
“Nggak ada tapi, memang kamu mau balik lagi sama si Gopin.”
“Ya enggak lah,” sahut Zea sambil mencebik.
“Zea, aku masih kangen,” rengek Arjuna sambil menempelkan keningnya di bahu Zea.
“Geser,” ujar Zea sambil menggeser tubuh Arjuna. “Kelamaan begini bisa bahaya, kamu tidak bisa dipercaya.”
“Ck, aku serius. Dua hari diabaikan kamu rasanya nggak enak.”
“Dan aku serius, masih marah sama kamu,” ujar Zea kembali mendorong tubuh Arjuna. “Jalan, aku mau pulang.”
“Aku ikut ya,” sahut Arjuna dengan penuh semangat.
Saat ini mobil Arjuna sudah berada di parkiran basement apartemen Zea, keduanya berdebat karena Arjuna ingin ikut naik sedangkan Zea tidak mengizinkan.
“Kalau kamu nggak ajak kita bicara empat mata, kita sudah ijab qobul di depan Ayahmu.”
“Gila ya, kamu pikir menikah sebercanda itu,” ketus Zea.
“Karena aku serius, Cinta.”
Zea keluar dari mobil dan berjalan menuju lift, tentu saja diikuti oleh Arjuna yang asyik bersiul karena perasaan bahagia. Bagaimana tidak, dia sudah berhasil menemui Zea dan saat ini mengekor langkah wanita itu ke manapun.
Zea sudah berdiri di depan pintu unitnya dan akan menekan passcode lalu menoleh pada Arjuna yang mengedikkan bahu. Memastikan Arjuna tidak mengetahui deret angka passcode yang dia tekan, ternyata Arjuna melirik dan tersenyum.
“Hahhh.” Arjuna merebahkan tubuhnya di sofa, sedangkan Zea menuju kamar. Arjuna bergegas beranjak menuju pintu mengutak-atik kunci otomatis pintu apartemen Zea lalu kembali ke dalam. Arjuna tidak berani merangsek ke kamar Zea seperti yang sebelumnya dia lakukan.
Tidak lama kemudian, Zea keluar kamar sudah berganti piyama dan telah membersihkan diri.
“Kenapa masih di sini?” tanya Zea. “Aku sudah suruh pulang.”
“Zea, kemari dulu. Kita belum selesai bicara,” ajak Arjuna.
“Nggak, malas. Ujung-ujungnya kamu aneh-aneh.”
“Ck, wajarlah. Ada wanita cantik di dekatku apalagi aku sayang banget sama dia, masa dianggurin.”
Akhirnya Zea mengalah dan duduk di sofa berhadapan dengan Arjuna. Pria itu berdecak dan menggerutu karena Zea tidak duduk di sampingnya.
“Kok jauh-jauhan begini sih. Sini dong,” ujar Arjuna sambil menepuk sofa disampingnya.
“Bicara sekarang atau pergi.”
“Kamu sekarang hobinya mengancam ya?”
“Karena kamu hobynya bikin orang kesal.”
__ADS_1
Arjuna terkekeh, kemudian berdehem untuk serius bicara dengan Zea.
“Besok aku akan temui Ayahmu lagi, melanjutkan masalah keseriusanku dan menentukan tanggal pernikahan kita. Resepsi bisa kita bicarakan berikutnya. Mau Papi setuju atau tidak kita akan menikah, urusan ancaman atau perjanjian kamu dengan Papi biar aku yang urus.”
“Loh … aku ‘kan belum jawab kalau aku mau menikah denganmu,” sahut Zea.
“Astaga Zea, aku harus tunggu sampai kapan? Aku nggak mau kamu balik lagi dengan Gopin atau dengan pria lain dan perlu kamu ingat, malam itu aku tidak menggunakan pengaman. Bagaimana kalau ternyata mereka berkembang dan kamu hamil?” tanya Arjuna.
Zea bergeming, memikirkan apa yang dikatakan Arjuna ada benarnya. Bagaimana kalau dirinya benar hamil karena kejadian malam itu.
“Paham ‘kan. Kamu hanya perlu duduk manis, semua biar aku yang atur. Cukup persiapkan jiwa dan ragamu untuk menjadi Nyonya Arjuna Kamil,” ungkap Arjuna.
“Tapi perusahaan Ayah taruhannya. Pak Abraham sudah bantu Ayah dan sebagai gantinya aku tidak boleh berhubungan denganmu.”
“Tenang saja, kalau Papi masih persoalkan hal itu … aku akan berikan perusahaanku untuknya. Kalaupun aku dicoret dari kartu keluarga apalagi tidak mendapatkan harta apapun, tidak masalah. Kamu bilang tidak masalah walaupun pekerjaanku hanya sebagai OB,” tutur Arjuna sambil menaik turunkan alisnya.
...***...
Sudah beberapa hari berlaku, Arjuna membuktikan ucapannya dengan mendatangi Ayah Zea dan memutuskan tanggal pernikahan mereka. Saat ini Arjuna, Zea dan Leo berada di ruang kerja Arjuna membicarakan project yang mangkir dari jadwal.
Zea dan Arjuna duduk berdampingan di sofa panjang sedangkan Leo pada sofa terpisah.
“Coba cek lagi rencana pelaksanaan dalam proposl dengan laporan tim operasional,” titah Leo pada Zea.
“Ini sudah oke, bukan di sini masalahnya,” seru Zea. Arjuna seakan tidak peduli dengan yang didiskusikan oleh mereka, memilih memainkan cepolan rambut Zea.
“Laporan keuangannya,” titah Leo.
Zea fokus dengan laptopnya mengabaikan Arjuna yang sibuk melepas cepolan rambut Zea,
“Astaga, Arjuna! Apa kamu ingin beralih profesi jadi stylist?” tanya Leo.
“Berisik, masalah begitu aja nggak ngerti. Tinggal audit dan rapat khusus, tapi sebelum itu sidak dulu ke lokasi,” tutur Arjuna. “Bukan begitu, sayang. Tumben kamu nggak bisa kasih ide cemerlang,” ejek Arjuna.
Zea mendengus kesal karena kelakuan Arjuna.
“Kalau kalian sudah menikah, kamu tidak perlu lagi bekerja. Bisa gila aku lihat begini tiap hari," tutur Arjuna pada Zea.
“Itu karena kamu iri,” sahut Arjuna.
Terdengar ketukan pintu lalu ….
“Haiii. Aku datang, wah kebetulan sekali pada ngumpul di sini,” ujar seorang wanita yang berjalan mendekat.
Zea mengernyitkan dahinya menduga-duga siapa yang datang, sedangkan Arjuna terlihat biasa saja masih meneruskan tingkahnya memainkan rambut Zea sambil sesekali membisikkan kata cinta. Berbeda dengan Leo yang langsung tegang karena sangat mengenal suara itu.
“Pawangmu sudah datang,” ucap Arjuna pada Leo.
__ADS_1
“Untuk apa dia pulang?” tanya Leo menatap Arjuna. “Ini pasti rencanamu,” ujarnya lagi.
Arjuna mengedikkan bahunya lalu menyandarkan punggungnya.
“Almira, akhirnya kamu pulang juga. Bagaimana rasanya keliling dunia?” tanya Arjuna.
“Hm, nggak asyik karena aku hanya sendirian. By the way, Kak Leo apa kabar? Makin ganteng aja deh,” goda Almira yang sudah duduk di samping Leo.
Almira adalah adik Arjuna yang memiliki cita-cita mengelilingi dunia, bermodalkan harta orangtuanya. Arjuna sengaja mendatangkan Almira sebagai rencana untuk mendapatkan restu dari Abraham. Walaupun, jika Abraham tidak merestui dia akan tetap menikahi Zea.
Almira menyukai Leo tapi pria itu abai, menurut Leo dia tidak sanggup membiayai hidup Almira.
“Kak Leo, kok diam aja sih, jadi makin imut tahu,” seru Almira.
Zea yang melihat Leo merengut kesal akhirnya terkekeh. Almira beralih memandang Arjuna dan Zea.
“Dia calon istri kak Juna?” tanya Almira.
“Juna?” tanya Zea. Akhirnya dia tahu dari mana nama Juna berasal.
“Iya dia calon istriku, cantik bukan?” tanya Arjuna sambil merangkul Zea.
“Jadi Juna memang panggilanmu?” tanya Zea.
“Bukan,” sahut Arjuna. “Itu ide Leo, ya dari panggilan Almira ke aku. udah jelas ‘kan di sini ada yang munafik juga. Lain di mulut lain di hati,” ejek Arjuna pada Leo yang masih membisu.
“Tunggu-tunggu,” sela Almira. “Memang ada apa dengan panggilan Juna?”
“Jawab?” titah Arjuna sambil menendang kaki Leo.
Leo hanya berdecak.
“Almira, kami sedang sibuk jadi ….”
“Sibuk apanya, Kak Juna aja dari tadi asyik ngunyeng-ngunyeng pacarnya,” sela Almira.
“Karena dia bucin. Wanita itu dulu dia ejek tapi sekarang sudah kayak lem dan perangko,” ungkap Leo.
Zea menoleh dan menatap sinis pada Arjuna.
“Kamu ngejek aku apa?”
“Hah. Nggak ada,” ucap Arjuna sambil menggelengkan kepalanya.
...*****...
__ADS_1