
Setelah pertemuan dengan Abraham, Zea merasa Tuhan sudah berlaku sangat adil karena selama ini dia hidup dengan kesedihan dan cobaan yang rasanya tidak kunjung usai.
Memenuhi dua syarat yang diminta oleh Abraham dapat mengembalikan keadaan perusahaan ayahnya seperti semula tentu saja membuat Zea luar biasa bahagia.
Senyum tidak lepas dari wajah Zea sejak tadi pagi, walaupun masih ada yang bergunjing tentang berita perceraiannya dengan Gavin termasuk isu kedekatan dengan Abraham, Zea sudah tidak peduli dengan hal itu. Yang jelas, Zea merasa sangat bahagia.
Drt Drt
Zea menatap layar ponsel di mana menunjukkan sang Ayah yang menghubunginya. Sempat ragu untuk menjawab karena dia belum mendapatkan kabar kapan perusahaan Ayahnya sudah mendapatkan donatur dan pemegang saham baru yang dijanjikan Abraham.
“Angkat nggak ya,” gumam Zea.
Ternyata Omar tidak menyerah, dia kembali menghubungi Zea. Akhirnya Zea menjawab panggilan tersebut.
“Halo.”
“Hm. Di mana kamu?” tanya Omar di ujung sana.
“Di kantor Yah. Bagaimana kabar Ayah?”
Terdengar helaan nafas Ayahnya. “Datang ke rumah malam ini, sudah lama kita tidak makan malam bersama dan ada yang ingin Ayah tanyakan,” ujar Omar.
“Oke.”
Zea meletakkan ponselnya dan mengingat kembali permintaan Abraham untuk tidak dekat apalagi menjalin hubungan dengan putranya.
“Kenal juga nggak, gimana mau dekat apalagi ada hubungan,” ujar Zea lirih.
“Cinta,” panggil Juna yang menyembulkan kepalanya dari balik pintu. “Aku ada tugas dari Leo, nanti makan siang kamu Ucup yang belikan. Malam kita ketemu ya, bye.”
Zea hanya tersenyum mendengar perintah Juna. Kebahagiaannya lebih lengkap dengan kehadiran Arjuna. Zea tertawa mengingat tingkahnya seperti remaja yang sedang merasakan cinta monyet.
“Please, Zea. Ingat umur." Hanya mendapatkan pesan cinta atau rayuan gombal dari Arjuna bisa menjadi moodbooster untuk Zea.
...***...
Zea masih berada di dalam mobil yang sudah terparkir di halaman rumah Omar. Menatap bangunan rumah yang berdiri kokoh di hadapannya, pernah merasakan bahagia menjadi bagian dari keluarga tapi saat ini rasa itu sudah tidak ada.
Tersadar dari lamunan saat ponselnya berdering, Zea pun menjawab panggilan yang ternyata dari Arjuna.
__ADS_1
“Kamu di mana? nggak ada di apartemen?” tanya Arjuna tanpa basa basi.
“Ya ampun, lupa kasih kabar kalau aku ke tempat Ayah. dia ajak makan malam dan katanya ada yang mau dibicarakan.”
“Kenapa nggak ngajak-ngajak sih, bisa sekalian kenalin aku dan minta restu.”
“Sembarangan, nggak ada ya. Aku bilang semua itu bisa kita bicarakan kalau ….”
“Resmi bercerai,” sela Arjuna.
“Itu paham, udah dulu ya. Kayaknya Ayah sudah tunggu aku.”
Panggilan pun berakhir dan Zea keluar dari mobilnya. Benar saja, Omar beserta anggota keluarga lainnya sudah mengelilingi meja makan.
“Duduklah!” titah Omar pada Zea.
Dea duduk di samping Dera berhadapan dengan Lea. Entah apa yang disampaikan oleh Omar yang jelas tidak ada sapaan menyudutkan Zea. Omar memulai makan malam dan tidak ada hal atau ucapan yang menyakitkan hati.
Namun, ketika para ART menyajikan makanan penutup. Omar membahas mengenai bantuan dari perusahaan di mana Zea bekerja.
“Saham-saham itu sudah dibeli oleh pihak Abraham termasuk donatur tetap untuk beberapa project yang tertahan karena kendala anggaran,” jelas Omar. “Entah apa yang sudah kamu lakukan, yang jelas saat ini perusahaan akan kembali normal. Ayah berharap kamu tidak melakukan hal yang tidak baik,” tutur Omar.
“Berarti Kak Zea cerdas dong Yah, bisa memanfaatkan kedekatannya dengan pria tua itu untuk bantu perusahaan Ayah dari pada memilih bersama OB. Melepaskan yang mapan untuk bersama yang gembel.”
“Biarkan saja Yah, kenapa harus ditegur. Aku sudah biasa mendapatkan ejekan. Sekalian aku di sini, ada yang perlu aku tekanan,” ungkap Zea membuat semua yang hadir menatapnya.
“Pernikahanku dengan Mas Gavin karena untuk perusahaan, untuk kalian. Termasuk kali ini, apa yang sudah diterima oleh perusahaan Ayah juga untuk kalian,” ujar Zea penuh tekanan. “Aku harap kalian lebih menghargai aku dengan apa yang sudah aku lakukan.”
“Zea, Ayah tidak minta kamu untuk melakukan hal yang memberatkan hidupmu,” sahut Omar.
“Aku tidak ingin hidup dalam penyesalan karena keterpurukan keluarga ini. Cukup dengan biarkan aku dengan hidupku jangan campuri urusanku,” seru Zea.
“Sombong, ini yang aku tidak suka dengan kamu Zea. Kamu terlalu pongah,” ujar Mirna.
“Terserah!” Zea bangkit dari duduknya, lalu pamit pada Omar dan melambaikan tangannya untuk Dera.
“Jadi simpanan pria tua aja bangga,” ejek Lea saat Zea sudah pergi.
“Lea jaga bicaramu.”
__ADS_1
...***...
Hari-hari berlalu dan Zea lewati dengan baik tanpa ada hal yang membuatnya emosi atau penuh tekanan. Selain kondisi perusahaan Omar semakin stabil dan pekerjaannya lancar juga hubungannya dengan Arjuna yang semakin dekat walaupun masih dirahasiakan ketika mereka di kantor.
Semakin disibukkan dengan perayaan ulang tahun perusahaan yang juga dijadwalkan di mana Abraham akan mengumumkan siapa penggantinya.
Zea mematut dirinya di cermin memastikan penampilannya tidak ada cela. Dengan dress one shoulders hitam di bawah lutut juga heels dan polesan make up membuat penampilannya terlihat sempurna.
“Oke, sudah cukup,” gumam Zea.
Menyadari dia akan sibuk di acara tersebut, Zea memilih dress yang bisa untuknya leluasa untuk melangkah termasuk alas kaki yang nyaman digunakan. Memasuki ballroom dimana acara berlangsung, Zea menatap sekeliling mencari Arjuna. Melihat hampir sebagian OB yang bekerja di perusahaan Abraham sudah berada di ballroom dengan segala macam perannya.
“Ibu Zea,” panggil Leo. Zea pun menoleh. “Ikut saya,” titahnya.
“Tapi saya harus mengecek penerima tamu, Pak. Nanti ….”
“Akan ada yang lain yang mengerjakan, aku sudah perintahkan Mery standby di sana.”
Zea mengekor langkah Leo, yang ternyata menemui Abraham. Hampir saja Zea lupa kalau malam ini akan disampaikan siapa CEO yang baru, dan Zea berharap bukan dirinya yang terpilih.
Abraham menghela nafasnya sebelum dia bicara. Leo dan Zea berdiri di depan Abraham yang duduk di sofa dengan nyaman.
“Zea, Leo … aku akan kabarkan siapa penggantiku saat sambutan nanti.”
Zea dan Leo menyimak apa yang Abraham sampaikan.
“Dan aku sudah memutuskan mengangkat putraku sebagai CEO yang baru,” jelas Abraham. Tentu saja hal ini membuat Zea bernafas lega bahkan ingin berteriak karena bahagia. Berbeda dengan Leo yang terlihat memasang wajah datar dan membungkam mulutnya.
“Tapi kamu jangan senang dulu. Tidak terpilih bukan berarti kamu bebas hengkang dari perusahaanku. Sesuai dengan syarat yang sudah kita sepakati, kamu tetap membantu perusahaanku. Mengabdi untuk menjadi asisten putraku.”
Leo berdecak pelan, sudah bisa membayangkan bagaimana suasana yang tercipta ketika Arjuna, Zea dan dirinya berkolaborasi. Namun, bukan itu saja yang dia khawatirkan melainkan hubungan Zea dan Arjuna.
“Baik Pak, saya akan penuhi janji saya dan akan berusaha semaksimal mungkin mendampingi putra Bapak memimpin perusahaan,” ungkap Zea dengan yakin. Senyum terbingkai di wajah cantiknya, hati dan perasaannya luar biasa bahagia.
“Masuklah!” titah Abraham.
Terdengar pintu VIP Room yang dibuka serta suara langkah sepatu.
“Arjuna Kamil, putraku yang akan menggantikanku sebagai CEO,” ujar Abraham membuat Zea menoleh ke belakang di mana seorang pria sedang berjalan mendekat ke arah mereka.
__ADS_1
Senyum di wajah Zea perlahan hilang dan dahinya berkerut memastikan pandangan dan penglihatannya. Pria yang disebut Abraham sebagai putranya, pria yang bernama Arjuna Kamil adalah pria yang berwajah mirip dengan pria yang saat ini mengisi hatinya.
“Juna,” ucap Zea lirih.