Makin Benci, Makin Cinta

Makin Benci, Makin Cinta
Marahnya Arjuna


__ADS_3

Dua Bab Menjelang Tamat




Kedua mempelai sedang berbahagia di atas pelaminan, siapa lagi kalau bukan Leo dan Almira. Bukan hanya mereka pasangan yang berbahagia, Arjuna dan Zea pun tidak luput dari kebahagiaan karena malam ini resepsi mereka juga.



Namun, pasangan yang ini berbeda. Arjuna yang sibuk berkeliling menyapa para tamu yang merupakan rekan bisnisnya juga kolega Abraham sesekali menoleh ke arah Zea yang sudah kelelahan dan sedang duduk menikmati beberapa menu sajian.



“Ibu Zea, sudah saya duga sebelumnya kalau kalian itu memang cocok.” Ucup yang hadir sebagai undangan ikut duduk satu meja dengan Zea.



“Masa sih?” Zea tersenyum mendengar pernyataan Ucup.



“Lah bener toh.”



“Iya, kita nggak nyangka kalau Mas Juna taunya Pak Arjuna dan bisa berjodoh dengan Ibu Zea. Ibu beruntung banget sih,” ungkap Nia.



“Aku yang beruntung mendapatkan dia.” Arjuna sudah berdiri di belakang kursi di mana Zea duduk, meletakan tangan pada pundak Zea lalu mendaratkan bibir pada kening wanita itu.



“*Uhhh*, kalian *so sweet banget*,” ujar Nola.



“Eh tahan Jun, nanti aja kalau mau adegan ninu ninu.”



“Lo panggil apa tadi?” tanya Arjuna pada Ucup.



“Eh, keceplosan syja. Maksudnya Pak Arjuna yang ganteng melebihi kegantengan Ucup.”



Zea terkekeh, “Kayaknya aku panggil kamu Juna aja ya, lebih romantis dan mengingatkan masa lalu,” tutur Zea.



“Yakin Bu mau ingat masa lalu? Waktu pak Arjuna masih gotong-gotong galon dan digodain sama Mbak Nia dan Mbak Nola?”



“Iya ya, masa lalu kamu di benak aku seperti yang dibilang Ucup.”



“Tapi tetep keren dong, walaupun gotong galon.”



“Masih lama ya?” tanya Zea.



“Kenapa, udah nggak sabar mau ke kamar?” goda Arjuna yang langsung dapat sorakan dari Ucup dan Nia.



“Aku sudah lelah, kaki rasanya pegal.”



“Sabar, nggak lama lagi kok. Nanti aku pijat deh,” seru Arjuna sambil mengerlingkan senyuman.



Sedangkan Zea malah mendengus mendengar usulan Arjuna. Pijat yang dimaksud pasti akan ke mana-mana



Waktu resepsi sudah selesai, hampir semua tamu sudah pulang dan hanya bersisa keluarga besar saja. Arjuna sudah menghampiri Zea yang terlihat sudah lelah.



“Kak Leo, ayo kita ke kamar.” Almira sudah berdiri bahkan menarik tangan Leo.



“Sebentar, aku harus pastikan beberapa urusan agar kakak tercinta ini tidak mengganggu kita.”

__ADS_1



“Sudahlah Pak Leo, cepat ajak ngamar. Memang nggak penasaran gitu,” canda Zea.



“Aku juga mau ajak kamu ke kamar, nggak berhenti penasaran aku,” sahut Arjuna sambil melambaikan tangannya pada Leo dan Almira seakan mengusir keduanya.



“*My queen*, ayo kita istirahat.” Arjuna mengulurkan tangannya pada Zea.



“Beneran istirahat ya?”



“Tergantung situasional di kamar, kadang kalau sedang berdua aku suka khilaf.”



Zea berdecak lalu menyambut uluran tangan Arjuna. Zea memeluk lengan Arjuna, berjalan pelan dengan senyum mengembang di wajahnya.



“Sayang.”



“Hm,” sahut Zea saat keduanya berada di lift.



“Aku nggak nyangka kita bisa sampai di titik ini, perjuangan kita nggak mudah. Apalagi saat itu kamu masih istri orang.”



“Saat sudah janda malah ditinggalkan.”



“Janda rasa peraawan,” bisik Arjuna.



“Wow.” Zea takjub dengan kamar mereka. Kamar yang dikhususkan untuk pasangan pengantin baru. “Ini sih kamar untuk pengantin baru.”




“Aku mau mandi, rasanya gerah dan panas.”



“Oke, mau bareng?”



“Nggak, bahaya kalau kamu minta macem-macam,” jawab Zea.



“Hanya satu macam.”



...\*\*\*...



“Kok bisa? Gimana ceritanya sampai begini?” Arjuna bertanya pada supir dan asisten rumah tangga yang membawa Zea ke rumah sakit.



Arjuna datang bersama Leo langsung dari kantor, setelah mendapat kabar Zea berada di UGD. Almira dalam perjalanan ke rumah sakit, dari kediaman Leo. Setelah menikah dia ikut Leo tinggal di rumah pria  yang sudah menjadi suaminya.



“Non Zea bilang mau ikut masak, saya sudah tawarkan saya sendiri yang masak tapi beliau menolak. Katanya jenuh di rumah terus, sayuran yang dicuci sepertinya meneteskan air dan diinjak Non Zea lalu terpeleset dan jatuh.”



Arjuna menghela nafasnya lalu menyugar rambutnya. Bagaimana dia tidak khawatir, kehamilan Zea yang sudah hampir delapan bulan dan perut wanita itu terlihat begitu membola kini diketahui jatuh dan belum ada informasi dari dokter bagaimana kondisi Zea dan kehamilannya.



“Tenang dulu, jangan terlalu panik dan emosi. Ini kecelakaan, kamu nggak bisa salahkan siapapun termasuk Zea.”



“Tapi … kita udah pernah kehilangan, gimana kalau ….”


__ADS_1


“Belum tentu. Zea masih diperiksa dokter, jangan menyimpulkan sesuatu yang kita sendiri belum tahu.”



Arjuna duduk pada kursi stainless di depan UGD. Berharap tidak ada hal buruk yang terjadi pada istri dan anaknya.



“Kak Zea gimana?” tanya Almira yang baru datang.



“Masih dalam pemeriksaan. Kamu juga duduk,” titah Leo pada Almira. Saat ini pasangan itu juga sedang berbahagia karena Almira sedang hamil muda.



“Keluarga Ibu Zealia.”



“Saya suaminya,” ujar Arjuna.



“Mari ikut saya,” ajak perawat itu. Leo, Almira dan pegawai rumah Arjuna masih menunggu.



“Bagaimana kondisi istri saya Dok?” tanya Arjuna sudah tidak sabar dengan keadaan Zea.



“Duduk dulu, Pak.” Arjuna pun duduk tepat di depan meja dokter. “Ibu Zea datang setelah mengalami jatuh duduk. kondisi kehamilan kurang lebih tiga puluh dua minggu,” tutur dokter sambil membuka rekam medik milik Zea. “Setelah dilakukan pemeriksaan termasuk USG, tidak ada masalah dengan kehamilannya tapi Ibu Zea masih terlihat shock.”



Arjuna lalu bersandar dan menghela nafas lega.



“Lebih baik dibawa pulang dan istirahat di rumah, tapi kalau nanti ada keluhan sakit atau bahkan ada cairan yang keluar segera dibawa kembali ke sini,” titah dokter.



Arjuna menemui Zea yang masih berada di bangsal UGD. Terlihat raut wajah khawatir dan rasa takut dari Zea. Arjuna tidak banyak bicara, khawatir kalau dia bicara malah menyakiti perasaan Zea.



“Sayang, aku ….”



“Kita pulang, dokter mengijinkan kamu pulang.”



Arjuna sendiri yang mendorong kursi roda membawa Zea ke mobil. Almira dan Leo juga mengantar sampai mobil, lega setelah mendengar tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan Zea juga kehamilannya.



“Juna, maafkan aku.” Zea menatap Arjuna yang masih bungkam, padahal mereka sudah berada di mobil.



Arjuna menghela nafasnya. 



“Aku tidak sengaja dan ….”



“Zea, aku melarang ini itu demi kebaikanmu juga anak kita. Bukan karena aku mengekang kebebasanmu.”



“Iya, maafkan aku. Lain kali aku akan lebih hati-hati,” tutur Zea.



“Hanya sebulan lagi, kalau belum terlahir aku lebih khawatir. Khawatir dengan kalian berdua.”



Zea terdiam, kedua matanya sudah mengembun. Menyesal karena tidak hati-hati, walaupun semuanya baik-baik saja.



“Sudahlah, aku bukan marah denganmu. Aku akan marah pada diriku sendiri kalau sesuatu terjadi denganmu atau anak kita.”



 \=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_1


![](contribute/fiction/6374616/markdown/18280158/1679665135788.jpg)


__ADS_2