Mantan Suami Posesif

Mantan Suami Posesif
Makna Sebuah Cincin


__ADS_3

Happy Reading


Ave mendelik ketika Austin meraih tangannya yang baru saja dijabat oleh Tom.


Padahal dia baru saja menerima jabatan tangan pria itu belum ada 5 detik tapi Austin sudah mengeluarkan aura posesif nya.


Ave hanya bisa menghela nafas melihat sifat Austin yang akhir-akhir ini sangat mendominasi.


"Hei, sabar bro! Tenang saja, tidak akan ku tikung!" ucap Tom mendengus geli melihat sifat posesif sahabatnya itu.


Padahal di kantor, Austin termasuk pria yang tidak terlalu ramah terhadap perempuan. Mungkin perempuan yang dekat dengannya hanyalah Kara, karena wanita itu adalah asisten nya.


Jangan mengira jika Kara menyukai Austin dan berusaha menggoda pria itu. Tidak, Kara benar-benar menganggap Austin atasannya yang baru sebulan lebih menjabat sebagai ketua Manager keuangan.


Juga sebagai teman yang terkadang diajak makan siang bersama Tom dan Lusi. Kara sudah memiliki kekasih yang tiga tahun dipacarinya. Gadis itu sangat mencintai sang kekasih, jadi bisa dipastikan bahwa Kara tidak akan tertarik pada bosnya itu.


Austin sendiri juga sangat menjaga dirinya dari para mahkluk yang namanya wanita. Maklum, sang Hot Daddy ini memang memiliki wajah tampan dan mempesona. Charming, cool dan awet muda.


Dia juga sudah tidak mau berdekatan dengan wanita kecuali urusan pekerjaan atau hanya sekedar makan siang bareng-bareng, catat ya! Bareng-bareng.


Austin sudah trauma dengan masalalu yang merusak rumah tangganya karena tergoda oleh sekretaris nya. Meskipun begitu, dia memang sudah tidak berminat sama sekali kecuali dengan satu nama, yaitu Ave Calista.


Namun Austin bisa sangat humble terhadap teman prianya. Tidak dipungkiri meskipun masih sebentar bekerja di perusahaan nya itu, dia sudah memiliki banyak sahabat.


"Meskipun aku baru mengenal mu sebulan ini, tapi aku tahu kamu pria seperti apa, Tom!" jawab Austin.


"Ya, Tom memang playboy senior, bukan hanya calon istri orang yang dia goda, istri sahabatnya sendiri juga pasti di goda?!" kali ini suara Lusi.


Wanita yang usianya lebih dewasa dari Kara ini sudah memiliki suami dan satu orang putri berusia 3 Tahun.


Tom memutar bola matanya kemudian fokus ke arah Lusi. "Maaf Nona Lusiana, meskipun aku sering menggoda mu, tapi aku sama sekali tidak berminat untuk mengambil hatimu, tenang saja, kamu terlalu percaya diri!"


Lusi mengerucutkan bibirnya, "bagaimana aku tidak percaya diri, kalau setiap hari kamu begitu perhatian!!"


"Tentu saja, aku memang seperhatian itu, apa kamu tidak suka, hem?" ucap Tom.


"Tentu saja aku suka, tapi jangan coba-coba membuatku berpaling dari suamiku, kamu bukan tipeku, Tom!' balas Susi.


Ave tertawa melihat interaksi kedua orang itu.


"Sayang, mereka memang seperti itu, kadang mesra, kadang juga bertengkar, jadi tidak perlu canggung," Austin menyelipkan rambut Ave yang berada di samping menutupi pipinya.

__ADS_1


"Tapi yang pasti kita saling sayang, iya 'kan Lusi?" Tom menyenggol lengan Lusi.


"Sebaiknya kalian cepat pesan makanan, lihatlah pelayan itu sejak tadi sudah berdiri di sana!" Kara menunjuk seorang pelayan pria yang memang sudah menunggu pesanan makanan dari tadi.


"Maaf, aku harus kembali ke mejaku, tadi aku juga sedang makan dengan klien, sampai jumpa semuanya, sampai jumpa Austin!" Austin mengangguk meskipun sebenarnya tidak rela.


Akhirnya Ave menghabiskan makan siangnya bersama Mily dan Nyonya Noura, sedangkan di sudut lain Austin selalu curi-curi pandang ke arah sang kekasih yang juga terkadang menatap ke arahnya.


"Nona Mily, apakah pertemuan besok anda bisa mengajak calon suaminya?" tanya Ave.


Raut wajah Mily terlihat gelisah, entah bagaimana dia harus mengatakannya pada Ave jika calon suaminya itu tidak mengharapkan pernikahan mereka.


"I-iya, saya pasti akan mengajak Steven," jawab Mily melirik sang ibu.


Ave bisa melihat raut kegelisahannya di wajah Mily, apakah dia salah jika menginginkan hal tersebut, mengingat pernikahan yang di inginkan Mily sedikit mewah.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu, sampai ketemu lagi Nyonya Noura, Nona Mily," Ave beranjak setelah berpamitan dengan kliennya itu.


Tidak lupa dia juga berpamitan dengan Austin. "Nanti tunggu aku di rumah ya, sayang? aku kangen Aldo," ujar Austin.


"Udah deh tuan Austin, jangan bikin kita semua jadi baper, aku kan jadi kangen sama Steven!" seru Kara.


'Seperti nama calon suaminya Mily!'


"Iya, Steven kekasih saya Nona," jawab Kara.


Ave hanya mengangguk, mungkin memang nama yang sama.


Akhirnya Ave pamit dan kembali ke kantor.


****


Austin dan ketiga sahabatnya sudah kembali ke kantor, waktu berjalan dengan cepat, saat ini jam sudah menunjukan pukul 5 sore. Sudah saatnya pulang.


Austin dengan segera melajukan mobilnya ke rumah sang calon istri.


Dia membawa dua buah paper bag untuk fi berikan kepada Aldo dan Mommy nya.


"Daddy!! Al kangen!!" Aldo berlari ke pelukan sang Daddy dan langsung mendapatkan ciuman di seluruh wajahnya.


"Dad, geli!!" Aldo berusaha melepaskan diri dari Daddy-nya.

__ADS_1


Ave datang membawa mangkuk yang berisi es krim. Pengasuh Aldo siang tadi membuat es krim sendiri karena sudah berjanji pada anak itu.


Austin merangkul bahu Ave dan membawa kedelapannya. Tidak lupa cium kening dan bibir sekilas. "Ini untuk mu, sayang, dan yang ini untuk Aldo," Ave menerima paper bag itu dan meletakkannya di atas meja.


"Mommy, mana es krimnya Al!!"


"Ini sayang, awas jangan makan banyak-banyak!!"


"Iya, Mom,,, lagian hari ini memang seharusnya Al makan es krim!" rajuk Aldo cemberut.


"Ya sudah, ini es krimnya," Aldo menerima es krimnya dengan senang hati.


Kali ini giliran Austin yang langsung mendekap Ave ketika sang putra sudah fokus dengan es krimnya dan berlari ke ruang keluarga.


"Austin, jangan aneh-aneh, ya! Ada Aldo!" seru Ave ketika Austin mendekat kan wajahnya.


"Aldo di ruang keluarga, aku sudah kangen banget sama kamu, sayang!" Ave langsung terdiam ketika Austin langsung menghujani nya dengan ciuman hangat yang sarat akan rindu yang membara.


Sekarang Austin benar-benar bisa menggapai mantan istrinya kembali, tidak akan pernah ia sia-siakan kali ini.


"Aku ingin kamu memakai cincin ini lagi, bagaimana menurutmu?" Austin mengambil cincin permata yang sangat tidak asing bagi Ave.


Cincin pernikahan mereka yang dulu, Austin masih menyimpannya sampai sekarang, entah kenapa sudut hati Ave merasa sangat terharu ketika dia melihat cincin nikahnya yang dulu.


Cincin itu banyak sekali makna dan kenang-kenangan, Ave sendiri sudah lupa di mana dia menaruhnya.


"Sayang, kenapa menangis? Kamu gak mau, ya?" Austin terkejut ketika melihat Ave berkaca-kaca. Pria itu mengira bahwa Ave tidak mau memakai cincin penuh kenang-kenangan itu.


"Aku mau, aku mau pakai ini lagi, aku selalu ingat pengorbanan kita bagaimana dulu menyuap pernikahan!"


Austin tersenyum dan kembali memeluk Ave, "maafkan aku di masa lalu ya, akan ku buktikan bahwa aku akan membahagiakan kalian!"


Bersambung.


Jangan bosan-bosan nunggu cerita Ave dan Austin ya 🥰🥰


othor mau ucapin makasih untuk pembaca setia ku terutama untuk dua kakak ini



Makasih ya udah baca karya saya, terutama kak Octavia dan kak YurnaLita 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2