
Happy Reading.
Florida.
Laura memandang tidak minat dengan makanan yang ada di depannya saat ini, meskipun di atas meja itu ada beberapa menu makanan favoritnya, namun Laura sama sekali tidak berselera. Sudah tiga hari berlalu sejak kejadian di mana Austin memutuskan hubungan pertunangan mereka secara baik, namun sebenarnya tidak baik untuk wanita itu, karena sejujurnya bagaimanapun dia merasa hatinya begitu sakit.
Meskipun sebenarnya sejak mengetahui bahwa Ave adalah mantan istri Austin, dia merasa ada sesuatu yang membuat nya dan Austin seakan terhalang tembok tinggi menjulang. Laura bahkan sudah memiliki feeling bahwa hubungannya dengan pria itu pasti tidak akan lama lagi.
Dan kini feeling nya memang menjadi kenyataan, di mana dia tahu semuanya tentang perasaan Austin untuknya. Ketika Austin mengatakan bahwa dia tidak ingin meneruskan pertunangannya, Laura sudah sangat siap.
Setelah malam itu, Laura langsung pergi ke Florida bersama Florensia sang keponakan pagi harinya. Dia adalah wanita kuat, dia tidak ingin terpuruk hanya karena putus cinta untuk yang ke sekian kalinya.
Laura langsung menceritakan semuanya pada keluarga besar tentang batalnya pertunangannya dengan Austin. Wanita itu tidak mengatakan yang sejujurnya kenapa pertunangan itu di batalkan. Laura hanya mengatakan bahwa sudah tidak ada kecocokan lagi di antara mereka.
Entah kenapa dia begitu melindungi Austin yang notabene telah menyakitinya.
"Kenapa tidak di makan?" tanya Ayah Laura yang menatap putrinya sejak tadi terlihat sangat tidak berselera dan hanya melamun.
Laura memang lebih sering diam sekarang, mood untuk bekerja juga sudah hilang. Mungkin meninggalkan pekerjaan untuk refreshing akan lebih baik.
__ADS_1
"Pa, aku ingin kembali ke perusahaan pusat di sini, mungkin dengan begitu aku bisa melupakan semuanya yang ada di New York! Tapi sebelum itu aku minta cuti sebulan terlebih dahulu, aku ingin pergi liburan," ucap Laura menatap Ayahnya.
Dia berencana untuk menjauhkan diri dari Austin dan juga akan berusaha move on darinya, karena wanita itu tahu jika Austin pasti akan tetap menetap di New York lantaran mantan istri dan anaknya ada di kota itu.
"Baiklah, Papa akan membiarkan mu liburan, jangan terlalu memaksakan diri, sayang! Kamu masih sangat muda, Papa tahu kalau kamu pasti bisa, Nak! Banyak laki-laki yang menginginkan mu, kamu cantik, cerdas, dan tentunya kaya, Papa sangat bangga padamu, Laura!"
Laura tersenyum mendengar pujian dari sang Ayah. Dia memang memiliki kehidupan yang sempurna sebagai seorang wanita, bisa memiliki apapun yang dia inginkan. Baju, tas, sepatu, mobil mewah serta fasilitas yang membuat banyak wanita di luar sana iri.
Laura selalu mendapatkan nilai yang bagus, bahkan sering masuk peringkat 3 besar, sejak kecil sudah di didik menjadi pebisnis karena dia adalah pewaris satu-satunya. Namun menurutnya meskipun seluruh kesempurnaan itu ada pada dirinya, masih ada sesuatu yang tidak bisa ia gapai, yaitu 'Cinta'
Kisah cintanya selalu berakhir dengan sangat menyedihkan, seperti saat ini ketika dia benar-benar memperjuangkan cintanya pada Austin tapi pria itu lebih memilih memperjuangkan cintanya untuk sang mantan istri.
Begitupun dengan kisah cintanya dengan Josh, cinta pertamanya itu memilih menikahi wanita lain dari pada memperjuangkan nya. Meskipun dengan embel-embel pernikahan di atas kertas dan akan bercerai sesuai kesepakatan namun Laura merasa Josh tidak berjuang untuk nya kala itu.
Sang Mama terlihat khawatir melihat putri semata wayangnya yang tidak memiliki semangat sama sekali.
"Tidak, Ma! Jangan pernah mencoba untuk membujuk Austin lagi, keputusan kali ini akulah yang memilih, biarkan Austin melepaskan ku dan memilih jalannya sendiri, karena ternyata dia sudah memiliki seorang anak dari mantan istrinya!" ujar Laura akhirnya.
"Apa? Seorang anak?" Kedua orang tuanya shock. Laura mengangguk membenarkan.
__ADS_1
"Iya, makanya aku memilih melepaskan Austin karena sepertinya pria itu harus kembali bersatu dengan mantan istrinya, yang ku tahu masih ada cinta di antara mereka!"
***
Sungguh hari ini cuaca tidak begitu baik, namun bagi wanita yang sedang patah hati, mungkin bisa untuk mengobati sakit hatinya dengan melihat bagaimana bola-bola kristal putih itu bertaburan di langit gelap itu serta hawa dingin yang menusuk di kulit.
Salju turun begitu derasnya, bahkan sampai menutupi jalanan yang akan ia lalui. Wanita itu hanya bisa duduk di sudut cafe tempat yang sejak sore tadi ia datangi.
Tahun baru sudah berlalu dua hari yang lalu, sebenarnya wanita itu sudah memiliki rencana dengan Austin di malam tahun baru itu namun sepertinya Tuhan berkata lain.
Tiba-tiba bahunya di tepuk seseorang dari belakang.
"Laura? Kamu ada di sini?" Laura menoleh ketika mengenali suara itu.
"Josh?" pria itu tersenyum, kemudian dia menarik kursi di hadapan Laura dan duduk di sana.
"Kenapa tidak mengabari ku kalau kamu ke Florida?" tanya Josh masih memperlihatkan senyuman nya.
Laura bisa melihat binar bahagia yang terpanjang di mata pria yang kini statusnya duda itu.
__ADS_1
'Apakah kamu bahagia karena bertemu dengan ku, Josh?'
Bersambung