Mantan Suami Posesif

Mantan Suami Posesif
Kedatangan Zack Dan Caroline


__ADS_3

Happy Reading.


Ave menatap putranya yang sedang bermain bersama sahabat kecilnya Florensia, di sana juga ada Austin dan Laura yang tengah mengawasi mereka. Dari kejauhan mereka terlihat seperti pasangan bahagia, saling mencintai dan ada dua anak kecil sebagai putra dan putri mereka.


Aldo berlari di kejar oleh Florensia dan Laura, membawa pistol-pistolan air untuk menembak Aldo. Karena tidak ingin kena tembak air, Aldo berlari ke arah sang Ayah dan langsung di gendong oleh Austin.


Laura masih mengejar Aldo dan menembakkan pistol air itu ke arah Aldo yang sudah di gendong oleh Ayahnya. Ke empat orang itu berlari tertawa bersama. Terlihat sempurna dan bahagia, bahkan mungkin kalau orang lain yang melihat di kiranya mereka adalah keluarga kecil.


Ya, bukan hanya Ave yang akan berpikiran seperti itu, wanita itu tadinya ingin menjemput Aldo yang seharian ini di bawa Austin pergi bersama Florensia. Langit pun sudah berwarna jingga, meskipun hari ini cerah dan salju sudah tidak turun lagi, memasuki tahun baru yang biasanya selalu ada badai salju, entah kenapa sore ini terlihat sangat bersahabat.


Pluk!


Sebuah bola salju mengenai jaket bulu Ave membuat wanita yang tengah melamun itu kaget saat melihat Aldo sudah berlari ke arahnya sambil membawa gumpalan salju di tangannya.


"Mommy, rasakan ini!" Aldo melempar kan salju yang di bawanya ke arah Ibunya, namun Ave langsung bisa menghindar.


"Hei, Mommy kau curang! kenapa menghindar!" protes sang putra.


"Mommy menyelamatkan diri, sayang! bukan curang, memang nya ada orang menghindari serangan di sebut curang?" Aldo menggeleng dan langsung memeluk kaki Ave erat."l


"Al masih ingin main sama Daddy dan Bibi Laura, ada Flo juga jadi Al senang sekali, apa Al boleh main lagi, Mom?"


Ave berjongkok menyamai tinggi putranya, merapikan topi rajut Aldo kemudian menepuk pipi merah sang putra lembut. "Besok lagi mainnya, Mommy punya kejutan di rumah, apakah Al tidak penasaran?"


"Apa kejutannya?"


"Rahasia donk!" Aldo cemberut, bersidekap dada dan membalik badan.


Austin, Laura dan Florensia ada di belakang mereka, tersenyum melihat tingkah laku Aldo yang marah namun menggemaskan.


"Aldo, sayang! kalau Mommy memberi tahu itu berarti bukan kejutan lagi, donk!"

__ADS_1


"Oke deh, yuk Mom!"


"Pamitan dulu donk sama Dad, Flo dan Bibi Laura," Aldo langsung berpamitan pada ketiganya.


Merekapun berpisah karena langit sudah semakin gelap.


Austin menatap kepergian Ave dan Aldo dengan tatapan yang sulit di artikan. Ada setitik lubang di sudut hatinya yang tiba-tiba membesar, membuatnya semakin terasa perih. "Ayo, sayang! Aku ingin mampir ke restoran Korea." Austin menoleh menatap Laura yang sedang menggendong Florensia.


"Ayo! Let's go!" seru Austin yang sudah merubah raut wajahnya.


Laura bisa melihat semua itu, tatapan sendu saat Austin menatap mantan istrinya dan juga putranya yang baru saja ia ketahui.


"Paman, Flo mau gendong!" Austin menghentikan langkahnya, kemudian mengambil Florensia dari gendongan Laura.


"Flo sudah besar, seharusnya Flo jalan sendiri seperti Aldo," ucap Laura.


"Flo akan berhenti minta gendong, kalau Bibi udah punya adik, nanti adiknya kan di gendong sama Bibi dan Paman," jawab gadis kecil itu.


'Apakah aku harus meletakkan hati pada tempatnya?'


****


"Ya Tuhan!! Aldo!! Sekarang makin tampan, ini benar-benar kloningannya kak Austin!" Caroline mencubit kedua pipi Aldo sampai memerah.


Aldo hanya bisa meringis di perlakukan seperti itu, ingin meronta tapi anak itu suka di perlakukan seperti itu oleh gadis dewasa yang cantik di depannya ini.


Caroline dan Zack memang sudah lama tidak melihat putra Austin ini, mungkin terakhir kali saat Aldo berusia setahu lebih di mana waktu itu Ave masih tinggal di Florida.


Semenjak pindah ke New York, mereka tidak pernah bertemu karena Caroline juga sedang kuliah di Eropa.


"Hai, little Austin! Kenalin, nama kakak adalah Zack, dan kakak cantik ini Caroline," itu adalah suara Zack yang sedang mengusap kepala Aldo gemas.

__ADS_1


"Hai Paman Zack, kakak Carrol! Apakah kita sudah pernah bertemu?" tanya Aldo dengan mata biru yang bergerak-gerak.


Seakan berpikir apakah mereka sudah saling bertemu sebelumnya.


"Paman?? Kok Paman?" Zack menggerutu karena Aldo memanggilnya seperti itu. "Kenapa kamu manggil dia kakak, sedangkan manggil aku Paman? Apakah aku sudah setua itu?"


"Paman memang tua, kakak ini masih cantik!" tunjuk Aldo pada Caroline.


Ave dan Caroline langsung tergelak mendengar kejujuran dari Aldo.


"Ave, kenapa anakmu tengil sekali, benar-benar persis seperti Ayahnya!" sungut Zack tidak terima.


"Hei, Paman! Jangan cemberut seperti anak kecil? ingat usiamu sudah 33 tahun, memang sudah tua!" ucap Caroline.


"Nah, itu kamu tahu yank, makanya aku udah ngebet pengen nikah, udah karatan nih senjata ku, lagian kamu gak mau buka segel sebelum adanya buku nikah!"


Tuk! Caroline menepuk kepala Zack karena bicara fulgar. "Di jaga tuh mulutnya, nanti juga bakal nikah kalau kamu mau sabar! Padahal tadinya habis pulang dari New York aku mau bilang sama Dad dan Mom kalau aku udau siap nikah, loh!"


"Eh, beneran yank?" Zack antusias.


"Gak jadi, biar karatan dulu baru nikah!"


"Loh, aku kan cuma bercanda, senjataku selalu berfungsi dengan baik, bisa langsung menembus dinding pertahanan selaput dara yang masih tersegel rapi!" jawab Zack bangga.


"Astaga!! Zack!! Jangan bikin perutku nyeri!!" Caroline mencubit perut kekasihnya itu, ucapan Zack yang selalu fulgar membuat perut bagian bawahnya serasa tergelitik.


"Sudah sudah, mending kita segera makan malam, Ibu sudah masak untuk menyambut kedatangan kalian," ucap Ave menengahi kedua pasangan tersebut.


"Paman, Aldo mau lihat senjatanya, donk??"


Ketiga orang dewasa itu langsung membulat kan bibirnya!

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2