
Happy Reading.
Austin mengambil sang putra dari gendongan Mommy nya. Setelah merengek dan meminta sang Daddy untuk menginap di rumahnya akhirnya Aldo menangis kencang karena Mommy tidak memperbolehkan.
"Sstt! Al gak boleh nangis, Daddy gak akan pergi kok, Dad di sini kan, sekarang?" ucap Austin berjalan ke kamar Aldo.
"Hiks, Dad gak boleh pulang, harus nemenin Al tidur sampai besok!"
"Iya, sayang! Dad akan di samping Al, sekarang kita tidur lagi, hmmm!" Austin masuk ke dalam kamar sang putra dan segera merebahkannya di atas ranjang.
Sungguh hatinya terasa begitu miris saat mendengar putranya menangis menginginkan dirinya tinggal. Meskipun sebenarnya mantan istrinya begitu keberatan, tapi Ave juga sepertinya tidak tega melihat putranya yang seperti itu.
Austin mencium rambut Aldo dan mengelusnya perlahan, anak itu menutup matanya kembali setelah merasakan bahwa sang Daddy berada di sampingnya dan memeluknya.
"Tidurlah putraku, Dad akan selalu ada di samping mu," bisik Austin.
Sedangkan Ave masih berada di luar, wanita itu bersidekap dada menatap Zack dan Caroline dengan memicingkan mata, curiga karena tiba-tiba putranya bisa bangun setelah terlelap, karena hal itu bukan kebiasaan Aldo.
Sang putra sangat jarang terbangun kalau bukan di waktu pagi hari, dan Ave merasa bahwa terbangunlah Aldo ada hubungannya dengan kedua pasangan ini.
Zack balik menantang Ave dengan mengangkat dagunya, "apa? Kenapa kamu menatap kami seperti itu?" tanya Zack.
Ck, ternyata benar dugaannya.
"Awas saja kalau kalian ada di balik sekenario ini!" Ave langsung masuk ke kamar Aldo setelah memberikan tatapan tajam pada keduanya. Meskipun tahu kalau semua ini ulah Zack, tapi Ave masih memaafkan mereka. Hanya saja jangan pernah berpikir kalau mereka ingin membuat nya dan Austin bersatu kembali, karena itu tidak mungkin, hubungan mereka terlalu rumit.
Meskipun keduanya masih sama-sama memiliki perasaan itu, namun status Austin sudah tidak bisa di ganggu lagi.
Ave melihat dua pria beda usia itu telah terlelap di kasur yang memakai sprei karakter Batman. Hatinya kembali menghangat, desiran itu muncul kembali ketika melihat sang mantan dan sang putra yang tidur saling berpelukan.
__ADS_1
"Jika kamu suatu saat nanti memiliki anak dari istrimu, ku harap kasih sayangmu tidak akan pernah berkurang untuk putra kita," lirih Ave.
Wanita itu kemudian berjalan menuju sofa yang lumayan besar di kamar itu, kemudian dia merebahkan tubuhnya di sana.
Ave tidak ingin merasa sedih dengan keputusannya itu, semuanya sudah berjalan dengan semestinya. Lalu apa lagi yang ia inginkan? apakah dia juga akan membuka hatinya untuk pria lain?
'Kalau Austin sudah bahagia dengan pasangan nya, apakah aku juga sudah pantas membuka hatiku untuk pria lain dan bisa hidup bahagia?' batin Ave.
Wanita itu menghela napas, sepertinya dia harus segera tidur agar pikirannya tidak kembali memikirkan hal-hal yang aneh.
Sedangkan Austin sendiri sebenarnya belum tidur, dia hanya memejamkan matanya ketika mendengar Ave masuk. Namun kata-kata Ave tadi benar-benar menusuk hatinya, merobek perlahan hingga mengeluarkan sakit yang luar biasa, bahkan kata-kata itu terus terngiang di telinga Austin.
Jika kamu suatu saat nanti memiliki anak dari istrimu, ku harap kasih sayangmu tidak akan pernah berkurang untuk putra kita.
Tiba-tiba sudut mata Austin basah, adakah rasa sakit selain ini? dia sama sekali belum pernah merasakan hari-harinya bersama Aldo, baru seminggu ini dia tahu tentang putranya. Lalu apakah dia sempat memikirkan akan memiliki anak dengan wanita lain kalau di hatinya masih tersimpan satu nama, yaitu Ibu dari putranya sendiri.
Sedangkan di luar kamar.
"Huft, ku rasa Ave sekarang sudah berubah menjadi singa betina yang menakutkan!" ujar Zack.
"Kau tidak tahu, ya? kalau naluri seorang ibu itu bisa lebih peka," ujar Caroline.
"Tapi kamu juga peka, loh yank! Itu berarti kamu sudah pantas untuk menjadi seorang Ibu," Caroline memutar bola matanya.
"Aku sudah ngantuk, sebaiknya kita masuk ke kamar dan tidur!" Caroline menarik lengan Zack masuk ke dalam kamar Ave yang memang sudah di siapkan untuk mereka.
Mungkin tidak akan ada yang tahu bagaimana perasaan Zack dan Caroline saat ini, melihat kedua orang yang pernah merasakan asam pahitnya pernikahan sampai mereka bercerai dan memiliki seorang anak. Tentu keduanya ingin mereka bisa kembali bersama.
"Apakah kita tidak terlalu jahat pada calon istrinya kak Austin, sayang?" tanya Caroline bersandar di dada Zack, mencari posisi nyaman untuk tidur.
__ADS_1
"Entahlah, kita hanya bisa membantu sebisanya, misalkan Austin tetap menikah dengan Laura, berarti itu sudah menjadi takdirnya. Dan takdir bersama Ave memang sudah cukup sampai di sini," jawab Zack.
Pria yang berprofesi sebagai dosen itu semakin mengeratkan pelukannya pada sang kekasih, meskipun mereka belum menikah, tapi mereka memang sudah sering tidur bersama, di atas ranjang yang sama dan memakai selimut berdua.
Tapi jangan harap ada adegan olahraga dan menguras tenaga. Caroline benar-benar akan memukul senjata Zack kalau pria itu berani melakukan tindakan di luar batas.
Mungkin yang paling hot hanya pegang-pegang dada dan ciuman, itupun Zack harus selalu bisa menahan diri. Untung saja selama ini Zack selalu menanamkan pemikiran yang positif agar hubungan nya dan Carol adem ayem dan tidak ada pertengkaran.
"Sayang, kenapa diam saja?" Zack melihat Caroline yang sudah menutup matanya, napasnya juga sudah terdengar teratur.
"Hahaha, ternyata kamu sudah tidur, selalu secepat itu, good night My Lovely!" Zack mencium kening Caroline dan ikut memejamkan matanya.
****
Ave merasakan benda hangat namun basah di bibirnya, seperti mimpi yang jelas, mimpi yang terlihat nyata, bibirnya terasa di lumaat dan di hisap pelan.
Entah kenapa rasanya hangat dan memabukkan, Ave seakan menerima perlakuan itu, deru napas hangat menerpa pipi dan hidungnya, aroma maskulin yang bisa Ave hirup benar-benar terasa sangat familiar.
Ave belum berani membuka matanya, namu dia tahu siapa pelakunya ini, ingin rasanya mendorong tubuh kekar di atasnya namun entah kenapa nalurinya malah membiarkan saja.
"I love you, i miss you!" suara itu berbisik di telinganya.
Perlahan tangan hangat dan kekar itu menarik tali kimono piyamanya, sungguh Ave merasakan aura panas dan menggelitik di bawah perut secara bersamaan. Bahkan darahnya sekarang teraliri listrik bertegangan tinggi saat tangan besar itu menyentuh perutnya.
'Aaakkk, apakah ini hanya mimpi? apakah dia berani melakukan hal ini padaku!!' jerit batin Ave.
Bersambung.
Hayooo,,, siapa sih itu??ðŸ¤
__ADS_1