Mantan Suami Posesif

Mantan Suami Posesif
Ada Apa Dengan Laura


__ADS_3

Happy Reading.


Aldo bersiap untuk berangkat ke sekolah bersama Zack dan Caroline. Kedua pasangan itu sejak pagi sudah merecoki anak berusia Lima tahun tersebut.


Sebenarnya Aldo ingin di antar oleh sang Daddy dan Mommy, tapi seperti yang kalian tahu bahwa Zack dan Caroline memiliki misi tersendiri untuk kedua pasangan itu.


"Baiklah, Aldo! let's go!!" seru Caroline.


Gadis itu menggandeng tangan Aldo keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil milik Zack yang iya beli setelah sampai di Florida.


Aldo melambaikan tangan pada Austin dan Ave, "bye Mommy, bye Daddy ... !!" seru anak itu.


"Hati-hati, belajar yang rajin!!"


"Semangat, Son!!"


Keduanya berteriak secara bersamaan sambil membalas lambaian tangan sang putra. Setelah mobil itu tidak terlihat dari pandangan, tiba-tiba datang mobil lain dan berhenti di halaman depan rumah Ave.


Halaman itu sedikit luar dan tidak memiliki pagar karena rumah Ave juga termasuk rumah yang kecil. Ave membeli rumah itu dengan tabungan nya dan di batu oleh sang ibu.


Ave sudah sangat hapal mobil tersebut dan langsung menyambut kedatangan ibunya, "Bu, apakah ibu akan pergi ke kantor sekarang?" tanya Ave ketika Alma sudah turun dari mobilnya.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu tidak langsung menjawab pertanyaan sang putri melainkan melihat ke arah Austin yang juga berada di sana. Bahkan Alma bisa melihat mobil Austin berada di garasi.


"Apa tadi malam kamu menginap di sini lagi?" tanya Alma menatap Austin dengan tatapan tajam. Ave sempat terkejut ketika mendengar pertanyaan ibunya yang di akhiri dengan kata 'lagi' apakah Alma tahu kalau beberapa hari yang lalu Austin juga menginap?


"Iya, Bu. Aku menginap di sini karena Aldo tidak ingin aku pulang, lagi pula ada Zack dan Caroline yang menemani, jadi bukan hanya aku sendiri," jawab Austin tenang.


Namun hal itu semakin membuat Alma mendengus kesal, jujur dari lubuk hatinya yang paling dalam wanita itu masih terlampau kesap dengan tingkah mantan menantunya itu.


Meskipun kebencian nya sudah surut lantaran berjalannya waktu, namun Alma begitu kesap saat melihat Austin dengan seenaknya sendiri semakin dekat dengan Ave walau hanya karena Aldo.


"Sama saja, ingat Tuan Austin, kamu dan Ave hanya bisa dekat karena ada anak di antara kalian, tapi kalau masalah hati jangan berharap, kamu sendiri sebentar lagi akan menikah, jadi jangan terlalu sering berinteraksi dengan putriku selain masalah pekerjaan!"


Austin menunduk sebentar kemudian dia mengangkat wajahnya kembali disertai senyuman yang tulus. "Tentu saja, bu, saya juga tahu batasan, lain kali saya yang akan mengajak Aldo menginap bersama saya, baiklah kalau begitu saya permisi dulu," ucap Austin.


Dia tidak berani bertindak katika sang ibu sedang berbicara. Mungkin ibunya merasa khawatir kalau suatu saat nanti hubungan antara dirinya dan Austin akan membuat hubungan dengan kliennya Laura menjadi bermasalah.


Austin pergi setelah berpamitan, padahal sebenarnya dia ingin berlama-lama di sana bersama Ave, tapi tentu saja kehadiran nyonya Alma tidak bisa membuatnya leluasa.


Sedangkan Ave sendiri langsung mengajak sang ibu masuk namun Alma menghentikan nya, "Ave, ibu akan memperkenalkan mu dengan seseorang, dia pria yang baik, sudah berumur, aku rasa kalian harus bertemu karena sama-sama masih single, nanti akan ibu atur pertemuan kalian!"


"Tapi bu ... ?" Alma mengangkat tangannya tanda untuk menyuruh putrinya berhenti bicara.

__ADS_1


"Kali ini tidak ada penolakan!" Alma langsung berjalan ke mobilnya dan segera masuk.


Ave menatap nanar kepergian sang ibu, sebelumnya sudah sering Ave menolak jika ibunya menjodohkan nya dengan putra sahabatnya ataupun rekan kerjanya. Tapi kali ini sepertinya memang tidak bisa menolak lagi, melihat tatapan nyonya Alma yang terlihat tidak bisa di bantah.


Ave menghela napas panjang, kenapa hatinya merasa tidak enak saat dia harus memikirkan akan bertemu dengan seorang pria. Biasanya Ave akan bersikap biasa saja dan tidak perlu merasa khawatir jika sang ibu merencanakan perjodohan. Ave hanya akan mengatakan yang sejujurnya bahwa sebenarnya dia tidak siap untuk menikah kembali.


Di sisi lain.


Pagi itu Austin langsung pulang ke apartemen, tinggal sehari sebelum weekend dan liburan musim dingin tiba. Dia memang telah bekerja di perusahaan Laura yang berada di Florida sebagai direktur utama, dan hal itu pasti membuat Laura akan mencarinya kalau dia tidak hadir tepat waktu.


Mengingat pagi ini akan ada rapat penting, sejak semalam Laura juga tidak menghubungi nya sama sekali. Dia hanya mengirimkan pesan pada calon istrinya itu bahwa semalam berjumpa dengan adik tirinya dan mereka pergi bersama-sama.


Austin memutuskan untuk mendatangi ruangan CEO yang tidak lain adalah ruangan milik Laura yang berada di lantai paling atas. Kantor cabang itu ada di sebuah gedung perkantoran milik Emerson Grup dan Laura menyewa tiga lantai di gedung yang tingginya mencapai 25 lantai.


Tok, tok, tok!


"Masuk!" Austin membuka pintu dan langsung berjalan menuju meja kerja Laura, meskipun dia seorang calon suami dari CEO di perusahaan itu, Austin tetap mengetuk pintu demi menjaga kesopanan.


"Laura, ada apa denganmu? apa kamu sakit?" Laura terkejut ketika Austin menanyakan hal itu.


"Eghem, iya, sepertinya aku belum terlalu vit, ku kira kamu belum datang," Laura berusaha tidak gugup, namun Austin tidak bisa di bohongi dengan tingkah wanita itu.

__ADS_1


"Laura, sebenarnya ada apa?"


Bersambung.


__ADS_2