
Happy Reading.
Pesawat mendarat di Florida sekitar pukul 9 malam. Dua jam perjalanan dari New York tidak lantas membuat Ave dan Austin bisa beristirahat selama di perjalanan.
Benak mereka berperang dengan pikiran masing-masing yang begitu rumit. Dalam beberapa jam ke depan mereka akan melihat suatu hal yang pasti akan bisa membuat masa depan mereka tidak akan lagi sama.
Ave mendesah kasar, kepalanya begitu sakit sejak beberapa hari yang lalu, setelah dia mendengar cerita tentang Vivian yang meminta pertanggung jawaban dari Austin, hati Ave benar-benar resah dan tidak tenang.
Dia akan mengerti jika Austin bertanggung-jawab atas anak yang masih di awang-awang benak mereka, tapi bagaimana kalau Vivian juga meminta tanggung jawab, misal seperti meminta Austin untuk menikahinya?
Tapi bukankah setahu Vivian, Austin masih bersama dengan Laura? Ave tidak ingin bertanya-tanya dalam hati yang tidak akan pernah mendapatkan jawabannya. Dia terlalu takut akan kehilangan Austin.
Meskipun Austin dengan lantang mengatakan bahwa dia pasti tanggung jawab misal dia memang memiliki anak lain dari Vivian, namun Austin tetap tidak akan meninggalkan Ave dan Aldo. Tapi entah kenapa wanita itu merasa takut kalau seandainya akan terjadi hal lainnya yang tidak terduga.
"Sayang, kamu harus percaya padaku, aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu dan Aldo, hanya kalian berdua tujuan hidupku kedepannya, aku berjanji padamu, Ave!"
Saat ini keduanya sudah berada di dalam taksi yang akan membawa mereka ke apartemen Zack dan Caroline. Ave dan Austin sama-sama diam dan tidak ada yang membuka suara sama sekali.
Benak Austin meragu untuk mengajak Ave berbicara terlebih dahulu, dia tentu berusaha menjaga perasaan Ave yang terlihat begitu sedih saat pertama kali menginjakkan kakinya di bandara setelah turun dari pesawat.
Entah apa yang di pikirkan oleh mantan istrinya itu, apakah tentang masa lalu buruk yang di alami sewaktu mereka masih di Florida dan masih menjadi pasangan suami istri.
Atau kah masalah masa lalunya bersama Vivian, di mana atas pengakuan wanita itu bahwa dia memiliki seorang anak dengannya.
Austin tidak ingin menebak-nebak sekarang, yang jelas saat ini dirinya harus bisa membuat Ave percaya padanya dan masih terus berusaha berjuang untuk selalu bersamanya.
__ADS_1
"Aku memang ingin kamu bertanggung jawab jika memang dugaan kita benar, tapi aku tidak akan membiarkan kamu di rebut oleh Vivian, aku tidak ingin kehilanganmu lagi, Austin," ucap Ave tiba-tiba, membuat Austin seketika terkejut.
Saking terkejutnya, Austin hanya bisa membuka mulutnya menganga lebar. Bahkan rahang nya langsung tertarik ke bawah. "A-apa yang kamu katakan tadi? Tolong ulangi lagi, sayang?"
Ave menoleh sambil tersenyum, "aku tidak peduli bagaimana masa lalumu, aku hanya tidak ingin kehilangan kamu lagi, aku dan putra kita membutuhkan mu," ucap Ave lagi.
Austin langsung memeluk sang mantan istri dengan posesif, sungguh dia merasa sangat terharu mendengar ucapan Ave. "Terima kasih, sayang,, aku harap kita bisa melalui semua ini, tolong percayalah padaku," Austin mencium pucuk kepala Ave dengan sayang.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai di apartemen Zack dan beristirahat semalaman sebelum mereka menghadiri acara reuni kampus.
******
Keesokan harinya, Ave dan Austin pergi bertiga bersama Zack ke kampus X menghadiri undangan reuni yang diadakan 3 tahun sekali itu. Acara itu hanya diperuntukan untuk semua fakultas seangkatan. Tidak heran jika pasti akan banyak orang yang hadir siang ini.
Austin menghela nafas, "entah kenapa aku masih tetap tidak percaya jika aku memiliki seorang anak lain dari mantan kekasih ku, apakah dia mau membuktikannya melalui tes DNA?"
"Sebenarnya Vivian juga sudah mengatakan hal ini padaku, dia bahkan berani menantang mu untuk melakukan tes DNA kalau semisal kamu tidak percaya," jawab Ave dengan tenang meskipun hatinya terasa di tikam.
Bayangkan saja, siapa yang tidak sedih saat mendengar bahwa mentan serta calon suami mu tiba-tiba memiliki anak lain yang baru saja di ketahui, pada saat kita ingin menjalin hubungan yang lebih serius.
Tentu bukan hanya perasaan sedih saja, sakit, kecewa bahkan emosi kemarahan rasanya bercampur aduk menjadi satu. Namun apakah Ave patut marah-marah atas terjadiq
Austin menyugar rambutnya kebelakang, "sayang, aku akan tetap melakukan apapun itu demi membuktikan semuanya padamu, meskipun aku memiliki anak dengan mantanku dulu, kalian tetap menjadi prioritas utama, meskipun aku juga pasti akan tanggung jawab," ucap Austin.
Zack yang menjadi supir sejak tadi hanya bisa mendengarkan dua sejoli itu, dia tidak bisa memberikan solusi apapun karena memang masalah itu sangat lah sensitif, apalagi untuk Ave.
__ADS_1
"Austin, apa kamu benar-benar tidak ingat jika dulu Vivian pernah mengatakan padamu jika dia positif hamil, bahkan kamu ingin menggugurkan kandungannya?" tanya Ave dengan hati bertalu kencang.
"Aku tidak ingat, sama sekali tidak ingat, sepertinya Vivian hanya bermimpi, karena aku bukanlah pria yang bisa mudah lupa akan sesuatu yang begitu riskan, apalagi itu menyangkut nyawa seorang bayi," ujar Austin memeluk bahu sang mantan istri yang kini telah menjadi kekasihnya.
"Mudah-mudahan apa yang kamu ucapkan memang benar, Vivian hanya bermimpi!"
Mereka pun akhirnya sampai di tempat acara, di sebuah Aula kampus yang begitu luas. Ave, Austin dan Zack di sambut oleh beberapa kenalan atau para sahabat mereka masa dulu. Austin mengedarkan pandangannya, mencari seseorang yang beberapa hari ini mengganggu calon istrinya.
Sepertinya keinginannya untuk bertemu dengan Vivian kali ini sungguh sangat besar, semakin cepat bertemu semakin cepat pula urusan mereka selesai. Dia juga harus segera memastikan sendiri apakah benar dia telah memiliki seorang anak dari wanita itu.
"Austin, akhirnya kita bertemu kembali," sebuah tepukan di bahu serta suara seorang wanita yang sedikit asing membuat Austin dan Ave menoleh.
"Hai, apa kabar?" sapa wanita itu tersenyum lebar menampilkan sederetan giginya.
Ave melebarkan matanya melihat wanita yang tidak lain adalah Vivian, setelah sekian tahun tidak bertemu ternyata wanita itu menjadi begitu berbeda di banding dengan yang terakhir kali mereka bertemu.
Rambut lurus, badan seksi dan juga make up yang memoles wajahnya membuat Vivian terlihat begitu cantik dan mempesona.
"Vivian, aku hanya ingin bertemu dengan seseorang yang kau sebut sebagai anakku, Ave sudah menceritakan semuanya, jadi aku harus segera memastikan apakah memang benar bahwa aku sudah memiliki anak denganmu, atau semuanya hanya kebohongan yang kau ciptakan seperti dulu!" ucap Austin darat dan tajam.
Tatapan matanya yang mengarah ke wajah Vivian membuat wanita itu menelan Saliva nya kasar.
'Sial! ternyata Austin sudah berubah menjadi menakutkan!!'
Bersambung
__ADS_1