
Happy Reading.
Austin mengelus bahu Aldo perlahan, putranya itu sudah terlelap di alam mimpinya. Di tatap wajah tampan sang putra yang sangat mirip dengannya itu. Setelah merasa bahwa Aldo bisa di tinggal, akhirnya perlahan pria itu bangkit dan melihat pintu kamar Ave yang terbuka. Tadi mantan istrinya itu keluar setelah ikut menidurkan putra mereka yang merengek minta tidur bersama.
Austin sudah tiga malam menginap di rumah mantan istri dan akan pulang saat pagi hari. Dia tahu kalau pekerjaan nya sudah di hentikan oleh Laura. Seharusnya dia kembali ke Florida dan kembali ke perusahaan miliknya yang sekarang sudah di akuisisi oleh pihak lain karena Austin menjual hampir semua saham yang ia punya.
Perusahaan itu sempat di beli oleh perusahaan Laura dan di jual lagi ke investor asing yang lebih memiliki banyak uang. Laura menyuruh Austin bekerja di perusahaan nya karena suatu saat nanti saat ia dan Laura menikah, keduanya sama-sama bekerja sama untuk membuat perusahaan itu maju.
Tapi itu dulu, sebelum dia memutuskan pertunangannya dengan Laura. Saat ini Austin hanya memiliki 5% saham yang berada di perusahaannya yang dulu.
Ave menghela napas sambil mengaduk susu coklat kesukaannya, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam namun Ave sama sekali belum mengantuk.
Austin melihat sang mantan istri berdiri di depan meja dapur sambil melamun, sepertinya wanita yang sudah melahirkan putranya itu sedang banyak masalah, terlihat dari raut wajahnya yang terlihat kusut.
"Ave, ada apa?"
"Astaga!! Kau mengagetkanku!!" Austin terkekeh melihat Ave yang terkejut.
Berarti benar dugaannya bila Ave memang sedang melamun. "Kamu melamun?"
"Tidak, aku hanya sedang berpikir," jawab Ave tidak sepenuhnya berbohong.
__ADS_1
Austin mengerutkan keningnya, "berpikir apa?"
Kali ini Ave menoleh dan menghadap ke arah sang mantan suami yang akhir-akhir ini berubah menjadi semakin posesif saja.
"Berpikir bagaimana caranya membuatmu pulang malam ini!" seru Ave.
Austin kali terkejut sampai memundurkan wajahnya karena Ave sudah melotot tajam. "Ke-kenapa aku harus pulang?"
"Masih tanya kenapa??" Austin menelan salivanya.
"Iya, kenapa kamu nyuruh aku pulang? Aku kan menemani Aldo tidur setiap malam," jawab Austin hati-hati.
Ave bersedekap dada, "tapi tidak seharusnya setiap malam kamu harus menginap di rumahku, Austin! Kamu sudah punya apartemen sendiri, jadi sebaiknya besok kita gantan yang menjaga Aldo, bagaimana?"
Ave menggeleng, dia bingung dengan keadaannya saat ini, ibunya pasti tidak merestui mereka jika kembali bersama.
"Sebenarnya aku-aku ..."
Austin menarik Ave ke dalam pelukannya, merapatkan pinggang wanita itu dan memeluknya erat. "Sssttt.. aku tahu apa yang kamu pikirkan, sayang! kamu pasti memikirkan ibumu, kan?"
Ave mendongak, menatap Austin yang sedang tersenyum ke arahnya. "Ibu pasti tidak akan mau merestui hubungan kita, dia belum tau kalau kamu setiap malam tidur di sini, ibu sedang ke Venezuela, kalau dia tahu pasti aku dan Aldo di suruh tidur di rumahnya," cicit Ave cemberut.
__ADS_1
"Nanti kamu dan Al akan ku culik, aku gak mau pisah denganmu, sayang! Ayo kita nikah kembali!" ujar Austin mencium pucuk rambut mantan istrinya.
"Nikah, nikah! Apa kamu tidak malu sudah membatalkan pernikahan mu dengan Laura? Lalu bagaimana dengan Laura kalau kamu tiba-tiba nikah sama aku?"
Austin menangkup wajah Ave dan mendekatkan wajahnya, "aku sudah mengatakan pada Laura jika aku ingin kembali bersama mu dan kita membesarkan Aldo bersama, semua hal yang akan membuat hubungan kita tidak berjalan lancar akan ku bereskan!"
Ave melihat sorot mata Austin yang mengatakan penuh dengan keseriusan, dia bisa melihat di mata itu bahwa Austin sangat bersungguh-sungguh dengan ucapannya barusan.
"Baiklah, demi Aldo aku akan menerima mu kembali, tapi kalau sampai kamu mengulangi kesalahan yang sama, akan ku pastikan kamu tidak akan pernah bisa bertemu dengan Aldo lagi!" senyum lebar terbit di bibir Austin.
Sungguh kali ini perasaannya benar-benar bahagia, dia tidak peduli bahwa sekarang dia sudah tidak memiliki pekerjaan, yang penting usahanya untuk bisa bersama mantan istri dan anaknya bisa ia wujudkan.
Biarlah nanti dia mencari pekerjaan di New York sebagai apapun jabatannya, yang penting keputusan nya kali ini tidak akan membuatnya menyesal di kemudian hari. Mungkin jika dia tetap memilih Laura, yang ada pernikahan mereka akan hambar karena perasaan cinta itu tidak pernah ada.
Austin masih mencintai Ave, dan dia tidak mau menyakitkan Laura suatu saat nanti jika hatinya masih terpaut pada sang mantan istri, apalagi dengan kehadiran Aldo di tengah-tengah mereka.
"Terima kasih, sayang!" Austin mencium bibir Ave dan memagut nya lembut, merasakan rasa manis di bibir candu itu.
Ave menyambut ciuman itu dengan membuka bibirnya, lidah Austin masuk menari di dalam sana, saling melilitk dan menghisap lembut. Perasaan membuncah ini sudah lama tidak mereka rasakan. Letupan kebahagiaan di hati mereka membuat ciuman itu pun berubah menjadi semakin intens.
Bersambung.
__ADS_1
Maaf ya akak2 reader semuanya kalau up nya telat terus 🙏