, apalagi saat Arjuna mengangkat tubuh Zea dan menggendong ala bridal. Kedua tangan wanita itu langsung mengalung di leher Arjuna.


“Turunkan ih, nanti aku jatuh.”


“Sudahlah, nikmati saja. Nanti-nanti belum tentu bisa begini, apalagi kalau kehamilan kamu semakin bear,” ungkap Arjuna yang sudah berada di kamar, bahkan dia menutup pintu kamar dengan kakinya.


“Jadi kalau hamil besar aku semakin gendut?” Zea bertanya dengan nada suara tidak biasa.


“Bukan begitu sayang, kalau hamil kamu semakin besar mana berani aku gendong. Khawatir jatuh.”


Arjuna sudah membaringkan Zea dengan hati-hati, khawatir kalau istrinya akan melarang dia berkunjung karena merajuk.


“Boleh ya, aku sudah kangen anak aku nih,” rengek Arjuna.


 

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=



__ADS_2