
Happy Reading.
Ave mengambil segelas jus yang disediakan di acara reuni itu di meja pojok dekat dengan pintu. Pintu itu bukan untuk keluar dari aula melainkan untuk masuk ke sebuah ruangan yang menghubungkan Aula dengan ruangan lain. Ave langsung minum jus itu, pikirannya kalut. Sejak tadi tenggorokannya terasa kering dan segera menghabiskan jus lemon yang di ambilnya tadi.
Entah kenapa perasaan nya semakin tidak enak, apakah niat dia datang ke sini dan mempertemukan Austin dengan mantan kekasihnya dulu adalah sebuah kebenaran.
Ya, dia memang harus mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya dengan Vivian dan masa lalu calon suaminya itu. Ave tidak mau masih ada masalah yang nantinya akan menyeret Austin karena masa lalu yang belum usai.
Wanita itu meletakkan gelasnya yang sudah kosong di atas meja. Dia duduk di kursi kosong yang ada tidak jauh dari meja itu. Ave memijat kepalanya yang terasa pusing. Jantung nya sejak tadi berdetak lebih cepat setelah pertemuan nya dengan Vivian.
Seorang pria berjalan menghampirinya, mengambil minuman di meja sebelah kanan yang berisi minuman alkohol dan sejenisnya.
Ave tidak sadar jika sejak tadi pria itu mengamati nya, bahkan sejak masih bersama dengan Austin. Namun dia baru berani mendekat setelah Austin pergi bersama Zack dan Vivian keluar dari gedung Aula itu.
Sepertinya Austin memang benar-benar ingin membuktikan secepatnya ucapan Vivian tengah ayah biologis anaknya yang bernama Tania. Dari cerita Vivian tadi sepertinya putrinya itu sedang dirawat di rumah sakit karena mengalami penurunan kesehatan setelah beberapa tahun ini telah di diagnosa leukemia.
Awalnya Ave ingin ikut, namun entah kenapa dia merasa bahwa tidak seharusnya ikut ke rumah sakit. Karena dia pasti juga tidak akan kuat jika memang benar dugaannya bahwa sang mantan suami yang sekarang menjadi calon suaminya itu memiliki anak dengan wanita lain.
"Apa kau baik-baik saja?" pertanyaan random yang di lakukan pria asing itu mampu membuat Ave menoleh.
Wanita yang malam ini mengenakan dress dengan model Sabrina memperlihatkan bahu mulus nya itu mengerutkan keningnya. "Ya? maaf, anda siapa?" hanya itu yang bisa Ave jawab.
Tentu saja dia tidak akan menjawab pertanyaan dari seorang pria asing meskipun siang ini perasaan nya benar-benar sedang tidak baik-baik saja.
"Aku lihat wajahmu pucat dan terlihat kurang baik, dan sebagai orang yang mengenalmu tentu saja aku merasa khawatir," ujar pria itu menatap wajah Ave lekat.
__ADS_1
Ave juga melakukan hal yang sama, menatap wajah pria yang mengatakan bahwa dia sudah mengenalnya namun Ave sama sekali tidak ingat dengan pria itu. "Apakah kita saling mengenal?" tanya Ave.
Pria yang terlihat asing itu tertawa kecil, kemudian dia membuka jas yang ia pakai. Ave memicingkan mata dan segera bangkit dari duduknya. Tentu saja dia harus berhati-hati dengan pria asing yang mengaku mengenali nya itu.
"Mau apa kamu?"
Pria itu membuka kancing lengan kemejanya, hal itu semakin membuat Ave panik. Dengan cepat pria itu menggulung lengannya dan memperlihatkan sebuah luka goresan yang timbul di lengan kanannya.
Mata Ave membola melihat luka itu, diapun segera mendekat dan menatap lebih lekat tangan dari pria asing yang sekarang sudah tidak terasa asing lagi di mata Ave.
"Ju-justin!!" seru Ave menutup mulutnya dengan kedua tangan. Kejutan yang benar-benar tidak terduga.
"Ya, akhirnya kamu mengingat ku, Ave! aku adalah pria culun berkacamata yang pernah menyelamatkan mu dari para perampok," jawab pria yang bernama Justin itu.
Ave kali ini baru ingat kalau pria tampan, gagah dan mempesona di depannya ini ternyata adalah salah satu temannya yang dulu pernah menyelamatkan nya dari perampokan namun hal itu malah menjadikan tangan Justin tergores dalam dan sedikit panjang.
"Apa kabar, Ave?"
"Aku benar-benar tidak bisa mengenalimu, dulu kau begitu...."
"Gendut dan jelek!" sahut Justin cepat.
Ave tergelak namun dengan menunjukkan raut wajah tidak enak. "Kabarku buruk, Justin, bagaimana kabarmu?"
"Kabarku baik, aku dengar sekarang kau sudah berpisah dengan Austin, tapi sepertinya tadi aku melihat mu datang bersamanya?"
__ADS_1
"Ya, aku memang bersama Austin, dan kami akan kembali bersama," jawab Ave jujur dengan menampilkan senyuman di wajah cantiknya.
Justin langsung terlihat sendu, diapun segera menghela napas dalam-dalam, jujur sebenarnya sejak dulu perasaannya terhadap Ave masih sama. Ya, Justin menyukai Ave namun tidak berani mengatakannya. Dia sadar jika dulu dirinya begitu tidak pantas bersama Ave.
"Jadi kalian akan menikah kembali?" tanya Justin tersenyum samar.
Ave mengangguk, "kami berdua masih saling mencintai," jawab Ave.
Sedangkan di sisi lain.
Austin, Zack dan Vivian sudah sampai di rumah sakit tempat Tania di rawat. Entah kenapa perasaan Austin menjadi tidak menentu. Dia merasa begitu gugup, seperti bertemu dengan orang yang begitu spesial.
"Nyonya Vivian, Tania kolaps lagi," seru seorang perawat menghampiri Vivian.
"Apa?? Tania!" Vivian langsung berlari ke arah ruang rawat putrinya. Zack dan Austin mengikuti nya dari belakang.
Mereka melihat Vivian dan beberapa perawat berjalan dengan tergesa sambil mendorong brankar yang berisi seorang pasien.
Deg!!
Austin terkejut melihat seorang gadis kecil dengan dengan selang infus di bawa ke ruang Operasi.
Zack juga ikut mematung, bahkan kedua pria itu tidak ikut bergerak dan hanya memandang gadis kecil itu masuk ke dalam ruang Operasi bersama beberapa perawat itu.
"Brother, sepertinya tidak di ragukan lagi, hanya di lihat dari wajahnya saja aku langsung yakin jika itu adalah anakmu!" ujar Zack.
__ADS_1
Bersambung