
Happy Reading.
Laura tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, kenapa Austin kembali lagi, bukankah dia baru pergi 10 menit yang lalu, lagi pula apakah dia lupa password pintu apartemennya?
Ting Tong!
"Iya, sebentar, ya Tuhan sayang apa kau ... Josh?" seru Laura.
Pria itu tersenyum miring melihat penampilan Laura yang menurutnya begitu seksi malam ini. Dan apakah tunangannya baru dari sini? Mereka melakukan apa hingga penampilan Laura terlihat berantakan?
Oh, ayolah Josh, kenapa juga kamu memikirkannya? Itu bukan urusanmu karena sebentar lagi mereka akan menikah! batin Josh.
"Apakah aku mengganggumu, Laura?" tanya Josh.
"Ehm, ada perlu apa, Josh?"
"Ada yang ingin ku bicarakan padamu, apakah boleh aku masuk?" terlihat Laura mengerutkan keningnya, berpikir sebentar sebelum dia mengangguk dua kali tanda bahwa dia memperbolehkan Josh masuk.
"Terima kasih, maaf mengganggu waktumu, Laura," ucap Josh sambil berjalan masuk ke dalam.
Laura duduk di single sofa dan Josh duduk di sofa samping yang muat untuk dua orang. "Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan padaku, Josh?" tanya Laura to the point.
Pria itu terkekeh, "apakah kamu tidak mau menawarkan sesuatu pada tamu mu ini? Minum kopi mungkin?" Laura mendengkus.
Dia bangkit dan berjalan ke arah kulkas yang masih berada di ruangan itu. Laura mengambil dua kaleng bir dari dalam dan menutup kembali kulkas itu.
"Minumlah, nanti di kira aku tidak sopan," ucap Laura menyerahkan satu kaleng pada Josh dan langsung di terima pria itu dengan senang.
"Ehm,, begini, sebenarnya aku ada informasi penting untukmu, aku akan tinggal di sini dua hari lagi sebelum aku kembali ke Florida, aku ingin meminta mu bekerja sama denganku, aku tahu perusahaan mu sedang berkembang pesat di sini, dan sialnya aku kehilangan tender besar, membuat perusahaan ku terancam!" ujar Josh.
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba kamu meminta kerjasama ini? Bukankah sejak dulu kita ini rival, ya? Bahkan ayahmu dan ayahku adalah musuh abadi?" Josh terlihat gelagapan atas pertanyaan Ave.
"Tapi Ayahku sudah pensiun, dan aku ingin menghilangkan kata-kata rival itu di antara kita, aku yakin kamu orang yang baik, Laura, buktinya kamu bisa membantu calon suamimu untuk bisa mendapatkan perusahaannya kembali, ya meskipun perusahaan Austin susah kamu akui sisi," ucap pria itu.
"Entahlah, Josh! Hal seperti ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, nanti kalau memang sudah ada keputusan yang tepat aku akan menghubungi mu," Laura berdiri. Josh yang tahu maksud Laura juga langsung berdiri
"Terima kasih, aku harap kamu memperhitungkan nya, Laura. Permisi!" ucap Josh.
'Laura, aku ingin merebut mu dari Austin, laki-laki itu masih mencintai mantan istrinya, aku tidak ingin melihat mu sedih dan kecewa ketika kamu menikah dengannya nanti!' batin Josh.
***
Ave mencium kening Aldo setelah anak itu terlelap. Perlahan ibu satu anak ini berjalan keluar dari kamar sang putra setelah mematikan lampu kamarnya dan hanya menghidupkan lampu tidur.
Terlihat Zack, Caroline dan satu orang lagi di ruang tamu yang membuatnya melotot terkejut. "Austin? Kapan kamu sampai di rumahku?" tanya Ave setelah menetralkan degup jantung nya karena sang mantan yang tiba-tiba ada di antara sahabatnya.
Di rumah dia pula, padahal tadi hanya ada Zack dan Caroline yang berada di ruang tamu sebelum ia menidurkan Aldo. Lalu kenapa sekarang Austin ikut bercengkrama dengan sepasang kekasih itu.
Zack dan Caroline saling lirik, sebelumnya mereka sedikit terkejut ketika melihat interaksi kedua orang yang pernah bersatu di bawah sumpah pernikahan itu. Mereka sepertinya memang sudah akrab, seperti cerita Austin pada Zack.
"Oh, padahal aku udah mau ngusir mereka dari rumahku, tapi malah ketambahan satu orang lagi!" sindir Ave pada dua sejoli yang sedang garuk-garuk kepala.
"Loh, katanya kita boleh nginep di sini?" tanya Zack.
"Tadinya iya, tapi kalau kalian masih ingin main poker dan minur bir, mending kalian sewa hotel saja, aku udah ngantuk soalnya," jawab Ave duduk di sebelah Caroline.
"Jangan bilang karena kedatangan ku mengganggu acara kumpul-kumpul kalian?" tanya Austin sedikit tidak enak.
"Eh, enggak kok, aku gak bilang gitu!" sahut Ave tidak terima kalau dia di tuduh mengusir.
__ADS_1
"Eghem, gini aja, kita akan nginep di sini, lagian ini juga udah malem banget, mana dingin lagi di luar, kami gak jadi main poker kok," ucap Caroline.
Ave menghela napas, ketiga orang yang dulu sama-sama pernah dekat dengannya malam ini setelah 6 tahun berlalu kumpul di rumahnya dengan status yang berbeda.
"Aku akan pulang kalau memang kalian mau istirahat, besok kalian harus main ke apartemen ku," ucap Austin berdiri dari duduknya.
Zack dan Caroline sebenarnya ingin Austin berada di rumah Ave, mereka sudah lama sekali tidak berkumpul, bahkan sekarang ada Ave yang pergi meninggalkan mereka enam tahu lalu. Bolehkah jika mereka ingin bernostalgia.
'Bernostalgia? Ku rasa itu tidak tepat, karena kepergian Ave dari Florida karena sakit hati yang luar biasa, ck! Lalu aku harus bagaimana?' batin Zack menatap Ave tanpa kedip.
"Zack sayang, apa kamu sedang memikirkan sesuatu?" bisik Caroline ketika melihat kekasihnya menatap Ave lama.
"Apa kamu tau apa yang ku pikirkan, yank?" Caroline menggeleng.
Zack berdiri dan berjalan mengendap-endap pergi ke dalam, tujuannya hanya satu, yaitu kamar Aldo.
Sedangkan Austin sudah berpamitan pada Ave dan berjalan ke arah pintu keluar. Ave memang sengaja mengantarkan mantan suaminya sampai di depan pintu. Austin memegang handle pintu dan memutarnya, namun sebelum ia membuka pintu itu, kepalanya menoleh ke belakang di mana Ave dengan wajah datar sedang menatapnya. Mereka hanya berjarak satu setengah meter, namun Austin merasa bahwa jarak mereka semakin menjauh.
Andaikan Austin masih bisa menjangku wanita itu, besar kemungkinan dia akan berusaha memperbaiki kesalahannya di masa lalu, mengkhianati pernikahan mereka dengan sengaja, bahkan dia bermain api dengan sekretarisnya sendiri.
Austin masih ingat tatapan terluka dari Ave saat dia memperkosa istrinya itu untuk terakhir kalinya, sungguh dia merasa bahwa sudah tidak pantas baginya untuk berharap, apalagi saat ini sudah ada Laura di antara mereka.
"Dad!" seru suara mungil sang buah hati mendayu di telinga dua orang tua itu.
"Daddy, mau kemana? Apa Daddy akan tidur bareng Al, lagi?"
Ave mendekat ke arah Aldo lalu menggendong sang putra. "Kok Al udah bangun? Ayo tidur lagi!"
"Aldo gak mau tidur sendiri, Al mau di temani Daddy dan Mommy!"
__ADS_1
Bersambung.