
Sehari sebelumnya.
“Pastikan semuanya berjalan lancar,” titah Arjuna.
Almira cemberut mendengar rencana Arjuna.
“Rencananya ke sini untuk hunting tempat aku menikah, kenapa malah jadi urus Kak Juna sih,” keluh Almira.
“Sudahlah, kita ikut saja. Kalau Kakakmu sudah klik lagi sama pawangnya, semua akan mudah. Tidak seperti sekarang, terlalu menyebalkan,” ejek Leo.
“Halah, jangan macam-macam atau aku tidak berikan restu,” ancam Arjuna. “Matikan ponsel kalian, aku akan temui Zea sekarang.”
“Terus, Ayahnya Kak Zea gimana?”
“Biar dia istirahat. Besok pagi ajak dia ke kamarku,” ujar Arjuna sambil mengerlingkan matanya.
“Semoga aja sukses, kalau ternyata berantakan aku angkat tangan ya,” ungkap Leo walaupun dia sudah mengikuti apa yang diperintahkan oleh Arjuna.
...***...
“Arjuna, jangan bercanda,” ujar Zea mendengar usul pria itu yang ingin menikah dengannya bahkan saat ini juga.
“Aku serius.”
“Menikah bukan main-main, aku sudah pernah gagal,” ungkap Zea. Mengingat pernikahannya dengan Gavin yang harus kandas dan rencana pernikahan dengan Arjuna yang juga gagal dan saat ini pria itu malah mengatakan lagi akan menikah dengannya bahkan di depan Ayah Zea.
“Justru itu aku menghadirkan Ayahmu karena aku benar-benar serius.”
“Bisa kamu buktikan ucapanmu?” tanya Omar.
“Tentu saja. Kalau untuk menikahi Zea secara agama aku siap, untuk catatan secara negara biar nanti di urus Leo.”
“Baiklah, aku terima. Zea bersiaplah!” titah Omar pada putrinya.
“Tapi Yah ….”
“Tidak usah membantah, Ayah tidak ingin kamu salah langkah. Kamu masih mencintai dia ‘kan?”
Arjuna menatap Zea menunggu jawaban dari mulut wanita yang sangat dia cintai.
“Harus dijawab Yah?”
“Harus, aku sudah menunggu,” seru Arjuna.
“Aku benci kamu,” ucap Zea.
“Aku cinta kamu,” sahut Arjuna sambil terkekeh.
Tidak sampai dua jam, semua sudah siap. Arjuna memang benar-benar merencanakan dengan matang. Pemuka agama atau penghulu sudah di datangkan ke kamarnya. Zea sudah mengenakan kebaya putih sederhana dan Arjuna mengenakan setelan jas dengan dalaman kemeja putih tanpa dasi.
Leo akan menjadi saksi pernikahan bersama dengan salah satu atasan Zea yang usianya hampir sama dengan Omar.
“Sudah siap?” tanya penghulu.
__ADS_1
“Siap dong,” jawab Arjuna yang direspon dengan gelengan kepala oleh Leo serta Ayah Zea.
“Mas kawinnya sudah disiapkan?”
Arjuna mengeluarkan kotak beludru dari kantong jas dan membukanya, sebuah cincin berlian sederhana tapi terlihat elegan.
Arjuna duduk berhadapan dengan Ayah Zea, sedangkan penghulu tepat di samping Ayah Zea. Bahkan Bella sekretaris Arjuna pun ikut hadir.
“Mbak Zea bersedia menikah dengan Mas Arjuna?” tanya penghulu.
Semua yang hadir sangat menunggu dan menantikan jawaban Zea. Almira dan Zea duduk tidak jauh di belakang Arjuna.
“Zea,” tegur Omar agar putrinya segera menjawab.
“Iya, saya bersedia,” jawab Zea sambil menunduk.
“Yesss,” pekik Arjuna.
“Semua syarat sudah lengkap, ayo kita mulai.”
Arjuna dan Omar sudah berjabat tangan. Keduanya bergantian mengucapkan lafaz ijab dan qobul yang di jawab “SAH” oleh yang menyaksikan momen tersebut. Penghulu langsung membacakan doa selepas akad.
Almira sudah siap dengan ponselnya, ketika Arjuna menyematkan cincin di jari manis Zea. Zea memandang cincinnya lalu beralih menatap wajah Arjuna.
“Cium tangan suamimu,” titah Omar yang langsung diikuti oleh Zea. Arjuna langsung menangkup wajah Zea dan mendaratkan bibirnya di kening wanita yang sudah sah menjadi istrinya.
“Aku mencintaimu Zea, sangat mencintaimu,” bisik Arjuna.
“Udah mesra-mesra nya nanti aja. Ayo Pak, saya antar,” ujar Leo kepada penghulu dan saksi pernikahan kedua insan itu.
“Kenapa buru-buru, Yah? Aku masih kangen,” keluh Zea.
“Ini bukan waktunya Ayah mengunjungimu. Pak Abraham sudah baik hati dengan mempercayakan sebagian hartanya sebagai modal perusahaan. Jadi Ayah harus berusaha sebaik mungkin untuk menjalan usaha ini. Arjuna, Zea sudah menjadi tanggung jawabmu. Jangan kecewakan Ayah, bahagiakan dia. Selama ini Ayah hanya menjadi beban untuknya tapi denganmu Ayah percaya Zea akan menjadi ratu.”
“Siap, jangan khawatir. Semua aman, selama Arjuna sudah memiliki Cinta,” jawab pria itu dengan bangga.
Zea duduk di tepi ranjang dan Arjuna menempati di sampingnya setelah menutup pintu melepas kepergian ayah mertuanya.
“Kenapa?” tanya Arjuna yang melihat Zea melamun.
“Ini serius kita sudah menikah?”
“Hm.”
Arjuna memeluk Zea dari samping dan menempelkan kening pada bahu istrinya.
“Aku menantikan ini sudah lama, walaupun yang aku harapkan tidak seperti ini tapi aku sudah lega karena kamu sudah menjadi milikku seutuhnya dan sah.”
“Benarkah?”
“Hm.”
“Tapi selama ini, kamu nggak ada cari aku?”
__ADS_1
“Tidak mencari bukan berarti berhenti mencinta. Sore ini, Leo dan yang lainnya pulang ke Jakarta. Mungkin kita besok ya, atau kamu perlu waktu lagi untuk persiapkan segala sesuatunya?” tanya Arjuna yang saat ini menempelkan dagu pada bahu Zea.
“Maksudnya kita pulang ke Jakarta?”
“Iya.”
“Tapi kontrak kerjaku masih dua bulan lagi,” sahut Zea.
“Tidak bisa dibatalkan? Tidak mungkin kita malah LDR, aku nggak akan sanggup,” keluh Arjuna yang sudah menegakkan tubuhnya karena yang mereka bahas cukup serius.
“Tidak bisa begitu, hotel butuh waktu untuk mencari penggantiku. Hanya dua bulan,” cetus Zea.
“Lalu kita gimana?”
“Kamu bisa ke sini ketika weekend, Jakarta – Bali hanya dua jam. Dari bandara ke sini, setengah jam. Hanya dua bulan kok,” ujar Zea sambil tersenyum.
“Kalau aku kangen?”
“Setahun kemarin kamu sabar, masa dua bulan nggak bisa,” ujar Zea. “Aku hanya cuti untuk hari ini dan besok aku shift malam. Jadi kita ada waktu … hmmpp.”
Arjuna tidak pakai aba-aba langsung melahap bibir Zea yang sejak tadi bicara. Pagutan itu awalnya lembut tapi perlahan berubah semakin menuntut dan sedikit kasar. Zea bahkan sulit mengimbangi dan terengah ketika Arjuna mengurai pagutannya.
Baru saja Arjuna akan melanjutkan permainan bibir mereka, terdengar ketukan pintu.
“Argh. Mengganggu saja,” keluh Arjuna.
Zea hanya tersenyum simpul.
“Kamu diam, sampai besok siang kamu tidak akan aku lepaskan,” ancam Arjuna yang dibalas Zea dengan menjulurkan lidahnya.
Arjuna membuka pintu dan mengumpat saat Almira menerobos masuk.
“Kak Zea, aku serius ingin menikah di sini,” ujar gadis itu. Leo mengekor langkah Almira diiringi Arjuna yang terus mengoceh karena merasa terganggu dengan kehadiran adik dan rekan kerjanya.
“Kapan? Aku belum masukan ke jadwal booking ” sahut Zea.
“Kalian bicarakan itu nanti, pergi jangan ganggu aku,” usir Arjuna.
“Kak Juna apa sih, aku belum selesai.”
“Ini pasti ulah lo ‘kan. Sengaja mengacaukan waktu gue dengan Zea. Senjata gue udah siap perang, Leo. Masa lo gak ngerti juga,” keluh Arjuna.
Leo terbahak mendengar pernyataan Arjuna.
“Almira, ayo kita pergi. Dari pada ketinggalan pesawat nanti kakakmu tambah gila,” ajak Leo menarik tangan Almira agar ikut pergi.
“Kita bicara lagi nanti ya kak,” ujar Almira pada Zea.
“Iya, nanti. Kalau gue udah beres.”
Arjuna memastikan kedua pengganggu sudah meninggalkan kamar lalu menutup pintu dan mengunci kembali.
“It’s show time,” teriak Arjuna.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=