
“Sekarang, kamu sudah jadi milikku. Tidak ada lagi pengganggu dan kita akan ulangi lagi adegan malam itu tapi dengan rasa dan suasana yang berbeda,” tutur Arjuna.
Zea hanya diam memandang suaminya yang sudah semakin dekat ke arahnya dengan tatapan nyalang. Dia menyunggingkan senyum saat menghirup aroma wangi tubuh Arjuna, siapa pula wanita yang tidak akan tertarik dengan pria yang sudah menjadi suaminya. Bahkan Zea melihat ketertarikan pada mata Bella saat menatap Arjuna.
“Apa kita akan lakukan sekarang? Ini masih siang,” ujar Zea.
“Harus, harus sekarang. Aku sudah lama bersabar, rasanya pedangku sudah siap menghunus dan menebas musuh.”
Zea terkekeh mendengar perumpamaan Arjuna.
“Apa kamu menikahiku hanya untuk untuk … ya kamu tahulah maksudku.”
“Tentu saja tidak. Penyatuan diri itu bonus, tujuannya adalah masa depan kita.”
Zea kembali tersenyum, tangannya sudah berada di wajah Arjuna. Membelai pipi pria itu lalu menggunakan telunjuk untuk menelusuri garis wajah mulai dari kening turun ke hidung melewati bibir dan berakhir di dagu.
Arjuna yang sudah gemas dengan Zea langsung mendekatkan wajahnya dan mempertemukan bibir mereka. Awalnya hanya kecuupan kelamaan berubah menjadi pagutan yang cukup panas dan liar. Perlahan Arjuna mendorong tubuh Zea hingga merebah dan tidak melepaskan pagutannya. Zea yang kewalahan pun mendorong tubuh Arjuna agar memberikannya kesempatan untuk bernafas.
“Kamu bisa membunuhku,” keluh Zea.
“Tidak ada manusia mati karena bercium*n.”
Arjuna dengan lihai melepaskan satu persatu penutup tubuh Zea hingga menampilkan tubuh polos Zea, benar-benar pahatan sempurna dari seorang wanita.
Tangan Arjuna meremmat lembut bagian depan tubuh Zea sambil tersenyum bangga karena mulai hari ini setiap sudut tubuh itu akan dia telusuri tanpa celah.
Tidak sabar untuk berbuat lebih jauh, Arjuna pun melepaskan sendiri penutup tubuhnya dan membuat Zea tercengang menyaksikan sempurnanya tubuh Arjuna dan benar saja, pedang sakti pria itu sudah siap menghunus.
Arjuna merangkak ke atas tubuh Zea dan kembali melummat bibir wanita itu. Bahkan tangan Arjuna mulai bergerilya menyentuh area sensitif tubuh Zea dan mampu membuat wanita itu mendessah pelan. Arjuna melepaskan pagutannya dan menciumi garis tubuh Zea mulai dari ceruk leher, turun ke dada terus ke perut dan berhenti tepat di depan area yang akan diajak berperang.
“Ahhh ….” dessah Zea saat Arjuna membenamkan indra perasanya dan bermain di sana. Zea dibuat serasa melayang dengan ulah Arjuna yang cukup berpengalaman, bahkan rasanya wanita itu menginginkan lebih dari yang Arjuna lakukan.
“Juna,” lirih Zea sambil meremmas rambut pria itu.
“Hm.”
__ADS_1
Zea terasa semakin gila dengan ulah Arjuna.
“Arjuna … please,” rengek Zea.
“Kamu mau?” tanya Arjuna sambil tersenyum bangga setelah kembali memposisikan tubuhnya di atas tubuh Zea.
Zea hanya mengangguk pelan dengan mata terpejam.
“As your wish.” Pedang itu pun menghujam walaupun sudah pernah menghunus sebelumnya, tapi Arjuna harus menghentak dua kali agar benar-benar terbenam sempurna.
Gerakan tubuh Arjuna yang awalnya pelan lalu berubah ritmenya menjadi semakin cepat dan membuat suasana semakin panas, apalagi kedua tangan Arjuna tidak lepas dari dua gunung kembar Zea yang terlihat membusung.
Dessahan dan erangan Zea membuat adrenalin Arjuna semakin terpacu untuk menaikan tempo gerakannya.
“Ju … na,” lirih Zea sambil mencengkram bahu pria itu.
Sepertinya Zea sudah mendapatkan kenikmatannya. Arjuna menghentikan gerakan seraya memberikan kesempatan pada istrinya menikmati sensasi pelepasan karena sudah mendapatkan kenikmatan surga dunia.
Keringat sudah membasahi keduanya, nafas pun sudah memburu tapi Arjuna belum menunjukkan dia akan sampai pada puncak kenikmatan. Segera merubah posisinya dengan mengangkat tubuh Zea menjadi di atasnya.
“Ayo sayang, begini akan semakin nikmat.”
Sesuai dengan ucapannya, Arjuna tidak melepaskan Zea. Berkali-kali wanita membuncahkan rasa dan berakhir kelelahan. Arjuna yang sudah merebah di samping Zea pun mengatur nafasnya yang masih memburu.
Entah berapa jam sudah mereka beraksi dengan berbagai macam gaya dan hanya terjeda beberapa menit untuk kembali memulai aksinya.
Arjuna menarik selimut dengan menggunakan kakinya, lalu menyelimuti tubuh polos Zea. Dia tidak ingin sesuatu di bawah sana kembali bereaksi melihat kemolekan tubuh halal wanitanya yang saat ini sudah terlelap karena kelelahan.
“Cantik, terima kasih karena sudah menjadi milikku sepenuhnya,” bisik Arjuna sambil menyeka keringat di dahi Zea.
...***...
Zea mengerucutkan bibirnya menatap Arjuna yang sedang tersenyum puas. Saat ini sudah berganti hari dan Zea baru saja membersihkan diri setelah bangun terlambat, tentu saja karena ulah Arjuna. Bahkan dia tidak sanggup ke luar kamar untuk sarapan.
“Makan!” titah Arjuna. “Atau kamu yang aku makan,” ancamnya.
__ADS_1
“Nanti malam aku kerja tapi kalau kayak gini, gimana ceritanya,” keluh Zea.
Sejak bangun tadi pagi, wanita itu mengeluhkan tubuhnya yang remuk redam dan bagian bawah tubuhnya yang terasa sakit dan perih. Walaupun bukan pertama kali, tapi Arjuna melakukanya cukup lama membuat tubuh Zea merespon seakan baru saja melakukan untuk pertama kali.
“Nanti juga hilang sakitnya. Habis ini aku ke apotek deh cari obat untuk itu kamu,” ujar Arjuna seakan tanpa beban.
“Udah dibilang sakit, aku lagi mandi masih aja dikerjain ,” keluh Arjuna lagi.
“Maklum sayang, sore ini aku kembali ke Jakarta dan kita bisa bertemu lagi beberapa hari ke depan. Aku perlu charge tenaga dan semangat dong.”
Zea hanya berdecak mendengar pernyataan Arjuna.
“Kamu ingin resepsi kita bagaimana?” tanya Arjuna setelah menyesap kopinya dan meletakan cangkir di atas meja.
Zea hanya mengedikkan bahu, belum ada gambaran akan merencanakan resepsi pernikahannya seperti apa.
“Yang penting daftarkan dulu pernikahan ini, aku nggak mau status kita hanya menikah siri,” ujar Zea.
“Tentu saja, hal itu tidak perlu kamu khawatirkan. Leo akan mengurus semuanya. Ingat, setelah dua bulan dan kontrak berakhir, kita akan tinggal di Jakarta.”
“Tapi aku sempat berpikir untuk tinggal di sini, bahkan sebelum ini aku sedang cari rumah atau villa sederhana yang bisa aku tempati untuk ….”
“Tidak, kita tetap di Jakarta. Kita bisa ke sini untuk liburan atau jika dibutuhkan,” titah Arjuna lagi. Zea tidak menolak, bagaimanapun saat ini Arjuna adalah suaminya. Apalagi perintah Arjuna bukan hal prinsip atau melanggar norma.
Beberapa jam kemudian, tepatnya saat Zea sudah siap bertugas dengan jadwal shift malam. Setelah drama sore tadi di mana Arjuna yang enggan melepaskan pelukan ketika akan kembali ke Jakarta.
Zea berdiri di balik meja resepsionis mendengarkan laporan dari petugas yang berganti shift. Sebenarnya dia ingin istirahat karena tubuhnya masih tidak nyaman akibat ulah Arjuna tapi tanggung jawab pekerjaan membuatnya siap sedia.
“Zea,” panggil seseorang.
Zea pun menoleh dan terkejut dengan sosok yang sudah berdiri tidak jauh dari meja resepsionis.
“Mas Gavin,” ujarnya.
“Bisa kita bicara!”
__ADS_1