
Happy Reading
Austin menatap wanita didepannya ini dengan mengangkat sebelah alisnya. Heran melihat Kara sang sekretaris yang terlihat begitu sendu, bahkan sejak tadi Austin memanggilnya tidak ia dengarkan sama sekali.
"Eghem!" berdehem sedikit keras membuat Kara terlonjak kaget.
"Eh, tuan Austin, kenapa anda berada di depan meja saya?" Kara bertanya dengan tampang yang cengo, seakan baru sadar jika Austin baru saja berada di hadapannya saat ini.
Padahal Austin sudah berdiri selama lebih dari lima menit di depan meja kerja Asisten sekaligus sekretaris nya karena sejak tadi Kara sama sekali tidak menyahut saat di panggil, bahkan melalui panggilan intercom sekalipun.
"Kenapa? pertanyaan yang aneh sekali! tentu saja aku membutuhkanmu, Kara!!!" seru Austin memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Bukankah anda bisa memanggil saya lewat intercom? tidak perlu repot-repot kemari, tuan. Saya yang akan datang ke ruangan anda," Austin benar-benar tidak habis pikir dengan pikiran sekretarisnya itu.
"Kara, apa kamu sedang demam?" Kara menggeleng cepat.
"Lalu kenapa hari ini kerjamu tidak fokus? aku sudah berkali-kali memanggilmu lewat intercom, tapi kamu sama sekali tidak menjawabnya!" kali ini mulut Kara berhasil terbuka lebar, menganga seakan ada sesuatu yang sangat mengejutkan.
"Maaf, tuan, tadi sepertinya saya sedang ke toilet!" jelas Kara yang memang tidak berbohong.
Gadis itu pergi ke toilet untuk menelepon kekasihnya karena berita yang kemarin ia dapat. Salah satu sahabatnya memberitahu bahwa dia baru saja bertemu dengan kekasihnya yang sedang melakukan fitting baju pengantin di salah satu butik terkenal di kota itu bersama dengan seorang wanita cantik yang diprediksi bahwa wanita itu adalah calon istri dari Steven.
Awalnya Kara tidak percaya, namun saat sahabatnya itu mengirimkan foto Steven bersama dengan seorang wanita cantik yang terlihat berkelas dari gaya pakaiannya yang fasionable, Kara baru percaya.
Austin berdehem sekali lagi, membuyarkan lamunan Kara yang lagi-lagi mengabaikan keadaan atasannya itu.
"Maaf tuan, sepertinya saya memang sedang sakit, bolehkah saya minta izin setengah hari, karena kepala saya mendadak pusing sekali," ucap Kara.
Austin melihat wajah Kara yang terlihat pucat, mungkin memang benar sekretarisnya itu sedang sakit, sebaiknya memang Kara harus pulang untuk istirahat. Kalau tetap dipaksakan untuk bekerja, yang ada nanti akan kacau dan pekerjaannya banyak yang tidak benar.
"Baiklah, kau boleh pulang, Kara. Beristirahatlah di rumah!"
Austin kemudian kembali ke ruangannya, dia harus bekerja ekstra karena Kara harus pulang.
Di sisi lain.
Ave hanya bisa menggelengkan kepalanya setelah mendengar perdebatan antara pasangan yang baru saja keluar dari ruangan nya itu.
__ADS_1
Ada suatu yang mengusik hatinya kala mendengar ucapan Mily yang mengatakan bahwa dia ingin membatalkan pernikahan nya dengan Steven.
Ave bertanya kenapa gadis itu tiba-tiba berubah pikiran, Mily hanya menjelaskan bahwa Steven tidak menyukai nya. Tapi berbeda dengan Mily yang langsung jatuh cinta pada pria itu pada pandangan pertama.
Namun sungguh diluar dugaan, ternyata Steven seakan marah ketika mendengar bahwa Mily akan membatalkan pernikahan mereka.
Bukankah sejak awal sikap Steven seperti tidak menyukai Mily? Lalu kenapa pria itu tidak mau membatalkannya?
"Ah, sudahlah, dasar anak muda jaman sekarang!" gumam Ave
Tiba-tiba layar ponselnya menyala dan nama sang suami terlihat di sana.
"Halo, Austin, ada apa?"
"Sayang, aku ingin mengajakmu makan siang bareng, kamu gak ada janji dengan klien, kan?"
"Tidak ada, aku bebas sekarang."
"Baiklah, kalau begitu aku akan menjemputmu."
"Hemm!"
"I love you too!"
Ave meletakkan kembali ponselnya di atas meja setelah sang suami mematikan panggilan nya.
*****
Austin menarik kursi untuk sang istri duduki, terlihat sekali dia benar-benar antusias membuat Ave benar-benar jatuh ke dalam pesonanya kembali. Ave bisa melihat ketulusan yang terpancar dari wajah sang suami yang terlihat semakin hidup.
Dulu Austin tidak begini, Ave lah yang lebih banyak melakukan perannya sebagai istri meskipun keduanya saling mencintai.
Namun sikap Austin yang dulu sedikit dingin dan cuek. Ave sama sekali tidak menyangka jika suaminya bisa menjadi seorang pria yang bucin terhadap istrinya.
"Apakah kau senang, sayang, semua makanan ini adalah favorit mu," Ave menatap menatap takjub semua makanan yang tersaji di atas mejanya setelah Austin memesan makanannya dan baru datang 15 lebih menit kemudian.
Tidak banyak yang Austin pesan, hanya beberapa makanan kesukaan sang istri. Ada ayam goreng krispi, mashed potato dan jus melon untuk minumannya.
__ADS_1
"Terima kasih, suamiku, ternyata sekarang kamu benar-benar bisa membuat ku senang dengan berbagai macam makanan, terlebih sikapmu yang 180% berubah," ujar Ave.
"Apakah dulu kau tidak menyukai sikapku, sayang?"
"Tidak juga, bukankah dulu aku yang begitu agresif, tetapi sekarang kau yang jadi budak cintaku!" Ave terkekeh ketika mengatakan bahwa Austin adalah budak cintanya.
"Aku memang budak mu, sayang, aku akan selalu membahagiakan mu, tidak akan membuat kamu menangis lagi, aku akan menebus semua dosaku padamu di masa lalu dengan kebahagiaan untuk keluarga kecil kita!" ucap Austin menggenggam tangan istrinya.
"Terima kasih, sayang!"
Akhirnya mereka menghabiskan makan siangnya di selingi canda tawa.
"Eh, bukankah itu Steven? Sama siapa dia?" tunjuk Ave ke arah dua orang yang sepertinya baru saja masuk ke dalam restoran dan langsung mencari tempat duduk disudut.
Austin langsung menoleh ke arah yang Ave tunjukkan. Dahinya mengernyit ketika melihat dua orang yang tidak asing.
"Bukankah itu Kara, sekretaris ku, katanya sakit, tapi kok sekarang dia jalan-jalan sama kekasihnya? Wah tidak bisa dibiarkan!" ujar Austin.
Ave mengerjakan matanya, Austin bilang bahwa wanita yang bersama Steven tadi bernama Kara, dan dia adalah kekasih Steven? Bukankah Steven akan menikah dengan Mily?
Sebesar-besarnya ada apa dengan hubungan mereka?
"Sayang, apakah kamu kenal dengan kekasih Kara?" tanya Ave penasaran.
"Tidak, hanya saja sering lihat dia di jemput oleh pria itu dan Kara mengatakan bahwa itu adalah kekasihnya!"
Oh, jadi seperti ini ceritanya.
"Tuan Austin! Anda di sini juga?"
Austin dan Ave menoleh dan melihat Kara yang sedang berdiri tidak jauh darinya bersama Steven di belakangnya.
"Tuan Steven?" Steven membelalakkan matanya ketika mengenali wanita yang bersama atasan Kara itu.
"Kara, bukankah kamu bilang akan pulang dan istirahat?" tanya Austin.
"Iya, tuan, tapi saya di ajak keluar makan sama Steven, tapi sepertinya menu di sini kurang cocok, jadi kami akan pergi mencari restoran yang lain, permisi!"
__ADS_1
Kara dan Steven berjalan meninggalkan Ave dan Austin. Namun tiba-tiba Ave berseru. "Tuan Steven, bukankah tadi anda sedang bersama nona Mily, calon istri anda?"
Bersambung