
Happy Reading.
Entah harus bagaimana Austin mengekspresikan kebahagiaannya saat ini, mendapatkan restu dari calon mertuanya tentu saja kunci dari hubungannya dan juga semua halangan untuk Austin dan Ave bersama. Pagi ini Austin bekerja dengan semangat, seakan mendapatkan angin segar seolah dia berhasil memenangkan tender yang besar. Meskipun saat ini jabatanya hanya seorang ketua manager, namun dia merasa bersyukur karena masih di berikan kesempatan untuk bisa bekerja dan mengembalikan keluarga kecilnya menjadi keluarga yang utuh.
"Aku akan membuat pesta penikahan yang mewah dan sakral, meskipun ini akan menjadi pengalaman kedua kami, tapi tetap saja tidak menyurutkanku untuk membuat Ave bahagia," gumam Austin menatap sebuah benda yang sedang ia pegang.
Sebuah cincin yang pernah dipakai olehnya saat menjadi suami Ave dimasa lalu. Dia juga masih menyimpan cincin Ave yang ia temukan di dalam laci kamar mereka. Sepertinya wanita itu melepaskan cincinnya semenjak mengetahui masalah yang mereka alami.
Ada rasa penyesalan yang menggerogoti jiwanya kala mengingat masalah yang pernah terjadi diantara mereka, tapi Austin tidak perlu meratapinya karena sepertinya Tuhan sudah berbaik hati padanya dengan memberikannya satu kesempatan lagi untuk membina biduk rumah tangga bersama sang mantan istri.
Austin patut bersyukur, segala macam dosa yang pernah ia lakukan dengan menyakiti hati Ave kini terbayar sudah dengan dibukakan pintu hati sang mantan untuk memberikannya maaf. Hadirnya Aldo juga sebuah bentuk anugerah Tuhan yang paling terindah dan sangat berharga yang patut ia jaga.
Austin juga tidak akan pernah melupakan Laura, wanita yang pernah menolongnya dari masa terpuruk saat perusahaanya bangkrut karena skandal yang ia lakukan di masa lalu. Meskipun dia akhirnya menyakiti wanita itu dengan melepaskan diri dari Laura dengan konsekuensi dia di pecat dari perusahaan, tapi dia lebih bersyukur lagi karena tidak harus menyakiti wanita itu terlalu dalam. Austin juga tidak bisa memaksakan suatu perasaan yang memang sejak dulu tidak bisa ia berikan untuk Laura sehingga melepaskan semuanya dari jeratan Laura akan terasa lebih baik, bahkan sekarang dia merasa bisa bernapas lebih bebas tanpa ikatan karena balas budi.
Suara ketukan pintu di ruangannya berhasil membuat Austin keluar dari pikirannya yang melayang sejak tadi.
"Masuk!"
Terdengar suara handle pintu diputar dan masuklah seorang wanita cantik yang usianya di bawah Austin sambil membawa beberapa berkas.
"Maaf Tuan, ini adalah berkas yang telah di revisi dan silahkan anda periksa dulu," wanita itu menyodorkan berkas yang ia bawa dan langsung diambil oleh Austin.
"Terima kasih, Kara, kau boleh pergi," wanita yang bernama Kara itu mengangguk kemudian keluar dari dalam ruangan itu.
Sedangkan di sisi lain.
Ave mendadak tidak bisa berkonsentrasi bekerja, padahal hari ini dia ada janji temu dengan klien yang akan menyewa WO di pertengahan Tahun. Waktu berjalan begitu cepat sebelum jam makan siang akhirnya datang.
"Temui klien kita, di restoran Italian Food sekalian makan siang, aku tidak bisa menemanimu karena harus berrtemu dengan nyonya Breda membahas perihal busana pengantin yang akan kamu kenakan," ucap nyonya Alma.
__ADS_1
"Baik, bu. Ehmmm tapi apakah memesan gaun pengantin dalam waktu seminggu bisa jadi?" ada perasaan yang membuncah di hati Ave kala melihat sang ibu yang ikut serta terlibat dalam pengurusan persiapan acara pernikahan nya.
"Sudah ada desain gaun musim panas yang akan diluncurkan oleh Breda, tinggal penyelesaiannya saja, kurang 10% lagi pasti rampung," jawab nyonya Alma mengambil tas tangannya di atas meja.
Ave tersenyum lebar, wanita itu berdiri dan langsung memeluk sang ibu, "terima kasih, bu!"
*****
Ave berdiri sambil tersenyum saat kliennya datang. Dua wanita beda usia juga tersenyum menyambut uluran tangan Ave.
"Anda pasti nona Ave? saya Mily dan ini Mama saya, Noura," ujar salah satu klien Ave yang lebih muda.
Ave tahu bahwa wanita bernama Mily ini adalah calon pengantin wanitanya, tapi kenapa dia tidak ditemani oleh kamu mempelai pria?
Ah, mungkin saya calon suami wanita ini sedang sibuk, jadi dia datang bersama ibunya.
"Iya, saya Ave, putri Nyonya Alma," jawab Ave ramah.
"Terima kasih, silahkan duduk, Nona Mily dan Nyonya Noura," ujar Ave ramah.
Akhirnya merekapun membahas mengenai pernikahan yang di inginkan Mily, meskipun calon suaminya tidak ikut. Kata Mily semuanya terserah yang wanita itu inginkan, sang calon pasti akan menyukai konsep pernikahan mereka.
Ave merasakan ponselnya bergetar, ia pun mengambil ponsel dan melihat nama dilayar seketika membuat Ave tersenyum.
"Maaf, saya angkat telepon dulu, ya?" Mily dan Nyonya Noura mengangguk.
Ave berdiri kemudian berjalan agak jauh untuk mengangkat teleponnya.
"Halo, Austin."
__ADS_1
"Sayang, lihatlah ke arah belakang."
Ave mengerutkan keningnya, kenapa tiba-tiba Austin bicara seperti itu.
"Memang nya ada apa? kamu di mana, Austin?"
"Sudah kubilang lihatlah ke belakang!"
Ave menurut dan membalikkan tubuhnya.
"Hai sayang, ternyata kamu makan disini juga?" ucap Austin yang sudah berjalan ke arahnya.
Ave sempat terbelalak kaget ketika melihat sang calon suami berada di restoran yang sama dengan nya.
"Astaga, aku lupa kalau kantormu ada di sekitar restoran ini," ucap Ave.
"Iya, aku sedang makan siang bersama teman kantorku, mereka ada di sana," Austin menunjuk kursi di mana ada 3 teman Austin.
Ave mengikuti arah tunjuk Austin dan melihat ada 2 wanita dan seorang pria yang juga tengah menatapnya.
"Ayo, aku kenalkan mereka padamu, aku juga ingin mereka tahu calon istriku dan juga ibu dari putraku," Austin menggenggam tangan Ave dan menariknya ke arah para teman Austin yang sejak tadi penasaran dengan wanita itu.
Ave pasrah saja, dia juga ingin mengenal para sahabat calon suaminya itu.
"Semuanya, kenalkan!! wanita di samping ku ini adalah calon istriku dan juga Ibu dari putraku satu-satunya." Ujar Austin antusias.
Ketiga teman Austin menyalami Ave dengan senyum yang mengembang. "Hai, aku Kara," ujar wanita cantik yang tidak lain adalah asisten Austin.
"Aku Lusi!"
__ADS_1
"Aku Tom!" Austin menarik tangan Tom yang menjabat tangan Ave begitu lama, seakan tidak rela jika sahabatnya itu menyentuh miliknya.
Bersambung.