
Tak cukup memperingati supaya Loralei tidak jatuh cinta terlebih dahulu sebelum Agathias yang menyatakan perasaan. Annora juga memberikan sesuatu. Wanita itu mengeluarkan sebuah obat dari dalam tas. Saat dipastikan masih aman, lekas ia sodorkan ke depan.
Namun, Loralei justru mengernyit menyaksikan obat di depan matanya. “Apa itu?”
“Cepat ambil dan masukkan ke dalam tasmu!” titah Annora begitu mendesak dan memaksa. “Sebelum dilihat Agathias,” imbuhnya kemudian saat mendapati kembarannya sudah di depan kasir dan siap membayar.
Tangan Loralei reflek mengikuti perintah. Tapi, masih belum paham kenapa sang ipar memberi itu. “Bisa jelaskan padaku?” Menghadapi satu cucu keluarga Dominique saja sudah memusingkan, apa lagi sekarang ditambah kembaran bosnya yang tak kalah membuatnya bingung.
“Kau belum hamil, kan?” tanya Annora dengan suara berbisik juga lirikan mata yang terus waspada.
Loralei menggeleng juga mengedikkan bahu. “Baru dua mingguan menikah, mana ada hamil.”
__ADS_1
Wajah Annora nampak lega mendengar jawaban tersebut. “Baguslah, aman.” Ia memusatkan mata pada wanita di depannya. “Itu adalah obat kontrasepsi, kau minum rutin supaya tak hamil. Ingat, jangan jatuh cinta sebelum Agathias yang menyatakan perasaan padamu. Juga jangan mengandung anaknya sampai dia benar-benar memiliki perasaan untukmu,” peringatnya. Kali ini lebih ditekankan supaya Loralei tidak tersakiti di kemudian hari andai kembarannya berulah.
“Kenapa kau justru melarangku dibandingkan memihak saudaramu?”
“Karena Agathias sialan itu menikahimu bukan berlandaskan cinta. Jadi, aku tak ingin kau terluka.”
Loralei mengangguk, dia sudah tahu masalah itu, dan telah mempersiapkan diri juga kalau hendak berpisah. Justru itu yang sangat diinginkan. “Tapi, bagaimana kalau Agathias tahu aku konsumsi obat? Pasti dia sangat marah.”
“Sudah, tak perlu pedulikan. Yang penting, kau pikirkan saja dirimu, masalah Agathias biarkan urusannya sendiri. Diam-diam dan sembunyikan supaya tidak ketahuan.” Annora lekas mengakhiri obrolan penuh kewaspadaan itu saat kembarannya berjalan dengan membawa nampan berisi minuman dan camilan.
Agathias meletakkan pesanannya ke atas meja, membagikan untuk satu wanita yang sejak tadi ia amati dari jauh terus berbincang. Tapi, karena merasa tidak ada yang aneh dengan obrolan barusan, jadilah duduk saja di kursi semula, samping Loralei.
__ADS_1
“Boros kalau harus membeli banyak pakaian. Toh meski hanya model dan gaya itu terus pun masih bisa dipakai. Jadi, tidak masalah,” jelas Loralei. Ia mengerutkan kening saat tidak mendapatkan minum dari suaminya. “Kau tak membelikan aku minum?”
Namun, justru sodoran cup yang sudah disedot oleh pria itu yang didapat. “Ini, satu berdua.”
Annora mencebikkan bibir mencibir kelakuan kembarannya. “Antara pelit dan perhitungan bedanya hanya tipis. Sudah tak membelikan minuman untuk Loralei, pakaian dia pun kau biarkan berputar di gaya itu terus. Suami macam apa kau itu!”
Agathias tetap santai menanggapi. “Suruhlah iparmu belanja dengan credit card atau transaksi lewat mobile banking dariku. Sudah ku beri fasilitas, untuk apa tidak digunakan?”
“Dengar, Lo. Kau kuras habis saja semua uang Agathias. Jangan sungkan, kalau perlu buat dia sampai miskin.” Annora mengompori dengan semangat menggebu. “Kalau perlu, sini ku bantu.”
“Nah, dengar apa kata kembaranku.” Agathias justru tersenyum ke arah sang istri.
__ADS_1
Sementara Loralei sampai dibuat bergeleng kepala. “Kau tak tahu saja Annora ... di dunia saudaramu itu tidak ada yang gratis, aku harus mempersembahkan tubuh jika memakai uangnya.”
Annora yang sedang menyedot strawberry milkshake pun tak jadi menelan cairan masuk ke kerongkongan, tapi justru disemburkan ke wajah Agathias secara sengaja. “Kau pikir dia wanita bayaran?!”