Married To Fierce Boss

Married To Fierce Boss
Part 64


__ADS_3

Kakek satu itu terus menghalangi dan membiarkan rumah tangga cucunya sedikit berantakan dengan adanya salah paham. Setelah memastikan Loralei sudah pergi lumayan lama, barulah Davis membebaskan Agathias.


“Silahkan jika mau pergi dan memperbaiki masalahmu,” ucap Grandpa Davis dengan santai. Baru menggeserkan supaya cucu bisa lewat.


Agathias berdecak dan mentap tajam kakeknya. “Urusanku jadi semakin rumit gara-gara Grandpa.” Setelah menggerutu, dia berlalu meninggalkan keluarganya.


Tidak ada yang berniat membantu atau ikut Agathias. Semuanya membiarkan pria itu menyelesaikan sendiri.


“Dad, kau membuat anakku semakin uring-uringan,” tutur Danesh dengan kepala menggeleng melihat kelakuan orang tuanya yang tidak pernah berubah, masih saja ada sisi jahil.


“Supaya kita tahu bagaimana perasaan dia yang sesungguhnya,” jelas Davis seraya ikut duduk di sofa. “Dan biarkan anak itu sedikit berjuang, bukankah dia menikah dengan sangat mudah? Ya ... persulit sedikit tak masalah.”


...........


Padahal Loralei sengaja menyusul karena takut suaminya dan Annora akan bertengkar hebat. Ia tahu betul bagaimana cara meredam emosi Agathias. Sudah mempersiapkan diri juga untuk menyodorkan sesuatu yang sering kali dilihat dan tiba-tiba dipegang oleh pria itu. Apa lagi kalau bukan kesukaan Agathias yang ada di dada, juga merupakan peredam amarah si bos.

__ADS_1


Tapi, semua rencana meredam emosi suaminya justru runtuh saat mendengar alasan Agathias. Dia pikir, sudah ada cinta karena hubungan yang terjalin akhir-akhir ini sangat baik. Ternyata, hanya sebatas tubuh.


“Kau bodoh, Loralei! Sudah diperingatkan iparmu supaya tidak jatuh cinta, tapi nekat menjatuhkan hatimu pada bos yang tidak jelas itu!” Loralei berteriak di dalam kamar.


Wanita itu tidak kembali ke apartemen suaminya, tapi ke tempat miliknya. Dia sedang malas menatap wajah Agathias. Dada masih terasa diremas dan perut juga bagaikan diaduk-aduk.


Bukan berniat pergi jauh, Loralei hanya ingin menyendiri terlebih dahulu. Tapi, dia mendengar bel dibunyikan. Sudah pasti suaminya yang tidak bisa masuk ke dalam karena pin diganti beberapa saat lalu.


Suasana hati Loralei sedang tidak baik. Tidak berniat sedikit pun untuk membukakan.


“Aku sedang patah hati.” Loralei mematikan ponsel supaya tak bisa dihubungi lagi. “Jangan ganggu aku!” teriaknya walau tidak mungkin ada yang mendengar.


Sementara itu, di luar pintu, Agathias terus menekan bel sampai tak terhitung lagi jumlahnya. “Apa supir Grandpa berbohong? Katanya mengantarkan istriku ke apartemen ini, nyatanya tidak ditanggapi.”


Sepasang suami istri itu jadi uring-uringan. Loralei yang mau menyendiri, sementara Agathias ingin masalah salah paham segera diselesaikan. Dua kepala dengan isi pemikiran berbeda.

__ADS_1


Agathias harus pergi dari sana karena baru saja ditelepon oleh dosen, mengingatkan kalau sudah waktunya ujian disertasi. “Ck! Gara-gara masalah ini, aku sampai lupa dan telat ke kampus.”


Helaan napas pria itu terdengar sangat frustasi. “Nanti ku cari lagi keberadaan Loralei setelah ujian,” gumam Agathias.


...........


Lama tidak ditempati, Loralei tak memiliki persediaan makanan. Jadi, dia menghidupkan ponsel saat hari mulai sore karena merasa lapar. Ingin memesan makan dari sebuah aplikasi.


Baru juga kembali tersambung dengan internet, sudah banyak pesan masuk dari nomor yang entah milik siapa. Loralei mengernyit bingung. Tapi diabaikan dahulu karena perut tidak bisa ditunda dan diajak kompromi.


Barulah setelah selesai memesan, menanti driver mengantar ke apartemennya, Loralei membuka chat tersebut.


Mata wanita itu membulat ketika melihat sebuah foto berisi suaminya. Mulut menganga lebar akibat syok.


“Itu benar suamiku?” gumam Loralei dengan mata masih berusaha menyangkal.

__ADS_1


__ADS_2