
Happy Reading.
Ave membuka lemari dengannya malas, menatap isi dari lemari itu beberapa saat, "aku harus pakai yang mana?"
Masih dengan tatapan malas, dia memilih beberapa gaun yang ada di lemari khusus itu dan meletakkan nya di atas ranjang begitu saja. Ave sebenarnya sangat malas harus mengikuti kencan buta yang diperintahkan oleh ibunya.
Biasanya dia akan selalu menolak dan beralasan sibuk, mungkin seandainya dia terpaksa harus menemui pria yang di pilih oleh sang Ibu, Ave langsung mengatakan yang sebenarnya bahwa dia hanya di paksa dan tidak ingin menikah lagi.
Pasangan yang di kenalkan oleh Nyonya Alma tentu banyak yang mengundurkan diri karena mereka juga kebanyakan tidak ingin memaksa ataupun ingin mencari pasangan hidup yang bisa di ajak serius.
Namun kali ini Ave tidak bisa membantah keinginan sang ibu untuk mencarikan calon suami untuknya, mungkin karena kehadiran Austin beberapa waktu ini membuat Alma harus segera mencarikan pendamping untuk sang putri dan juga di sisi lain Ave membutuhkan seseorang yang bisa diandalkan di masa depan, tentu untuk melindungi dirinya dan juga sang putra.
Tapi apakah dia sanggup untuk membina sebuah hubungan kembali? berfikir untuk berpacaran saja dia tidak pernah, apalagi sampai berpikir untuk membina rumah tangga, saat ini yang diprioritaskan oleh Ave adalah sang putra, Aldo.
Tok! Tok! Tok!
"Kakak, boleh aku masuk!" seru Caroline dari balik pintu kamar.
"Masuklah, Carol!"
Caroline membuka pintu perlahan dan melihat Ave yang sedang berkacak pinggang menatap tumpukan gaun yang ada di atas ranjang.
"Apakah ada yang bisa ku bantu?" tanya Carol menghampiri Ave.
"Aku bingung harus memakai baju yang mana? Semua gaun ini sudah lama tidak ku pakai, mungkin saja sekarang juga sudah kekecilan karena berat badan ku yang naik," keluh Ave.
Caroline mengambil gaun berwarna biru tua dengan lengkap morel Sabrina, ada batu Cristal di bagian dada dan juga perut.
Panjangnya sekitar selutut dan gaun itu terlihat sangat cantik.
__ADS_1
"Ini bagus, kalau menurutku gaun ini cocok di tubuh kakak, warna biru tua itu terlihat elegan di kulit kakak yang putih bersih, nanti pasti keliatan bercahaya terang, apalagi di padu butiran Cristal yang membuat nya semakin bersinar," ucap Caroline.
Gadis itu sudah lulus jurusan desainer yang di gelutinya selama hampir 6 tahun ini. Tentu saja memilih model baju tidak sulit bagi Caroline apalagi modelnya juga cantik dan menawan.
"Tapi warna itu terlalu gelap, Carol! Aku benar-benar bingung! Seharusnya aku tidak perlu melakukan semua ini!" Ave mendesah kasar.
Dia hanya perlu memilih baju asal dan sedikit memoleskan bedak di wajahnya, tidak perlu bersusah payah untuk menetapkan gaun apa yang cocok, yang penting gaun itu pas di tubuhnya dan paling penting sopan.
"Kalau begitu bagaimana dengan warna pink muda ini?" Carol mengambil salah satu gaun berwarna pink muda cerah. Panjangnya sampai ujung kaki dan atasannya memakai tali spaghetti.
"Itu seperti akan pernah ke pesta promnight, warna biru tua itu saja,," tunjuk Ave.
"Iya, ini saja kak, cepat pakai ini, nanti aku yang rias," ucap Carol.
"Gak perlu di rias, aku mau pakai bedak natural saja," jawab Ave kemudian masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa gaun biru tua itu.
Sedang di sisi lain.
Bagaimana tidak seperti anak kecil coba?
Hanya karena misi dia ingin menggagalkan rencana kencan buta Ave dan seorang pria yang di pilihkan oleh Nyonya Alma, Austin sampai berdandan ala koboi seperti ini.
"Kalau kamu memang gentle, seharusnya kamu yang sedang bersama Ave melakukan kencan di sana, Austin! Bukan malah bersembunyi dan melihat mereka dari jauh seperti ini," ucap Zack menertawakan kekonyolan sahabat sekaligus saudara tirinya itu.
"Ck, aku harus gimana? Sejujurnya aku ingin bisa mengambil hati Ave kembali, tapi dengan posisiku yang seperti ini aku jadi bingung!"
"Kamu itu pengecut, gak gentle!" Austin langsung menoleh dan melototkan matanya.
"Makanya aku dilema, aku tidak bisa mencintai Laura, tapi aku juga tidak enak hati kalau harus memutuskan hubungan yang sudah sejauh ini!" ucap Austin kelewat jujur.
__ADS_1
Dia tidak menyadari bahwa di belakangnya ada seseorang yang mendengar ucapannya dan orang itu meremas sendoknya kuat.
Di sisi lain.
Ave memandang pria di depannya ini, lumayan menarik, tampan dan berkarisma. Namun wajahnya sedikit kaku dan dingin, bukan tipe Ave sama sekali.
'Masih tampan Austin!'
Ave mendesah dalam hati, kenapa dia selalu membandingkan setiap pria yang dekat dengannya atau yang ingin mendekati nya dengan 'Austin' sang mantan suami.
Ya, karena memang hanya Austin yang dekat dengannya sampai menjadi suaminya. Meskipun dulu pernah menjalin hubungan dengan Zack, tapi Ave tau waktu itu perasaan nya hanya sebatas saling menguatkan dan butuh sandaran karena sejatinya di hatinya tentu cinta untuk Austin masih sangat besar meskipun sudah tidak membara karena perselingkuhan itu.
"Sebenarnya aku ingin jujur padamu," Pria itu memecah keheningan setelah sama-sama menghabiskan makan malam mereka.
"Aku juga," jawab Ave menatap mata biru Pria itu.
Mungkin pria ini sebenarnya tidak ingin adanya perjodohan dengan kencan buta seperti ini, sama seperti dirinya yang di paksa oleh sang ibu?
"Sebenarnya aku tidak berminat dengan kencan buta ini," jujur pria itu.
'Tuh, kan!' batin Ave bersorak.
"Tapi aku tetap harus mencari seorang wanita untuk menjadi istriku!"
"Lalu?" Pria itu menatap ponselnya sebentar dan mendongak kembali.
"Ya kalau aku terserah padamu, kamu wanita yang cantik, menarik dan seksi, apalagi kamu sudah terbukti memiliki seorang anak dari mantan suami mu yang dulu, karena aku di sini hanya ingin mencari seorang istri yang bisa memberiku keturunan, dan kamu sudah terbukti bisa," jawab pria ini.
Apakah maksudnya ini dia hancya akan di jadikan mesin pembuat anak saja?
__ADS_1
Bersambung