
Arjuna menatap Zea setelah menyimak video yang ada pada tablet Leo. Sedangkan Zea hanya diam, sepertinya dia sudah lelah dan bosan menanggapi berita miring mengenai dirinya.
Ze merasa masalah lain dalam hidupnya lebih berat dibandingkan dia harus sedih hanya karena video pemberitaan yang lagi-lagi memojokkan dirinya.
Dalam video tersebut menyudutkan Zea karena bercerai dari Gavin Mahendra berselingkuh dengan Abraham bahkan saat ini mengencani juga Arjuna putra dari Abraham. Dibuktikan dengan foto-foto kebersamaan Arjuna dan Zea. Entah dari mana, foto-foto tersebut di dapat.
“Zea ….”
“I’m okay, itu bukan masalah. Aku sudah biasa diisukan begitu,” sahut Zea.
“Arjuna perusahaan ini sekarang tanggung jawabmu. Aku tidak tahu apakah ini akan berimbas pada perusahaan, tapi tolong fokus dulu. Aku paham Zea sekarang prioritasmu, tapi putuskan sesuatu atau lakukan sesuatu yang tidak merugikan, orang lain dan juga Zea. Semakin kamu berulah, Pak Abraham akan semakin menekan Zea.”
“Ini hidupku Leo jadi ….”
“Menjadi CEO juga hidupmu, jadi jangan egois.”
“Yang dikatakan Pak Leo benar, silahkan fokus pada tugas Bapak. Saya permisi masih ada pekerjaan yang harus saya kerjakan,” pamit Zea.
“Zea ....”
“Biarkan dia,” ujar Leo.
“Nggak, gue tahu dia pasti sakit lihat berita tadi. Apa nggak bisa lo bayar orang untuk menghapus semua berita itu,” titah Arjuna.
“Semakin kita merespon hal ini, orang semakin percaya dengan isi berita itu dan ini hanya akan menambah Zea terpojok. Sudahlah Arjuna, fokuskan sementara urusanmu dengan perusahaan dan batalkan rencana perjodohan dengan Mauren. Untuk langkah pertama, lakukan dulu dua hal itu,” jelas Leo.
Arjuna mengusap kasar wajahnya setelah Leo meninggalkan ruang kerjanya. Mengeluarkan ponsel yang di simpan dalam saku jasnya, lalu berusaha menghubungi seseorang.
“Halo,” ujar seseorang di ujung telepon.
__ADS_1
“Almira, sebaiknya kamu pulang. Leo jatuh cinta dengan wanita lain, kamu tidak akan mendapatkan tempat di hatinya.”
“Hah, jangan bercanda Kak?” tanya wanita bernama Almira.
“Pulang dan lihat sendiri.”
Arjuna mengakhiri panggilan lalu mencari kontak lain untuk dia hubungi.
“Halo, sayang. Aku tahu kamu akhirnya sadar kalau Zea bukan yang tepat untukmu,” tutur Mauren melalui sambungan telepon.
Arjuna berdecak sebelum dia bicara.
“Ada hal yang ingin aku bicarakan,” ujar Arjuna
“Wah, pasti tentang kita ? Ih, jadi nggak sabar,” jawab Mauren di ujung telepon.
Arjuna menyebutkan tempat dan waktu mereka untuk bertemu kemudian mengakhiri panggilan.
Arjuna kemudian berkonsentrasi lagi dengan jabatannya. Bersikap profesional ketika dia memanggil Zea untuk membahas dokumen yang harus di approve. Begitu pun Zea yang bersikap sama, bahkan sepintas tidak akan terlihat kalau kedua orang itu memiliki hubungan.
Menjelang sore, Zea dikejutkan dengan kehadiran Mauren yang sudah berdiri di depan mejanya. Dengan gaya centil dan pakaian yang cukup seksi, wanita itu melipat kedua tangan di dada sambil menatap Zea.
“Gue udah bilang, jangan dekat dengan Arjuna. Karena dia milik gue, lo hanya sampah,” ujar Mauren sambil menunjuk Zea. “Apa yang lagi viral itu bener, lo lepasin Kak Gavin Cuma jadi lon te tapi nggak berhasil dengan yang manapun. Bersyukur banget Kak Gavin lepasin lo,” tutur wanita itu.
“Maaf, saya tidak paham anda sedang membahas apa,” sahut Zea.
“Terserah,” ujar Mauren berjalan menuju pintu.
“Pak Arjuna tidak bisa ditemui, kecuali ….”
__ADS_1
“Dia yang hubungi gue untuk ke sini, sepertinya dia sadar kalau lo nggak pantas buat dia. Jangan ngintip ya, Arjuna pasti bakalan gemes sama aku dan kita … ahhh jadi nggak sabar deh,” seru Mauren lalu melambaikan tangannya sebelum membuka pintu ruang kerja Arjuna.
Zea menarik nafasnya dan kembali duduk setelah melihat Mauren sudah masuk.
“Jadi pengen cepat pulang, udah muak dengan drama yang aneh-aneh, gumam Zea.
Sedangkan di dalam, Arjuna mengira yang masuk ke dalam ruangannya adalah Zea. “Bawakan berkas yang tadi, proposal project B. Entah aku yang salah atau memang ada kesalahan,” titah Arjuna sambil menatap layar komputernya.
“Hai sayang,” sapa Mauren lalu mencium pipi Arjuna.
Arjuna terkejut lalu menggeser kursinya sambil menghapus asal jejak di pipinya dengan tangan.
“Kamu ngapain ke sini?”
“Arjuna, kamu nggak romantis banget deh. Aku tahu kamu sedang butuh dukungan karena pujaan hati kamu ternyata busuk, aku bisa kok nenangin kamu. Sini, come to Mama.”
“Kita bertemu nanti malam bukan sekarang, sebaiknya kamu pergi!”
Mauren bukannya pergi malah semakin mendekat bahkan duduk dipangkuan Arjuna, bersamaan dengan Zea yang masuk memegang sebuah map.
“Zea,” ucap Arjuna sambil mendorong tubuh Mauren.
“Ih sayang, jangan gitu dong. Pegang-pegang terus,” tutur Mauren.
“Mauren bangunlah, atau aku hempas.”
“Maaf, sepertinya saya mengganggu.” Zea pun berbalik dan meninggalkan pemandangan yang menyesal dia harus saksikan.
\=\=\=\=
__ADS_1
Yuhuuu, mampir yesss ke karya teman aku, ceritanya seru lohhhh