
Happy Reading
Malam semakin larut, hawa dingin menerpa masuk ke dalam kamar berukuran sedang itu. Meskipun ini sudah bukan musim dingin lagi, tapi musim semi ini juga tak lebih dingin dari biasanya.
Harusnya ini sudah mulai memasuki musim panas, tapi entah kenapa cuaca sekarang terkadang berubah tidak menentu. Terkadang hawa dingin berhembus memasuki celah fentilasi yang berada di jendela kamar.
Namun tidak menghentikan aktifitas dua sejoli yang sedang di mabuk asmara itu, setelah 6 tahun lebih berpisah dan akhirnya dipertemukan kembali dengan kondisi yang sudah berbeda. Austin datang membawa tunangannya dan Ave yang menyembunyikan Aldo dari Ayahnya.
Namun semua itu tidak lantas membuat perasaan mereka luntur, Ave melenguh tertahan ketika Austin memasukinya lagi untuk yang kedua kalinya, namun sekarang mereka meneruskannya kegiatan mereka itu di atas ranjang.
Setelah menghabiskan percintaan pertama mereka di dalam kamar mandi dan sekalian mandi, seakan baru berbuka puasa setelah bertahun-tahun tidak mengalami di puncak kenikmatan, kedua mahkluk adam dan hawa itu menginginkan lagi sebuah rasa yang bisa membuat mereka terbang bagai di awan.
Austin terus saja melakukan pekerjaannya dengan membuat sang istri merasakan bagai di puncak. Begitupun dengan dirinya yang juga terus mencari kenikmatan yang diberikan istri sahnya.
Tubuh Ave tidak ada yang berubah, tubuh istrinya itu memiliki bentuk yang sintal dan ideal. Tinggi, berisi, memiliki dada yang lumayan besar dan juga pinggul yang mudah di genggam. Porsi yang sempurna untuk seorang perempuan.
Austin masih bergerak teratur di atas Ave, menikmati wajah sang istri yang terlihat seksi saat berada di bawahnya seperti ini, menyebutkan namanya dengan suara merdu, menggigit bibir bawah sungguh terlihat sangat cantik. Austin benar-benar mengagumi keindahan sosok istrinya ini.
Ave menjerit tertahan ketika mencapai puncak untuk yang entah ke berapa kalinya. Austin menjeda sebentar sebelum memutar tubuh sang istri dan melakukan pekerjaannya dari belakang, posisi yang sangat disukai oleh Austin.
"Ave, sayang, aaahh!"
Tidak berselang lama Austin menyuarakan nama sang istri ketika mencapai tujuan pucak dan mengeluarkan magma lahar putih hangat di sarangnya dan magma putih itu memenuhi rahim Ave.
Banyak harapan doa untuk kedua pasangan suami istri itu agar mereka segera diberikan anak kedua untuk adik Aldo.
Ave tidak akan pernah menunda kehamilan, dia ingin segera memiliki anak lagi. Selama menikah dengan Austin di masa lalu, dia sempat merasa sedikit pusing memikirkan masalah anak karena dia yang tidak kunjung hamil.
Disaat Ave mantap untuk menceraikan Austin dan pulang ke New York, ternyata saat itu juga ia menyadari bahwa dirinya tengah berbadan dua. Ave ingat sekali kala itu dia sempat diperkosa suaminya sendiri dan diselamatkan oleh Zack dan Caroline.
__ADS_1
Ave hanya pasrah ketika ternyata dia positif hamil dan saat itu hatinya sudah terlanjur sakit karena perbuatan sang suami.
Namun saat ini hati mereka sudah terpaut dan berharap agar pernikahan kali ini untuk selamanya.
"Terima kasih, istriku!" Austin mencium punggung Ave kemudian melepaskan dirinya.
Ave sendiri sudah ambruk memeluk bantal, sungguh permainan Austin kali ini berhasil membuatnya terbang melayang.
Austin memeluk sang istri dari belakang, menyembunyikan wajahnya diceruk leher Ave.
"Terima kasih untuk apa?"
"Terima kasih karena telah memberikan ku kenikmatan yang luar biasa, kamu juga telah merawat tubuhmu dengan baik." Ave berbalik menghadap wajah sang suami.
"Aku juga tidak menyangka akan menjadi istrimu lagi, padahal awal kita bertemu saat itu kamu sudah memiliki tunangan dan sedang menyewa WO ku, sungguh takdir benar-benar membuat ku bingung," Ave terkekeh kecil.
"Bukankah takdir sangat baik, sayang," Austin mencium bibir Ave.
"Iya, takdir benar-benar baik, untung saja Laura bisa memaafkan kamu, dia sudah menemukan cinta sejatinya," ucap Ave memandang mata Austin yang selalu tampak berbinar.
"Aku sangat mencintaimu, sayang, aku harap kamu bisa langsung hamil anak kedua kita, Aldo pasti senang kalau mendengar bahwa dia akan punya adik," Austin membelai pipi sang istri, mencium kembali bibir merah mudanya yang sejak tadi membuatnya candu.
"Tentu saja, Aldo sudah menunggu kapan dia punya adik lagi, dia ingin seperti salah satu temannya disekolah, katanya ada temannya yang memiliki adik laki-laki."
"Putra kita menginginkan adik laki-laki, padahal aku ingin punya anak perempuan," ucap Austin.
Ave mengangguk, "Aldo memang mengatakan ingin adik laki-laki, katanya buat teman main bola," Ave terkekeh kecil, awalnya dia berdebat dengan sang putra masalah jenis kelamin adiknya.
"Kita bikin kembar, satu laki-laki dan yang satu perempuan," ucap Austin membayangkan jika mereka memiliki anak kembar.
__ADS_1
Dan malam itu mereka habiskan untuk mengobrol, saling menceritakan kisah mereka beberapa tahun kebelakang dan juga tumbuh kembang Aldo yang menjadi anak pintar dan cerdas.
***
Hari ini Austin dan Ave sudah mulai bekerja kembali, mereka hanya mengambil cuti dua hari untuk acara pernikahan mereka.
Banyak pekerjaan yang harus diurus oleh keduanya. Contohnya Ave yang harus bertemu dengan klien yang sebulan lagi akan melangsungkan pernikahan.
Ave menerima tamu kedua pasangan yang beberapa hari lalu sudah melakukan fiting gaun pengantin dan tempat untuk acara pesta pernikahan mereka.
"Selamat siang nona Mily dan tuan Steven, silahkan duduk," Ave mempersilahkan kedua kliennya duduk dikursi depannya.
Terlihat pria yang bernama Revan memiliki raut wajah yang dingin, sama sekali tidak ada keramahan yang ada diwajahnya.
"Selamat siang nona Ave, bagaimana kabar anda," sapa Mily ramah.
"Baik, jadi sekarang tuan Steven apakah bisa memilih dekorasi yang akan digunakan untuk acara resepsi nya?"
Steven terlihat menghela nafas, urat dilehernya sedikit mengendur, bisa dilihat jika sejak tadi pria itu sedang menahan amarah dan berusaha untuk tidak mengeluarkannya.
Sebelum Steven menjawab, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dengan cepat pria itu segera mengambil ponselnya dari saku dan melihat siapa yang menelepon nya.
Raut wajah Mily terlihat menggelap setelah melirik ponsel yang dibawa Steven yang sedang memperlihatkan nama si penelepon.
"Maaf, saya keluar dulu untuk mengangkat telepon, permisi!" Ave mengangguk dan kemudian beralih melihat Mily yang sudah berkaca-kaca.
"Nonya Ave, rasanya saya ingin membatalkan pernikahan ini, hiks!" lirih Mily menahan air matanya.
"Nona Mily tenang dulu, silahkan diminum," Ave menyodorkan botol air mineral kemasan.
__ADS_1
"Saya tidak sanggup menikah dengan pria yang tidak mencintai saya!"
Bersambung