Mantan Suami Posesif

Mantan Suami Posesif
Josh & Laura


__ADS_3

Happy Reading.


"Josh!" lirih Laura.


Pria itu masih tersenyum menatap wanita yang masih dicintainya hingga saat ini, dia benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan Laura, padahal baru saja tadi dia akan pergi setelah bertemu dengan salah satu sahabatnya di kafe itu.


"Jadi kamu sedang berada di Florida?" tanya pria itu.


Laura tidak menjawab, wanita itu masih diam saja dan hanya memandang Josh dengan perasaan yang tidak karuan.


Melihat keterdiaman Laura, Josh hanya bisa menghela napas, pria itu merasa jika Laura mungkin tidak menginginkan kehadirannya. Josh ingin pergi, namun ia urungkan ketika melihat raut wajah Laura yang terlihat sedih dan sudut matanya sudah menggenang. Josh terkejut, apakah Laura sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja?


Sedangkan Laura yang sejak tadi berusaha meredam gejolak di hatinya, tiba-tiba semakin terasa sakit ketika berjumpa dengan Josh.


"Laura, ada apa? Kenapa matamu berkaca-kaca?" Josh panik, kemudian berjalan mendekat dan berdiri di samping Laura yang entah kenapa tiba-tiba matanya terasa memanas. Laura tidak tahu kenapa, yang pasti semakin melihat kekhawatiran di mata Josh, wanita itu semakin tidak bisa mengendalikan diri.


Melihat Josh dan senyum dari pria masa lalunya itu, ada suatu perasaan yang membuat dadanya sesak. Air matanya luruh seketika, Laura ternyata tidak sekuat itu. Hatinya lemah, sakit, kecewa, dan segala perasaan campur aduk lainnya.


Sebesar apapun dan sedalam apapun dia menyembunyikan perasaan sedihnya, berusaha tegar dengan mengangkat dagu dan berjalan tegap, namun tetap saja ada luka yang menggores hatinya. Luka yang berusaha dia tutupi dan sembuhkan.


Josh semakin panik ketika melihat bahu Laura bergetar hebat, kedua tangan wanita itu ia gunakan untuk menutupi seluruh wajahnya yang sudah basah oleh air mata. Laura tidak meronta, dia hanya terisak, bahkan isakan itu ia tahan agar tidak terdengar oleh siapapun, namun semuanya sia-sia karena tetap saja suara tangisnya keluar dari mulut.


Josh yang melihat hal itu langsung menarik Laura ke dalam pelukannya, adegan mereka ini bahkan sempat menarik perhatian pengunjung cafe itu. Laura meronta minta dilepaskan, bahkan kepalan tangannya sudah memukuli dada bidang Josh. "Lepaskan aku!!" seru Laura.


"Tidak! Aku tidak akan melepaskan mu! Ayo kita pergi ke tempat lain, aku ingin kamu menceritakan semuanya padaku, Laura!"

__ADS_1


Josh memeluk bahu Laura dan dengan sedikit paksaan membawa wanita itu keluar dari kafe tersebut.


Pria itu membawa mobilnya menuju ke apartemen miliknya, dia merasa Laura saat ini tidak baik-baik saja dan butuh seseorang untuk mendengarkan keluh kesahnya.


Setelah beberapa saat mobil itu berhenti di lobi apartemen. Josh membuka pintu mobilnya kemudian keluar dan memutari bagian depan mobil untuk membuka pintu samping di mana Laura duduk dengan pandangan mata yang kosong.


"Ayo turun," ucap Josh membuka pintu mobil itu.


Laura menurut, dia sudah lelah jika harus memberontak lagi. Laura keluar dari dalam mobil dengan wajah yang di tekuk. Tanpa paksaan dari Josh wanita itu berjalan mengikuti mantan kekasihnya itu menuju lift.


Josh melirik wanita itu dan sebuah senyuman terbit di bibirnya, pria itu merasa sangat bahagia bisa bertemu dengan Laura kembali, bahkan saat ini dia bisa mengajak Laura untuk bicara tanpa paksaan.


"Duduklah, aku akan mengambil minuman," ujar Josh saat mereka sudah masuk ke dalam apartemen.


"Ini, minumlah, cuaca di luar sangat dingin, minum bir akan menghangatkan tubuhmu," ucap Josh yanh sudah kembali membawa dua kaleng bir di tangannya.


"Terima kasih," jawab Laura mengambil kaleng bir itu kemudian meminumnya karena penutup nya sudah terbuka.


Josh duduk di samping Laura, meminum bir yang sama dan merasakan tubuh mereka sedikit hangat karena efek alkohol.


"Laura, ku harap kamu bisa membagi masalah yang sedang kamu hadapi!" Laura menoleh ke samping dan melihat wajah pria itu.


Sebuah ******* lolos dari mulut Laura, "aku dan Austin batal menikah, karena kami memutuskan pertunangan," jawab Laura.


Josh melotot sempurna, bahkan mulutnya ikut menganga membentur huruf O, apa tadi yang Laura bilang? dia dan Austin tidak jadi menikah?

__ADS_1


Apakah ini berita yang bagus untuknya atau justru berita sedih karena dia pasti akan lemah kembali dengan perasaannya terhadap wanita itu.


"Hahahaha, ternyata aku ini wanita yang sangat menyedihkan!!" seru Laura.


"Kenapa aku tidak pernah beruntung, Josh!! aku memang selalu bisa mendapatkan apapun di dunia ini, kecuali cinta! kamu ninggalin aku dan menikah dengan wanita pilihan orang tuamu, sekarang Austin meninggalkan aku karena mantan istrinya, kenapa semua orang yang ku cintai pergi ninggalin aku!! kenapa!" Josh yang mendengar celotehan Laura merasa sakit hati. Tentu dia di sebut sebagai salah satu lelaki yang ikut andil dalam menyakiti nya.


"Sepertinya aku memang di takdir kan tanpa cinta, aku memang wanita yang tidak pantas mendapatkan cinta, aku-eummmmm!!!


Josh langsung membungkam bibir Laura dengan bibirnya, dia tidak suka jika melihat Laura yang seperti ini.


'Laura, kamu pantas di cintai, sangat pantas!'


Sedangkan di sisi lain.


Ave bersedekap dada melihat kedua pria beda generasi yang sedang mengacak-acak kamar dengan membuat sprei dan bantal berantakan. Austin dan Aldo sedang bercanda di atas tempat tidur Ave.


Sejak malam di mana Aldo melihat Daddy dan Mommy nya tidur berdua di kamar dan Aldo di tinggal sendirian di kamarnya, Aldo meminta kedua orang tuanya untuk tidur bersama di kasur sang Mommy yang lebih besar di bandingkan kasur Aldo.


"Kalian berdua bisa berhenti bermain, tidak!!" seru Ave.


"Mom, kita sedang pillow talk, dan Daddy punya kuis, kalau kalah akan di lempar bantal!" jawab Aldo.


Ave langsung melototi Austin, Daddy Aldo ini sepertinya harus di hukum karena membuat seluruh kamarnya berantakan.


Austin menelan Saliva ketika melihat tatapan Ave, seakan mengatakan bahwa 'lihat saja apa hukuman mu setelah ini!'

__ADS_1


__ADS_2