
Happy Reading.
Austin memarkirkan mobilnya di depan sebuah bangunan yang bertuliskan Alma Wedding organizer. Dia berencana menjemput sang mantan istri yang sebentar lagi akan di jadikan istri lagi sesuai dengan janjinya tadi pagi.
Dengan langkah yang mantap dan tegap, Austin membawa sebuah buket bunga tulip putih untuk dia berikan pada wanita pujaannya.
Austin mengetuk pintu ruang kerja Ave sampai tiga kali, tapi tidak ada sahutan. Austin yang merasa penasaran terjadi apa-apa dengan Ave, langsung membuka pintu tersebut dan mendapati sang wanita pujaan tengah diam menatap layar laptopnya.
"Sayang," sapa Austin mendekati meja kerja Ave. Tidak ada tanggapan apapun dari wanita itu membuat Austin panik.
"Ave, sayang?" Austin melambaikan tangan nya di depan wajah sang mantan.
"Eh, iya, kamu udah datang?" Ave berdiri dari kursi kerjanya dan menghampiri Austin yang sudah berdiri di depannya.
"Kamu kenapa?"
Ave menggeleng, "aku tidak apa-apa, ayo kita pulang!"
Ave mengambil tas dan ponselnya, kemudian menutup laptopnya yang sebenarnya sudah mati sejak tadi. Austin mengekori sang mantan keluar dari ruangannya.
"Sepertinya kamu lagi ada masalah?" tanya Austin yang lebih mengarah ke pernyataan.
Jujur Ave masih merasakan perasaan yang tidak menentu setelah mendapatkan kabar kabur dari Vivian, sahabat nya di masa awal kuliah sekaligus mantan Austin saat masih di sekolah menengah atas.
"Ehm, aku ingin bertanya padamu," ucap Ave berusaha menetralkan debaran jantungnya saat ingin menanyakan hal ini.
Austin membuka pintu mobilnya untuk Ave, "kita bicara di dalam, sayang," Ave menurut dan langsung masuk.
"Apa yang ingin kamu tanyakan, sayang? aku tahu pasti ini bukan masalah sepele?" tanya Austin yang selalu bisa membaca pikiran Ave.
Ave meremas tangannya yang saling bertaut.
"Apakah kamu mendapatkan undangan reuni kampus?" Austin mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Tidak, aku belum mendapatkan undangan ... sayang, sebaiknya kamu bertanya terus terang, aku bisa lihat kalau kamu sedang tidak baik-baik saja dan pasti ada sesuatu yang mengganggu pikiran mu!" ucap Austin to the point.
"Aku mendapatkan undangan reuni kampus," Ave bukannya menjawab ucapan Austin.
Entah kenapa dia merasa takut jika jawaban dari Austin akan mengecewakan nya.
"Sayang!!"
Ave menahan nafas nya saat mendengar Austin memanggilnya dengan suara dalam dan tegas, yang artinya pria itu tidak bisa di bantah.
"Aku mendapatkan pesan dari Vivian akhir-akhir ini, aku ingin bertanya padamu, apakah kalian dulu sewaktu masih menjalin hubungan, sering melakukan 'itu'?"
Austin meremas setirnya dan tiba-tiba mengerem saat sudah memutar kemudinya untuk berhenti di pinggir jalan.
"Kenapa Vivian menghubungi mu? aku sudah tidak pernah berhubungan dengan nya lagi sepuluh tahun yang lalu, sayang!" Austin menatap Ave dengan pandangan yang entah kenapa terasa ada sedikit emosi di dalamnya.
Ave bisa melihat itu. "Aku tanya sekali lagi, apakah kalian sering melakukan hubungan intim?"
Austin menelan Saliva nya dengan susah payah, tiba-tiba tenggorokan nya terasa kering, meskipun itu adalah masa lalu tapi pertanyaan sang mantan membuatku tiba-tiba teringat masa-masa itu.
"Sepertinya kamu dan dia memiliki seorang anak!" Austin melotot kan mata terkejut dengan ucapan dari Ave.
...****************...
Austin dan Ave sudah berada di dalam pesawat yang menuju ke Florida untuk menghadiri acara reuni kampus. Aldo tidak ikut karena harus sekolah, meskipun mereka pergi hanya semalam saja, tapi ada hal lain yang harus mereka pastikan saat ini.
Mengenai ucapan Vivian yang entah kenapa terasa begitu tidak masuk di akal Austin.
"Ave, apa kamu masih tidak percaya padaku?" Austin menatap Ave dari samping, bisa di lihat wajah wanita itu selalu datar sejak kemarin.
Entah kenapa di saat Ave sudah mengambil keputusan untuk kembali padanya, tiba-tiba saja ada wanita masa lalu yang menurut Austin bukan wanita spesial di hidupnya meskipun mereka pernah menjalin hubungan, datang mengaku kalau dia memiliki anak darinya.
Austin memang mengakui bahwa dulu dia pernah melakukan hubungan 'itu' dengan Vivian, tapi mungkin bisa di hitung jari dan dia juga tidak lupa selalu memakai pengaman.
__ADS_1
Meskipun ada raut kekecewaan di wajah sang mantan istri, namun Austin tetap berusaha membuat Ave tidak menyerah dengan hubungan ini.
"Sayang, please!! Jangan diam terus seperti ini!" Austin menjambak rambut nya frustrasi.
Pria itu menghela nafas panjang, dia sudah berkali-kali meyakinkan bahwa dia selalu memakai pengaman dengan Vivian, Austin ingat itu.
Tapi kenapa Vivian mengatakan hal yang aneh dan ganjil kepada Ave. Apakah ada maksud tersembunyi dari semua ini.
"Nanti kita bisa melihat dengan mata kepala sendiri kalau sudah sampai sana, apakah benar Vivian dan kamu memiliki seorang anak atau tidak, bisa jadi kamu lupa dengan hal-hal di masa lalu apalagi saat pernah mengeluarkannya di dalam," jawab Ave dengan nada datar sedatar wajahnya yang masih tidak mau menatap ke arah Austin.
Pria itu tiba-tiba menggenggam tangan Ave dan meremasnya perlahan. "Aku bukan orang yang baik, sayang! Aku juga telah banyak melakukan dosa dan kesalahan untukmu, tapi aku melakukan itu dengan Vivian sebelum mengenalmu, jadi tolong, jangan hanya gara-gara masalah ini kamu menjaga jarak dengan ku!"
Ave melirik sebentar ke arah Austin, dia merasa tidak suka saat Austin menyebutkan nama Vivian. Cemburu? Jelas dia sangat cemburu meskipun itu hanya cerita masa lalu. Masa lalu yang menurut Ave saling memiliki keterikatan kalau memang mereka memiliki seorang anak.
Ave masih belum bisa percaya pada sang mantan suami meskipun Austin selalu mengatakan bahwa dia tidak pernah merasa mencetak anak dengan Vivian meskipun dalam tanda kutip.
Tapi yang Ave tahu dari Vivian, mereka memang pernah melakukan 'itu' dan pernah sekali Vivian menginginkan Austin tidak memakai pengaman. Tapi misalkan Vivian memang benar memiliki anak dengan Austin, kenapa baru sekarang Vivian muncul kembali.
Benak Ave juga bertanya-tanya.
Bukankah kalau di hitung-hitung kalau memang mereka memiliki seorang anak sekarang sudah berusia 10 tahun.
"Sayang, ku harap kamu tidak terbawa kata-kata Vivian, lagi pula kalau memang aku memiliki anak dengan nya, aku juga tidak akan lari dari tanggung jawab, aku akan memberikan nafkah yang seharusnya dia dapatkan, memberikan hak dia, tapi semua itu tetap tidak akan berpengaruh terhadap hubungan kita," Austin masih menggenggam tangan Ave.
Mata Ave memanas, tapi dia masih berusaha menahan agar air matanya tidak terjatuh. "Aku percaya padamu, Austin! aku tidak ingin kehilangan lagi!"
Bersambung.
Hai akak reader tercinta 🥰🥰
maaf kalau up nya belum stabil 🙏🙏
othor baru pemulihan pasca melahirkan.
__ADS_1
Tetap stay terus pokoknya, ya??