Mantan Suami Posesif

Mantan Suami Posesif
Aku Merindukanmu


__ADS_3

Happy Reading.


Austin menatap punggung Laura yang bergetar karena menahan tangis. Dia tahu apa yang di lakukan ini mungkin akan berakibat buruk dengan karir dan juga hidupnya, namun dia memang harus melakukan hal ini.


Dia juga tahu kalau tindakannya ini pasti akan sangat menyakiti Laura, lihatlah sekarang bagaimana wanita itu menangis dari restoran sampai ke apartemen. Bahkan di perjalanannya, Laura tidak henti-hentinya terisak karena keputusan Austin yang akan membatalkan rencana pernikahan mereka secara dadakan.


Saat ini Laura dan Austin sudah berada di dalam lift menuju unit apartemen mereka.


"Hiks, hiks! Kamu jahat Austin!"


"Maaf, Laura ... Aku sadar bahwa aku memang brengsek! Aku bukan pria yang baik untukmu. Mungkin memang sebaiknya aku jujur padamu sejak awal, sebenarnya aku masih belum bisa mencintaimu sepenuh hati, apalagi sekarang aku tahu kalau ternyata aku sudah memiliki anak. Aku menjadi semakin ingin bersama dengan Ave dan juga Aldo, maafkan aku!!" kejujuran Austin semakin membuat dada Laura semakin sesak.


"Kenapa? Kenapa kamu lakukan ini padaku, Austin!!" Laura berbalik dan memukul dada pria itu.


Austin tidak mengelak, bahkan dia tidak menahan tangan kecil itu yang saat ini membabi buta memukuli seluruh tubuhnya.


Plak!! Plak!!


Laura benar-benar meluapkan seluruh kemarahannya pada Austin, mungkin dengan begini dia bisa merasa sedikit lega. Batin pria itu.


Sedangkan di sisi lain.


Ave masuk ke dalam rumah ibunya dan langsung langsung mencari Aldo. "Sayang, ayo kita pulang!" Aldo menoleh saat mendengar suara Mommy nya.


"Ave, apakah acara kencan mu sudah selesai? Kenapa cepat sekali?" tanya Nyonya Alma yang saat itu tengah menemani sang cucu bermain.


Ave duduk di sofa dan mendesah kasar, masih sedikit kesal karena pertemuan nya dengan pria pilihan sang ibu yang ternyata sedikit gila.


"Bu, apakah ibu benar-benar sudah mengenal Max Hilton?" bukannya menjawab Ave malah mengajukan pertanyaan.


"Max itu anak dari salah satu sahabat ibu, dia pria yang baik, kaya, dan tentunya sangat menghormati orang tua," Ave berdecak.


"Apa ibu tahu kalau Max itu sedikit gila?"

__ADS_1


"Gila? Jangan bicara ngawur, Ave!! Dia itu anak konglomerat yang sangat disegani di kota ini, kalau sampai dia tahu kamu membicarakan nya, yang ada nanti kita bakal kena masalah!!" ucap Nyonya Alma.


"Bu, apakah ibu tahu kalau kalau Max mencari wanita hanya karena seorang keturunan?"


"Ya tentu saja, Ave, setiap pria yang sudah dewasa pasti mencari wanita untuk mendapatkan keturunan, mereka akan bahagia kalau memiliki seorang anak dan bisa di pastikan kehidupan mereka akan menjadi lebih harmonis lagi!" jawab Nyonya Alma.


Ave hanya bisa menggelengkan kepalanya, ibunya ini pasti tidak tahu bahwa Max hanyalah pria gila yang menyuruh nya menjadi istri untuk melahirkan anak-anak nya.


"Sudahlah, Bu! Intinya aku dan Tuan Max Hilton tidak ada kecocokan sama sekali, benar kata Ibu bahwa Tuan Max tampan, kaya dan baik hati, dia hanya ingin mencari seorang istri yang masih belum memiliki anak, sedangkan aku sudah memiliki Aldo, jadi aku sudah ter-eliminasi dari calon istri idaman!" huh, sekalian saja Ave berbohong karena ibunya juga masih mencoba untuk menjodohkan dia dengan Max Hilton.


"Tapi, Ave!"


"Bu! Aku lelah, aku capek, jadi sekarang aku hanya ingin istirahat di rumah!" jawab Ave cepat.


Wanita itu langsung menghampiri Aldo dan menggendongnya. Aldo terlihat sudah mengantuk karena menguap beberapa kali. Ave mengambil jaket bulu milik Aldi dan memakaikan nya.


"Ayo sayang, kita pulang, cuaca semakin dingin di luar, Aldo pakai ini, ya?" Aldo mengangguk kemudian memasukkan lengannya ke jaket yang di pakaian oleh sang Mommy.


Nyonya Alma hanya bisa menghela napas, sejujurnya dia tahu kalau perbuatannya untuk mencarikan jodoh Ave pasti akan mendapatkan penolakannya dari Putri nya itu.


Tapi tentu saja Nyonya Alma tidak akan membuat Ave akan menoleh ke belakang dan berlari ke arah mantan suaminya. Selama sebulan ini, instingnya sebagai seorang ibu sangatlah kuat. Dia bisa mengetahuinya kalau sebenarnya Ave dan Austin masih memiliki ketertarikan satu sama lain, meskipun keduanya selalu bisa menguasai dirinya.


'Aku hanya ingin kamu tidak bersedih lagi, apalagi sekarang ada Aldo di antara kalian, ini akan membuat tekad hati semakin kuat, entah itu ada pada hati Austin atau hatinya Ave, aku hanya ingin kamu bahagia, Ave!'


***


Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Ave dan Aldo sudah terlelap karena memang cuaca yang sangat dingin membuat suasana membuat orang-orang akan gampang tertidur dengan cepat.


Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari arah luar kamar dan hal itu membuat Ave langsung membuka matanya.


"Suara apa itu?" gumam Ave.


Entah kenapa tiba-tiba dia merasa merinding, teringat malam itu saat ada seseorang yang menyentuhnya.

__ADS_1


'Apa benar ada hantu di rumah ini!!' jerit Ave dalam hati.


Ave akhirnya memutuskan untuk bangku dari tempat tidur dan keluar kamar, Ave memutuskan untuk tidur bersama Aldo di kamar putranya.


Pada saat Ave akan membuka pintu kamar Aldo, tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perutnya.


"AAAAKKK!!" teriak Ave.


"Ssttt ... Ave, kenapa kamu berteriak! Ini aku, coba lihat, tatap wajahku!" Ave membuka matanya ketika mendengar suara yang sangat familiar.


"A-austin!! Kenapa kamu ada di rumah ku!! Kamu membuatku kaget, tau!" Ave mendorong dada Austin membuat tangan pria itu terlepas dari pinggangnya.


"Aku, aku, aku tidak bisa tidur, aku merindukan Aldo," kilah Austin. Sebenarnya dia mendatangi rumah mantan istrinya karena rindu.


Ave memicingkan matanya, tercium bau yang menyengat dari mulut Austin, "kamu mabuk?"


"Ah, aku hanya minum sedikit!"


"Austin!! Jangan dekati Aldo kalau kamu sedang mabuk!! Dan kenapa kamu bisa masuk ke rumahku??" seru Ave berkacak pinggang.


"Aku punya kunci duplikat nya dari Nanny Aldo," Ave menepuk jidatnya.


Sepertinya dia harus memarahi Mia besok.


"Ayo, ikut aku!!" Ave menyeret tangan Austin menuju kamarnya.


Austin tersenyum saat melihat tangannya di genggam oleh sang mantan. Hatinya menghangat, padahal saat ini dirinya sedang tidak baik-baik saja. Namun saat berada di sisi Ave, rasanya menjadi sedikit lebih tenang dan bahagia.


"Kamu bersihkan diri dulu, dan tidur di kamarku, jangan tidur bareng Aldo, aku yang akan tidur sama dia!"


"Kenapa kita tidak tidur bersama saja? Aku merindukanmu, Ave!"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2