Mantan Suami Posesif

Mantan Suami Posesif
Tertunda


__ADS_3

Happy Reading


Ave mengambil barang yang tadi ia beli dari apotek. Dadanya bergemuruh, jantung nya memompa lebih cepat saat Ave membuka alat tersebut dan akan menguji cobanya.


Wanita cantik itu berdoa dalam hati sambil menunggu alat itu bekerja. Beberapa menit kemudian, Ave mengambil benda tersebut, menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Matanya fokus terarah pada benda itu.


Ave menatap benda didepannya itu dengan tatapan berbinar, ternyata firasat yang dia rasakan benar terjadi. Dua garis merah menjadi saksi bahwa dia telah mengandung anak keduanya.


Sungguh tidak menyangka bahwa Tuhan sebaik itu padanya. Di saat dia ingin membangun rumah tangga kembali bersama Austin, di saat itu juga doanya selalu berharap dia bisa cepat diberikan anak lagi.


Begitu pun dengan Austin yang sangat ingin merasakan antusias nya menemani sang istri saat sedang hamil. Karena pada saat kehamilan Aldo, dia sama sekali tidak tahu kalau Ave sedang berbadan dua. Mungkin saja seandainya dia tahu, Austin tidak akan pernah mau diceraikan oleh Ave.


Namun semuanya sudah berlalu, kini Austin ingin menebus semuanya dan berharap ada keajaiban lagi dengan Tuhan memberikan anugerah mereka anak kembali.


Mungkin juga karena semuanya saling tulus, saling memaafkan dan menyayangi kembali, sehingga Tuhan mengabulkan doa keduanya dengan begitu cepat.


Ave segera keluar dari dalam kamar mandi, mencari sang suami yang saat ini sedang bermain bersama Aldo di ruang keluarga.


Rumah Ave memang memiliki ruang keluarga sendiri, tidak terlalu besar tapi cukup untuk ditempati empat anggota keluarga yang sedang ingin menonton televisi.


"Sayang, aku ada kabar bahagia untuk kamu!" Austin menoleh dan melihat sang istri yang sudah berurai air mata mendekat.


"Sayang, kenapa menangis? Kabar apa?" tanya Austin panik ketika melihat sang istri yang seperti itu. Ave memberikan tes pack itu kepada Austin.

__ADS_1


Austin menerima nya, menatap benda kecil panjang itu dengan kening yang berkerut. Ave yang paham bahwa sang suami tidak mengerti akan menjelaskan.


Tapi saat Ave akan membuka mulutnya, tiba-tiba pintu rumah di ketuk. "Biar aku yang buka pintu," sela Austin.


"Baiklah," jawab Ave.


Wanita itu menyimpan kembali test pack tersebut ke dalam saku, kemudian dia menemani Aldo yang sedang bermain lego di atas karpet.


"Aldo sayang, kalau misalkan Aldo punya adik, maunya adik laki-laki atau perempuan?" tanya Ave pada putranya itu.


Anak itu langsung mendongak menatap ibunya, "Al maunya adik laki-laki, Mom!" jawab bocah berusia hampir 6 tahun itu.


Ave tersenyum menatap sang putra, "kenapa harus laki-laki?"


Sementara itu...


Austin melihat seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah Noura yang datang bersama Mily.


Austin mengenali wanita itu karena kemarin datang ke acara pernikahan nya.


"Selamat malam tuan Austin, maaf kami malam-malam menganggu," ucap Mily.


"Oh, nona Mily dan Nyonya Noura, silahkan masuk!" Austin membuka pintunya lebar dan mempersilahkan kedua wanita itu masuk ke dalam.

__ADS_1


"Sebentar, saya akan panggil kan istri saya," Austin masuk ke dalam dan mencari istrinya.


Beberapa saat kemudian Ave keluar bersama Aldo. Mily menyambut Ave dengan pelukan, tampak wanita itu terlihat sangat bahagia.


"Nona Ave, terima kasih atas semuanya, terima kasih karena telah membuat Steven memilih keputusan untuk memilih saya, jujur saya hampir menyerah dengan perjodohan ini, tapi setelah anda meyakinkan Steven kembali, akhirnya dia memilih saya," ucap Mily setelah melepaskan pelukan mereka.


"Iya Nona Ave, sebenarnya Mily juga terpaksa menerima perjodohan ini, tapi mau bagaimana lagi, mendiang Papa Mily dan juga Papa Steven sudah saling sepakat untuk menikah kan mereka," ucap Nyonya Noura menambahkan.


Ave tersenyum, "iya, sama-sama, saya hanya menasihati tuan Steven agar memilih sesuai keinginan hatinya," jawab Ave.


Setelah beberapa lama akhirnya kedua wanita itu berpamitan. Austin melihat putranya sudah mengantuk, Aldo terlihat menguap beberapa kali.


"Aldo sayang, yuk tidur, Dad bacain dongeng yang bagus," ucap Austin menggendong sang putra.


"Oke Dad!" Austin langsung berjalan ke arah kamar Aldo masih dengan sang putra di dalam gendongannya.


"Eh, kenapa ini jadi pergi ninggalin aku sendiri, ya Tuhan Austin!! Aldo!! Kalian mengacuhkan ku!!"


Ave mengikuti kedua orang yang sangat berharga dalam hidupnya itu, dia hampir lupa jika kabar bahagia yang tadi akan diberikan kepada Austin belum ia jelaskan.


"Sstttt! Jangan ngomong dulu, Aldo baru saja tidur!" lirih Austin saat Ave masuk ke dalam kamar sang putra.


Ave menepuk keningnya, dia merasa frustrasi karena sejak tadi selalu tertunda saat ingin menyampaikan kabar bahagia pada sang suami.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2