
Arjuna berdiri masih menatap Zea yang mengalihkan pandangan ke arah lain.
“Saat resign, kamu sedang hamil?”
Zea bergeming dengan pertanyaan Arjuna.
“Jawab Zea!”
Zea hanya menghela nafasnya, bahkan pandangannya pun enggan dia alihkan pada Arjuna.
“Bagaimana bisa kamu tidak menyampaikannya padaku, aku berhak atas bayi itu karena aku ayahnya.”
“Takut kamu lupa, saat itu komunikasi kita buruk sangat buruk karena ulah kamu yang menuduhku macam-macam dengan Gavin. Kalaupun aku memang mencintai Gavin, untuk apa aku menggugat cerai dia,” sahut Zea kesal. “Bukan pertama kalinya kamu melihat aku dan Gavin lalu menuduh macam-macam.”
“Itu karena … Gavin sedang berusaha mendapatkanmu, wajar aku khawatir. Kamu harus paham kalau aku bersikap begitu karena peduli denganmu.”
“Sudahlah, aku malas bahas yang sudah lewat dan semuanya sudah berakhir,” ujar Zea lalu beranjak berdiri. Mengambil heels yang tadi diletakan Arjuna di sampingnya.
“Tunggu, kita belum selesai bicara.”
“Untuk apa? Saat kamu tuduh aku macam-macam dan setelah itu kamu mengacuhkan aku, semua aku anggap sudah selesai. Silahkan lanjutkan hidupmu begitu juga denganku,” jelas Zea tentu saja hal itu tidak ingin didengar oleh Arjuna.
“Duduk, kita belum selesai bicara atau kita cari tempat lain.”
“Aku sedang bekerja, jadi jangan ganggu aku atau aku akan panggilkan security untuk usir kamu dengan tuduhan mengganggu dan menyebalkan,” ancam Zea.
“Kak Juna, Kak Zea,” panggil Almira yang berjalan mendekat bersama Leo.
“Kalian semua di sini?” tanya Zea menatap Leo dan Almira bergantian.
“Apa kabarmu, Zea?” tanya Leo.
“Ba-baik,” jawab Zea.
“Kalian ngapain ikut kemari, aku belum selesai bicara dengannya,” keluh Arjuna.
“Kak Zea, aku kemari sedang hunting lokasi untuk kami menikah. Bisa bantu aku, bukankah kamu bekerja di sini ya. Karena seragammu ….”
“Pak Leo akan menikah?” tanya Zea antusias seakan melupakan urusannya dengan Arjuna.
“Iya, kami akan menikah,” jawab Almira sambil memeluk lengan Leo dan menempelkan kepalanya di lengan tersebut.
“Wah, selamat. Tentu saja, aku akan jelaskan fasilitas yang ada di sini tapi tidak sekarang," ujar Zea sambil melirik Arjuna.
“Tunggu, Zea urusan kita belum selesai,” sela Arjuna.
Zea melirik jam tangannya, “Saat ini masih jam kerja saya, jadi silahkan menikmati fasilitas yang ada. Aku akan hubungi kalian besok,” cetus Zea pada Leo dan Almira lalu meninggalkan ketiga orang yang memiliki pertanyaan berbeda mengenai Zea.
“Hei, Zea. Kita belum selesai,” pekik Arjuna menatap punggung Zea yang semakin menjauh.
__ADS_1
“Kak Zea makin cantik, aku jadi insecure,” keluh Almira sambil menepuk kedua pipinya.
Leo menoleh lalu menggelengkan kepalanya. “Setiap wanita memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing.”
“Aku sudah jadi Ayah, Zea sempat hamil anakku dan ….” Arjuna mengusap kasar wajahnya.
“Apa?” tanya Leo dan Almira berbarengan.
...***...
“Di mana aku bisa bertemu Zea?” tanya Arjuna pada salah satu resepsionis. Dia baru saja tiba menghadiri peresmian cabang perusahaan yang melakukan merger dengan perusahaan lain, bahkan Bella masih mengekor langkahnya.
“Maaf, Zea siapa?”
“Ah, Ibu Zealia Cinta,” jawab Arjuna.
“Sebentar.” Resepsionis itu berbisik dengan salah satu rekannya kemudian memanggil petugas lainnya dan mengarahkan untuk mengantarkan Arjuna menemui Zea.
Ternyata Zea sedang mengawasi para pekerja yang mendesain ballroom yang akan dipakai acara.
“Mbak Zea, ada yang mencari.”
Zea pun menoleh. Saat ini dia mengenakan rok dan blouse berbahan satin, gaya rambutnya masih dicepol rapi.
“Ada apa lagi, lihat aku sedang sibuk,” ujar Zea.
“Kita belum selesai bicara.”
Arjuna pun menoleh dan menyadari ada Bella di sana.
“Kamu sedang apa di sini, pergilah. Ini sudah bukan urusan pekerjaan lagi,” titah Arjuna.
Zea berbicara pada salah satu pekerja lalu berjalan meninggalkan Arjuna.
“Zea, kita bicara. Aku sudah minta baik-baik apa perlu aku ….”
“Cukup, aku sudah lelah menghadapimu. Aku pun sudah lelah mengantarkan adikmu berkeliling. Jadi, tinggalkan aku,” pinta Zea lalu memasuki area yang hanya bisa diakses oleh pekerja hotel.
“Aku harus bisa mengambil hatinya sebelum kembali ke Jakarta,” gumam Arjuna.
Seperti biasa, jika Zea tidak bertugas malam dia akan makan malam dan menghabiskan waktunya di salah satu rumah makan yang berderet di pinggir pantai.
“Tumben tidak pesan kopi,” ujar Ibu pemilik warung.
“Tidak Bu, hari ini aku sangat lelah butuh segera tidur,” jawab Zea.
“Kalau gitu aku antar pulang.”
Zea menoleh dan tidak menduga sudah ada Arjuna di sana bahkan saat ini Arjuna mengambil tempat duduk berhadapan dengannya.
__ADS_1
“Dari mana kamu tahu aku ada di sini?”
Arjuna mengedikkan bahunya, menatap Zea yang memang terlihat lelah.
“Kamu bilang lelah, ayo kita pulang.”
“Kita? Aku pulang sendiri, kamu pergilah urus hidupmu.”
Setelah membayar makanannya, Zea pun meninggalkan tempat itu diikuti Arjuna. Hembusan angin membuatnya menaikan resleting jaket. Zea menghentikan langkahnya menyadari Arjuna masih saja berjalan bersisian dengannya.
“Kenapa?” tanya Arjuna.
“Justru aku yang bertanya, kenapa kamu ikuti aku?”
“Aku mau ke sana,” jawab Arjuna sambil tangannya menunjuk arah tidak jelas sedangkan pandangannya masih mengarah pada Zea.
“Ya sudah, pergilah!”
“Tapi tujuanku sama dengan … tujuanmu,” sahut Arjuna.
Zea mengabaikan Arjuna dan meninggalkan pria itu, saat belum jauh Zea terkejut dengan panggilan warga karena Arjuna tiba-tiba semaput. Bahkan salah seorang menyalahkan Zea karena mengabaikan Arjuna yang sakit sampai tidak sadarkan diri.
“Arjuna, kamu dengar aku?” Zea menepuk pipi Arjuna.
“Bawa ke rumah sakit saja, Mbak.”
“Aku hubungi keluarganya dulu,” ujar Zea tapi urung karena dia tidak memiliki kontak Leo termasuk Arjuna. Dia sudah mengganti kontak dan ponselnya sejak meninggalkan Jakarta.
Akhirnya Zea membawa Arjuna ke rumah sakit menggunakan taksi, dalam perjalanan Arjuna yang berbaring dengan pangkuan Zea sebagai bantal akhirnya pria itu siuman.
“Kita mau ke mana?” tanya Arjuna masih belum membuka matanya.
“Ke rumah sakit, untuk memastikan penyakit kamu atau hanya kegilaan kamu,” ejek Zea.
Wanita itu menduga Arjuna hanya berpura-pura, Arjuna yang malu karena ulahnya diketahui oleh Zea berbaring miring dengan wajah tepat di perut Zea.
“Bangun, kita sudah hampir sampai.”
Arjuna mengatakan pada supir tidak jadi ke rumah sakit dan menyebutkan hotel tempatnya menginap, lalu membenamkan wajahnya pada perut Zea dengan tangan memeluk pinggang wanita itu. Zea hendak mendorong Arjuna agar menjauh tapi urung karena tubuh pria itu terasa bergetar dan merasakan isak tangis Arjuna.
“Masuklah,” titah Zea.
Saat ini Zea dan Arjuna sudah berada di depan pintu kamar Arjuna. Pria itu mengatakan tubuhnya benar sakit dan minta diantar sampai kamarnya.
“Aku akan hubungi Pak Leo dan ….”
“Aaaaa,” Arjuna memegang perutnya dan mengerang kesakitan.
\=\=\=\=
__ADS_1