
“Makan siang dulu yuk, aku sudah lapar,” ajak Arjuna bermaksud meninggalkan Leo dan Almira. Apalagi Zea sempat bertanya masalah dirinya yang dulu kerap mengejek Zea.
“Tunggu dulu, urusan ini bagaimana?”
“Yang aku sampaikan tadi adalah solusi yang paling tepat. Tidak usah ragu, aku sudah berpengalaman untuk masalah seperti itu,” sahut Arjuna menjawab pertanyaan Leo.
“Bukan itu, tapi ini,” tunjuk Leo pada gadis yang duduk di sampingnya, apalagi gadis yang dimaksud semakin merapatkan duduknya.
“Nanti dulu, aku mau tahu kamu suka mengejek aku apa? Pak Leo jangan menutupi,” ujar Zea.
“Tidak ada sayang, aku tidak ejek kamu yang aneh-aneh kok,” elak Arjuna lalu beranjak berdiri. Semakin lama tetap di sana sangat tidak baik untuk hubungannya dengan Zea, wanita itu pasti akan terus mencecar Leo.
“Kak Leo, kita makan siang juga yuk,” ajak Almira. “Aku dari bandara langsung ke sini loh, demi Kak Leo.”
“Ayo,” ajak Arjuna menarik tangan Zea dan membiarkan Leo bersama Almira.
Nyatanya kedua pasangan itu malah berada dalam satu meja di sebuah restoran. Anak-anak Abraham terlihat bucin kepada pasangannya. Jika Arjuna terlihat bucin dan peduli pada Zea, Almira berlaku yang sama kepada Leo yang mana membuat Leo tidak nyaman.
Almira berusaha melayani Leo dengan menyodorkan minum saat Leo tersedak karena rayuannya termasuk juga menawarkan menambah pesanan melihat menu yang dinikmati Leo hampir habis. Begitupun dengan Arjuna yang ingin melayani Zea dengan menyuapinya, membuat Zea mencubit perut Arjuna agar menghentikan ulahnya.
“Ada apa dengan kalian berdua?” tanya Leo menatap Arjuna dan Almira bergantian. “Kamu belum menikah dengan Zea, tapi lihat kelakuanmu sudah seperti suami takut istri dan kamu,” ujar Leo pada Almira. “Jangan bersikap begini, aku tidak ingin Papimu menduga ada sesuatu diantara kita.”
Arjuna hanya berdecak mendengar penuturan Leo. Sedangkan Almira merespon dengan senyum mengembang di wajahnya sambil menatap Leo.
“Itu bagus dong Kak, jadi Papi bisa langsung menikahkan kita kalau tahu kita ada hubungan,” seru Almira.
“Kakakmu saja belum mendapatkan restu, dia berencana menikah tanpa restu dari Papi kalian.,” ungkap Leo membuat Almira terkejut.
__ADS_1
“Daebak, benarkah?” tanya Almira menoleh ke arah Arjuna. Namun, Arjuna malah asyik menyeka ujung bibir Zea yang meninggalkan sisa makanan dengan menggunakan tisu.
“Lanjutkan Kak, aku mendukungmu. Kalau kamu berhasil, aku dan Kak Leo akan mengikuti jejak kalian,” ungkap Almira sambil menngangkat kepalan tangannya seraya memberi semangat.
“Pak Leo anda benar, mereka benar-benar aneh,” ujar Zea.
...***...
Gavin berjalan menuju resepsionis.
“Selamat Siang, Pak. Ada yang bisa kami bantu?” tanya salah satu staf resepsionis.
“Siang, saya ingin bertemu Pak Omar.”
“Boleh kami tahu Bapak dari mana?”
Gavin menyempatkan diri mendatangi perusahaan Ayah Zea. Menunggu konfirmasi dari resepsionis terkait keinginannya untuk menemui Omar. Walaupun belum ada janji dan Gavin pernah bersikap tidak baik saat menjadi suami Zea, Omar tetap mengizinkan pria itu menemuinya.
“Silahkan Pak,” ujar sekretaris Omar membukakan pintu dan mempersilahkan masuk.
Omar menyambut kedatangan mantan menantunya.
“Apa kabar Yah?” sapa Gavi tidak merubah panggilannya.
“Baik, kamu sendiri bagaimana?” tanya Omar sambil mempersilahkan Gavin untuk duduk di sofa.
Setelah cukup berbasa-basi, Gavin langsung fokus dengan niatnya. Sedikit mengendurkan ikatan dasi dan berdehem untuk mengurangi kegugupannya.
__ADS_1
“Hm, maksud saya ke sini untuk membahas tentang Zea.”
“Zea, ada apa dengan dia. Apa dia sudah berbuat nakal dan ….”
“Oh, bukan Yah. Aku ke sini ingin menyampaikan niatku untuk kembali rujuk dengan Zea,” tutur Gavin dan ternyata hal itu langsung menjadi beban pikiran Omar. Bagaimana tidak, Zea sudah dilamar oleh Arjuna walaupun Omar ragu karena orangtua Arjuna tidak ikut serta saat memutuskan tanggal pernikahan dan saat ini Gavin mengajukan rujuk dengan Zea.
“Saya akui saya salah dan sudah menyakiti Zea tapi tolong berikan saya kesempatan lagi. Saya ingin serius dan mau berubah.”
Omar menghela nafas dan memijat dahinya.
“Gavin,” panggil Omar. “Ayah tidak bisa memutuskan hal ini, kamu harus tanya langsung pada Zea. Apalagi Zea sudah ada yang melamar.”
Raut wajah Gavin menunjukkan kekecewaan mendengar kenyataan kalau mantan istrinya sudah dilamar oleh pria lain. Ternyata dia kalah cepat.
“Siapa pria itu Yah? Apa saya mengenalnya?”
“Tentu saja kamu mengenalnya, tapi Ayah tidak bisa menyampaikannya. Tanyalah langsung pada Zea, dia yang berhak menjelaskan semua.”
Rencana Gavin ternyata gagal, walaupun Omar menyarankan pria itu untuk menemui Zea. Dia yakin Zea akan sulit ditemui, termasuk di kantor.
“Siapa yang sudah berhasil merebut hati Zea,” gumam Gavin. “Sebaiknya aku temui Zea.”
... *****...
__ADS_1