
Happy Reading.
Suara dan sentuhan itu benar-benar membuat Ave terbius, apakah boleh jika dia menjadi gila hanya karena ciuman itu?
Wuussshhh!!
'Eh, apa yang terjadi??'
Ave merasa kejadian barusan benar-benar nyata, bukan mimpi ataupun khayalan. Namun saat Ave berada di atas puncak dan melayang terbang, tiba-tiba sentuhan itu terlepas, seakan menghilang begitu saja.
Pada saat matanya terbuka, Ave tidak melihat siapapun di atas ataupun didekatnya. Wanita itu langsung mendudukkan tubuh, melihat ke kanan kiri, sepi tanpa jejak apapun. Dia pun melihat ke arah Austin yang ternyata masih tidur di samping Aldo.
'Ya Tuhan!! Apakah tadi aku hanya bermimpi? Lalu kenapa mimpi itu seperti nyata?'
Ave menyentuh bibirnya yang basah, memang basah, bukan karena air liurnya, kan?
Wanita itu langsung duduk tegak, dahinya berkeringat saat tau bahwa kejadian tadi memang nyata. Ave melihat ke arah ranjang lagi, Austin masih di tempat tidur bahkan terlihat begitu nyenyak.
Hawa dingin tiba-tiba menyeruak menyentuh kulitnya, Ave melihat bahwa tali piyama kimononya sudah terlepas, sehingga membuat lengannya dengan mudah terkena udara dingin.
'Ini juga talinya terlepas, padahal tadi aku ikat erat, seharusnya tidak akan terlepas kalau hanya di pakai untuk tidur, apa jangan-jangan memang tangan kekar itu yang yang menarik tali piyama nya? Lalu pertanyaannya, tangan itu milik siapa?' batin Ave bergidik.
Klontang!
"Aaakk!" Ave langsung berdiri, sedikit berteriak namun tidak sampai membangunkan Aldo.
Lagi-lagi Ave merasakan hawa dingin menjalar di seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Wanita itu bergegas berlari ke arah ranjang Aldo di mana di sana Austin dan sang putra masih terlelap. Entah kenapa tiba-tiba Ave merasa suasananya menjadi begitu horor.
Padahal selama Empat tahun tinggal di rumah itu, Ave sama sekali tidak pernah setakut ini ataupun mengalami kejadian yang spooky. Tapi karena mimpi atau apalah tadi, dia merasa sedang di jamah seseorang tapi ternyata setelah membuka mata tidak ada siapapun di dekatnya, Ave menjadi ketakutan.
Bruk!!
Ave langsung menubruk punggung Austin dan memeluknya erat, rasanya dia bisa melihat semua benda di dalam kamar itu seakan bergerak sendiri, sungguh dia benar-benar ketakutan setengah mati.
Seumur-umur dia tidak percaya dengan adanya hantu, tapi entah kenapa malam ini kepercayaan wanita itu berganti menjadi percaya bahwa hantu itu memang ada.
"Ehhmm.. Ave! kenapa kamu meluk aku?" tanya Austin dengan suara serak khas bangun tidur. Sedikit terkejut saat tiba-tiba sang mantan memeluknya seperti ini.
"Tolong biarkan aku melakukan ini, aku takut Austin, tadi ada yang meraba tubuhku," jawab Ave sedikit bergetar.
Austin bisa merasakan bahwa Ave memang benar-benar ketakutan, tubuhnya yang menempel dengan punggung memang bisa merasakan getaran itu.
"Masa di rumah sendiri takut?"
"Aku gak modus, tadi beneran ada yang pegang-pegang tubuhku, Austin please, kali ini jangan menyebalkan, oke!" Austin tersenyum melihat Ave bicara lirih padanya tanpa membuka mata.
"Baiklah, aku akan diam dan tidak mencibir lagi, kalau begitu sekarang tidur, aku ngantuk banget!" bisik Austin tepat di depan wajah mantan istrinya.
Tangannya menyentuh pinggang Ave dan semakin menekan tubuh itu agar merapat. Ave hanya diam saja pasrah, bahkan dia mencari tempat ternyaman nya yaitu dada bidang sang mantan.
Menelusup kepalanya ke dada itu dengan mata tertutup, bahkan tangannya kini sudah meremas baju Austin, mungkin wanita itu belum sadar dengan posisinya saat ini yang terlihat begitu intim.
Ave merasa nyaman, malam itu sangat hening bahkan Ave bisa mendengar detak jantung Austin yang bertalu kencang, sama seperti detak jantungnya.
__ADS_1
"Austin!" wanita itu mendongak melihat wajah Austin yang sudah menutup matanya, sepertinya pria itu sudah tertidur kembali.
Akhirnya Ave membuka matanya lebar-lebar, dia baru sadar jika posisinya sangat ambigu, rasanya ingin mendorong tubuh pria di depannya ini tapi dia terlanjur 'Nyaman'
Akhirnya Ave memejamkan matanya kembali agar cepat terlelap, bisa di pastikan pikirannya akan traveling kemana-mana kalau dia tidak segera tidur.
Berbeda sekali dengan Austin yang sudah nyaman dengan tidurnya saat memeluknya, Ave terpaksa harus bisa menetralkan degup jantung nya yang sudah menggila.
'Ini pasti karena hantu itu, jantungku jadi menggila!' batin Ave.
Ibu dari Aldo itu bisa mencium aroma parfum Austin yang sangat familiar. 'Kenapa aromanya seperti milik hantu itu, ya?'
Sedangkan Austin sendiri sedari tadi mengumpat dalam hati, sang mantan benar-benar menempeli nya dan melingkarkan tangannya di perut dengan erat. Sejak tadi dia sudah mati-matian menahan agar si jaguar tidak berontak dan menonjolkan diri.
Padahal sebenarnya memang jaguar sudah melonglong karena pelukan Ave, Austin hanya berusaha menyembunyikan nya.
'Sial, kenapa situasinya malah jadi seperti ini? apa yang harus ku lakukan?'
Deg!
Austin merasa benda kenyal di dadanya semakin menekan, oh ayolah, tadi dia memang sengaja membuat Ave takut dengan modusnya yang meraba sang mantan, tapi sekarang kalau begini keadaan nya justru membuat Austin takut tidak bisa mengontrol diri.
'Apa aku harus benar-benar membuatmu merasa lebih takut lagi, sayang!!'
Bersambung.
Pendekatan mereka sedikit demi sedikit ya, kita buat Austin menderita dulu, mungkin menderita secara batin gak apa-apa ðŸ¤ðŸ˜‚ secara dulu dia kan gak bisa nahan hasratnya dan berselingkuh 😌
__ADS_1