
Agathias jadi terhenti dan mengurungkan niat untuk pergi. Dengan kening mengernyit, menunjukkan rasa bingung. Ia memutar tubuh sebanyak seratus delapan puluh derajat hingga kini bisa melihat Loralei yang menatapnya dengan sorot tidak senang.
“Berubah bagaimana maksudmu?” Bukannya menjawab dengan penjelasan, justru pertanyaan juga balasan dari Agathias.
Membuat Loralei mencebikkan bibir. “Haruskah ku jabarkan semuanya?”
Hanya anggukan yang diperlihatkan oleh Agathias. Dia memasukkan dua tangan ke dalam saku celana, dan menanti kalimat apa yang hendak dikatakan oleh istrinya.
Loralei mengeluarkan udara dari bibir. Pria itu tidak merasa kalau berubah, atau hanya aku saja yang menganggap sifatnya mulai tak seperti biasanya?
Tapi, baiklah, sepertinya memang manusia seperti pria di hadapannya itu tidak pernah bisa sadar diri. Namanya juga bos. Loralei dengan senang hati akan menjabarkan. “Pertama, biasanya kau selalu pemaksa, memaksa aku untuk mengikuti kemauanmu. Tapi, satu minggu belakang sudah tidak lagi. Justru terkesan mengikuti mauku.”
__ADS_1
“Karena kau tidak suka aku yang pemaksa.” Agathias langsung menjawab dugaan pertama dari Loralei.
“Oke. Lalu, yang kedua, kau sering cabul padaku. Entah tiba-tiba memeluk lalu tanganmu menggerayang ke mana-mana, atau usil dengan melakukan cara apa pun demi bisa bersetubuh bersamaku.”
“Alasan yang sama.”
Loralei berdecak. Jadi, semua yang dilakukan pria itu adalah karena dirinya? Seharusnya senang, bukan? Tapi, rasa di dada mengatakan lain. Ia tidak terima.
Agathias menaikkan sebelah alis. “Jika bertanya, jangan sekedar satu kata. Aku tak akan menjawab karena pertanyaanmu tidak jelas.” Ia mengeluarkan dua tangan dari saku dan berpindah dilipat ke depan dada.
“Oke, aku perjelas lagi. Sepertinya kepintaran bos mulai menurun.” Ada ejekan yang tersemat dalam ucapan Loralei. “Kenapa kau jadi berhenti membuatku kesal?” Walau sebenarnya perubahannya justru lebih membuatku sebal. Tapi itu hanya lanjutan dalam hati, yang diucapkan berikutnya adalah berbeda. “Maksudnya, sekarang kau berhenti melakukan apa pun yang aku tidak suka.”
__ADS_1
“Memang apa salahnya dari perilaku itu? Bukankah bagus? Kedamaian yang kau inginkan, tanpa keusilanku, kan? Aku hanya memberikan apa yang mungkin nyaman bagimu,” jelas Agathias dengan wajah datarnya.
Masalahnya, aku justru tidak nyaman dan merasa kehilangan sosok bos menyebalkan. “Ya ... sebenarnya, aku tak masalah jika kau mau menjajah, menindas, dan ....” Loralei menggigit bibir bawah karena sedikit malu juga mengatakan satu kalimat terakhir. “Mencabuliku.”
Sudah dipersilahkan seperti itu, tapi kepala Agathias tetap menggeleng. “Aku tak akan melakukan itu lagi. Sebab, aku ingin membuatmu jatuh cinta padaku. Jadi, berhenti kurang ajar adalah pilihan dan jalan yang sedang coba ku lakukan supaya ....” Ia berangsur mendekat dengan satu kali langkah lebar saja. Lalu, telunjuk pun menunjuk dada Loralei. “Hatimu bisa ku miliki.”
Agathias tahu kalau istrinya pasti terkejut. Lihat saja wajah Loralei yang tidak bisa menanggapi sepatah kata pun.
Tangan pria itu pun mengusap puncak kepala Loralei dengan penuh kelembutan. “Aku pergi dulu. Nanti, jika aku belum kembali, kau bisa telepon kalau mau pulang bersama. Tapi, seandainya ingin naik taksi pun boleh, pesanku, cukup jaga diri baik-baik.”
Mengakhiri dengan jempol yang mengusap pipi sang wanita, Agathias akhirnya pergi juga. Menyisakan Loralei seorang diri.
__ADS_1
Telapak Loralei terangkat, menyentuh dada, sembari berjalan duduk ke kursi kerja. “Sial, pria itu ... berhasil memporak porandakan hatiku.”