
Belum sempat Agathias menjawab, semua mata keluarganya merotasi ke arah sumber suara. Ada seseorang yang baru saja datang, dan langsung memotong perdebatan anak kembar itu dengan hentakan kaki seperti sengaja dihentak tegas.
Pria tua yang masih gagah. Terlihat jelas betapa terjaga dan sehat pola hidup orang tersebut. Siapa lagi kalau bukan yang tertua dari keturunan Dominique, si pembawa darah arogan dan dominan, Drake Davis Dominique.
“Wah ... seru juga, baru datang langsung disuguhkan perdebatan cucu-cucuku.” Davis menepuk dua telapak tangan, menyemangati. “Jadi, siapa yang menang? Annora atau Agathias?” Ia berdiri dengan jarak satu meter.
“Belum ada yang mau mengalah. Tunggu saja, nanti juga salah satu memilih diam,” jawab Danesh dengan santai. Dia sudah biasa menghadapi anaknya yang selalu adu mulut. Jadi, tahu bagaimana pertengkaran itu akan berakhir.
Meski sering bertengkar, tapi Annora dan Agathias tetap saling menyayangi. Memang begitulah cara keduanya memberikan warna kehidupan di dalam keluarga.
“Oh ... butuh wasit? Aku siap menjadi jurinya.” Davis menyilangkan tangan di dada.
__ADS_1
Bukannya melerai, pria tua itu justru bersemangat untuk melihat cucu-cucunya berdebat. Seru, sejak masih kecil sampai besar pun ada saja yang menjadi bahan keributan. Annora tidak pernah mau mengalah, dan Agathias selalu malas kalau berkepanjangan. Cara mencintai hubungan persaudaran keduanya sangatlah berbeda. Mungkin terkesan saling benci karena bertengkar, tapi sesungguhnya tidak.
“Cucu Grandpa yang satu itu, marah padaku karena aku memberikan istrinya obat pencegah kehamilan. Salah dia sendiri tidak memiliki alasan jelas saat mendadak menikahi sekretarisnya.” Annora menunjuk wajah kembaran. “Aku tidak mau Loralei dipermainkan olehmu hingga sakit hati.”
“Tenang, kalau dia mempermainkan wanita, ku tendang dari Finlandia seperti Daddy kalian.” Davis menunjuk putranya, Danesh yang duduk tanpa menunjukkan ekspresi apa pun.
Agathias berdecak dan mencebikkan bibir. “Apa wajahku ini terkesan orang yang suka mempermainkan?” Dia menatap satu persatu anggota keluarga supaya meneliti secara seksama setiap pahatan ketampanan.
“Jadi, karena cinta? Suka? Penasaran? Atau tubuhnya?” ulang Annora. Melipat kedua tangan dan menatap, menanti jawaban. Kalau ternyata berdasarkan perasaan dari hati, maka ia akan minta maaf karena sudah ikut campur urusan rumah tangga kembarannya.
“Tubuhnya, tentu saja. Siapa yang tidak suka dengan kemolekan wanita seperti sekretarisku? Seksi, pas di genggaman tangan, cantik, dan—” Jawaban Agathias terjeda karena ada suara seorang wanita memotong.
__ADS_1
“Ku kira kau sudah memiliki perasaan padaku. Ternyata, yang ku dengar saat malam itu salah. Kau hanya menyukai tubuhku.” Loralei sudah berdiri dengan jarak delapan meter. Jemari menyeka air mata yang meluncur seiring rasa nyeri di dada kala mendengar jawaban suaminya.
“Aku mengatakan yang sejujurnya. Memang menyukai tubuhmu. Munafik jika ku sangkal hal itu.” Agathias hendak mengayunkan kaki mendekati Loralei.
Tapi, wanita itu justru semakin melangkah ke belakang. “Jika tahu datang ke sini hanya membuat hatiku sakit mendengar jawabanmu, lebih baik aku pergi saja.” Loralei lekas berlari.
“Tunggu, Lo. Jangan salah paham, dengarkan dulu sampai habis.” Agathias melangkah. Tapi, dihadang oleh Grandpa.
“Pergi naik mobilku yang ada supirnya. Kalau perlu sejauh mungkin ...,” teriak Davis pada cucu menantu.
Agathias berdecak. “Kenapa mencegahku? Jangan membuat urusan menjadi semakin rumit.”
__ADS_1
“Ya ... supaya seru rumah tanggamu, ada bertengkarnya juga.” Santai sekali pria paling tua itu berbicara. Padahal cucunya sedang kesal setengah hidup.