
Happy Reading.
Beberapa jam yang lalu masih di kantor Ave.
Ave terkejut dengan ungkapan gadis didepannya ini. Apa tadi yang dia dengar? Mily ingin membatalkan pernikahannya dengan Steven? kenapa selalu saja seperti ini.
Mereka sudah menyewa WO miliknya dan sudah membayar 50% lalu kenapa tiba-tiba Mily berubah pikiran?
Kenapa orang-orang suka sekali membuat WO nya merugi, belum lama ini batalnya pernikahan Austin dan Laura, meskipun hal itu tentu saja sangat menguntungkan bagi Ave, karena Austin bisa berarkhir bersamanya.
Tapi kalau hal ini sampai terjadi lagi, tentu saja dia merugi lagi.
"Nona Ave, saya tidak akan kuat jika harus menikah dengan pria yang dingin terhadap saya, dan juga dia tengah memili kekasih, wanita yang begitu di cintainya," ucap Mily sambil menyeka air matanya yang sudah mengalir deras membasahi pipinya.
Ave bingung dengan situaasi kali ini. "Tapi nona Mily ...."
"Tidak Nona Ave, saya benar-benar serius, saya ingin membatalkan pernikahan ini!"
"Tidak! penikahan ini tetap akan terus berlanjut!!!
Suara Steven terdengar begitu keras, Ave dan Mily langsung menoleh seketika.
"Maaf nona Ave, kita permisi dulu dan untuk dekorasinya seperti yang kemarin yang di inginkan oleh Mily, permisi!"
****
"Tuan Steven, bukankah tadi anda sedang bersama nona Mily, calon istri anda?"
Austin menatap istrinya dengan alis yang semakin menukik tajam, apa maksudnya ini, apakah Ave juga mengenal Steven?
__ADS_1
Bukan maksud Ave ingin ikut campur dengan urusan atau masalah pribadi mereka, dia hanya reflek menanyakan hal tersebut.
Sedangkan Steven sendiri sudah mendapatkan tatapan horor dari Kara.
"Jadi benar kalau kamu akan menikah?" tanya Kara lirih namun masih terdengar jelas. Kara tidak mau teriak-teriak dan membuat heboh seisi restoran.
Steven menghela nafas, memang niat dia mengajak Kara makan siang hari ini adalah untuk mengatakan keputusan yang dia ambil. Ya, Steven akan memutuskan untuk menikahi Mily dan memutuskan Kara.
Jujur, ini sangat berat untuk pria itu, namun perjodohan yang dilakukan oleh orang tuanya sejak dia dan Mily masih kecil tidak bisa terelakkan karena permintaan sang ibu yang sedang sakit.
"Benar, aku akan segera menikah dengan Mily, wanita yang dijodohkan denganku sejak kami sama-sama masih bayi," ucap Steven yang langsung membuat Kara menutup mulutnya tidak percaya.
"Katakan padaku bahwa semua ini tidak benar, kan?"
Steven menghela nafas dan lagi-lagi mengangguk tanpa keraguan sedikitpun dihatinya. "Itu benar, aku memutuskan untuk menerima Mily sebagai istriku, dan sebaiknya kita segera mengakhiri...!"
"Stop! Jangan katakan itu Steven!! Kamu tega sama aku!! Kamu tega!!" Kara berlari keluar dari restoran itu dan disusul Steven dibelakangnya.
"Baiklah, sayang! Aku mengerti, itu memang urusan mereka, biarkan mereka menyelesaikan urusannya," ucap Austin.
"Ya, sudahlah sekarang sebaiknya kita pulang, aku akan menjemput Aldo, setelah itu langsung kembali ke kantor," ucap Ave membereskan tas tangannya dan memasukkan ponsel ke dalam.
Austin membayar makanan mereka di kasir dan setelah itu kedua pasangan itupun pergi dari restoran tersebut.
****
Beberapa Minggu kemudian.
Ave tersenyum lebar saat melihat kedua pengantin yang terlihat sangat serasi itu berada di atas pelaminan. Acara pernikahan Steven dan Mily akhirnya digelar dengan mewah.
__ADS_1
Sungguh sangat serasi menurut Ave, banyak tamu undangan yang hadir karena mengingat kedua keluarga itu adalah berasal dari keluarga terpandang.
Terlihat senyum Mily begitu lebar, sedangkan Steven hanya tersenyum kaku, siapapun tidak akan menyangka jika senyum yang ditampilkan oleh Steven itu adalah senyum palsu.
Ya, Ave bisa membaca dari raut wajahnya, ada keterpaksaan yang dilakukan oleh Steven, sepertinya memang pria itu berusaha sebaik mungkin menjaga emosinya.
Dari cerita Austin, Kara bersedih setelah hubungan nya dengan Steven harus putus. Tentu saja tidak mudah bagi kedua pasangan yang telah bertahun-tahun menjalin hubungan dan saling mencinta tiba-tiba harus terpisah dengan terpaksa.
"Sayang, apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Austin sambil menyerahkan minuman kepada sang istri.
"Tidak ada, aku hanya merasa kasian terhadap kedua pasangan pengantin itu," jawab Ave mengambil gelas yang berisi jus strawberry itu dan segera meminumnya.
"Hoek, hoek!"
Austin terkejut ketika melihat sang istri yang tiba-tiba merasa mual. "Sayang, kamu kenapa?"
Ave hanya bisa menggelengkan kepalanya dan memegangi mulutnya yang tiba-tiba gejolak mual itu datang lagi.
Ave berjalan dengan cepat menuju ke arah toilet, untung Ave yang memesan ballroom di hotel itu, jadi dia sudah hafal jalan menuju toilet nya.
"Sayang, apa kamu sakit? Sebaiknya kita pulang saja," Austin hanya bisa menggedor pintu toilet dari luar.
Masih terdengar suara muntahan dari dalam, Austin begitu khawatir, tapi tentu saja dia tidak berani masuk kedalam toilet yang diperuntukkan untuk 'Women' itu.
Setelah beberapa saat akhirnya sang istri keluar dengan wajah pucat. Austin segera menyentuh pelipis Ave kemudian menangkup wajahnya. "Bagaimana keadaan mu, apa kita perlu ke dokter?" Ave menggeleng lemah.
"Sebaiknya kita pulang saja, tapi sebelum itu mampir ke apotek dulu, ada yang ingin ku beli," jawab Ave ingin memastikan sesuatu.
'Mudah-mudahan saja firasatku benar!'
__ADS_1
Bersambung