
Happy Reading
Austin dan Zack menatap horor ke arah depan ketika seorang dokter pria paruh baya dan Vivian baru saja menjelaskan tentang kejadian yang beberapa saat lalu terjadi.
Vivian mendadak memeluk seorang wanita yang baru saja datang dengan wajah yang gusar. Wanita itu tidak terlihat seperti wanita, meskipun garis wajahnya sangat jelas menggambarkan bahwa dia adalah seorang wanita, namun dia memakai pakaian layaknya seorang pria dan juga rambutnya yang pendek. Jika di lihat dari belakang siapapun pasti mengira bahwa orang tersebut memang benar-benar seorang pria.
"Sabar Vi, semua sudah menjadi jalan takdirnya, kamu tidak perlu bersedih, masih ada aku yang akan selalu setia menemani mu!" ujar wanita itu.
Beberapa kali wanita model pria ini mencium pucuk kepala Vivian, wanita itu merasakan kesedihan yang paling dalam karena putrinya tidak kuat menjalani kehidupan dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya saat kolaps beberapa jam yang lalu.
Zack menyenggol lengan Austin, "apa kamu merasakan apa yang aku rasakan?" bisik Zack, Austin mengangguk ragu.
"Jadi, apakah dua pria ini sahabatmu?" Zack dan Austin langsung menatap wanita yang memiliki wajah sangar dan juga tatapan matanya yang tajam seakan bisa menusuk kedua pria itu.
Vivian mengganggu, "aku ingin istirahat sebentar sebelum mengurus Tania, bawa aku Noy, kepalaku sakiy sekali!" lirih Vivian namun masih bisa di dengar jelas oleh Austin dan Zack.
"Baiklah, ayo aku papah kamu," wanita yang di panggil Noy oleh Vivian itu mengambil lengannya dan langsung memapah Vivian dan membawanya masuk.
"Sepertinya kali ini kamu selamat, bro! Berterima kasihlah pada calon istrimu yang dengan setia pasti mendoakan mu saat ini, aku tadi lihat raut wajahnya yang begitu khawatir, tapi untung saja ternyata Vivian itu belok!" ucap Zack terkekeh geli.
__ADS_1
"Kenapa bahasamu belok? Bukankah itu hanya untuk kaum kita?" Austin mencibir. Namun tak ayal dengan mengetahui yang sebenarnya terjadi dan fakta bahwa Vivian sudah pindah jalur, Austin merasa lega.
"Ya udah, ayo kita kembali ke apartemen, mudah-mudahan setelah ini tidak ada masalah lagi yang membuat hubungan ku dan Ave jadi bermasalah!"
Malam itu akhirnya Austin dan Zack kembali ke apartemen dan di sambut dengan pelukan hangat oleh Ave.
"Kasian Tania, gadis kecil itu pasti sudah merasa bahagia dan tidak sakit lagi, Tuhan lebih sayang padanya," ucap Ave masih membenamkan wajahnya kedada Austin.
"Iya, mungkin inilah takdir Tania, kasian kalau dia harus hidup bersama Mommy nya yang ternyata memiliki kelainan, pasti Tania akan sedih," jawab Austin.
"Aku jadi kangen Aldo."
Masih nemplok seperti cicak, Ave tidak bergerak sama sekali dari atas tubuh Austin memeluknya erat saat pria itu merebahkan tubuhnya.
Austin bertelanjang dada dan hal itu membuat tubuh Ave terasa hangat ketika kulit mereka bersentuhan. Tidak ada adegan apapun diantara mereka, meskipun kedua pasangan itu tidur dengan saling berpelukan erat.
Akhirnya Austin dan Ave masuk ke dalam pesawat yang akan membawa mereka pulang ke New York.
Seperti Austin harus segera menghalalkan hubungan mereka, agar tidak ada lagi rintangan yang bisa menggoyahkan komitmen yang akan mereka bangun.
__ADS_1
******
Beberapa hari kemudian
Saat ini Austin tengah makan malam di rumah Nyonya Alma, tentu saja atas undangan Ave karena dia ingin membuat Austin dan Ibunya akur.
Raut wajah Nyonya Alma masih menunjukkan ketidaksukaan dengan Austin, namun dia masih menahan dirinya karena tidak ingin melihat tatapan sedih dari Ave, apalagi Aldo sang cucu.
"Bu, aku ingin mengatakan padamu bahwa aku akan segera menikahi Ave, minggu depan!"
Ave tersedak, Austin segera mengambil gelas air putih dan memberikan nya pada Ave.
"Uhukk, uhukk!"
"Hati-hati, sayang!" Ave menerima gelas itu dan langsung meminumnya.
Nyonya Alma mendesah panjang, sepertinya kali ini dia harus mengalah pada putrinya. Banyak hati yang harus ia jaga termasuk Aldo.
"Baiklah, aku merestui kalian!"
__ADS_1
Bersambung