
Sejak mendapatkan kabar bahwa orang tuanya telah tiada, Loralei tak langsung melakukan prosesi pemakaman. Dia mengawetkan dahulu tubuh sang Ibu. Selain waktu kematian sudah sore dan mendekati malam, juga masih ingin melihat wajah yang dahulu menimang dan membesarkan dirinya tanpa menuntut atau meminta balasan apa pun.
Loralei tidak perlu bermalam maupun menginap di rumah sakit karena lahiran secara normal dan kondisi bayi serta dirinya baik-baik saja. Semua sehat tanpa kurang sedikit pun.
Jadi, beberapa jam setelah melahirkan, Agathias membawa anak dan istri pulang ke mansion kakeknya. Memberi tahu juga kalau mertuanya telah tiada, sehingga semua segera menyiapkan apa saja yang dibutuhkan, termasuk menggali lubang. Tidak lupa ambulan yang membawa peti jenazah Linda Nyx ikut.
Sejak sampai di mansion, Loralei terus berada di samping peti. Dia tidak mau beranjak pergi sedikit pun di detik-detik terakhir sebelum berpisah dan tak lagi bisa menatap raga yang telah tak bernyawa. Sementara anaknya diasuh oleh mertua, dan semua memaklumi kalau ia sedang dalam emosi yang tidak stabil.
Semua orang di mansion itu membiarkan Loralei duduk dengan kepala menunduk hingga kening menempel tepi peti. Mereka memahami situasi, pastilah sulit saat kehilangan orang yang disayang. Tak ada satu pun yang menuntut supaya Loralei fokus pada bayi karena masih banyak yang bisa handle cicit keluarga Dominique.
__ADS_1
Agathias datang menghampiri Loralei dengan membawa sepiring makanan. Pasti istrinya tidak mau diajak pergi dari sana. Jadilah ia saja yang berinisiatif.
“Makan dulu,” ucap Agathias seraya mengusap lengan sang istri.
“Aku tidak lapar,” tolak Loralei. Suaranya sedikit teredam oleh isakan.
“Tetap saja kau harus makan, ibumu justru semakin sedih kalau kau hanya duduk di sini, diam, dan menangis terus. Dia ingin kau melanjutkan hidup dengan bahagia.”
“Setelah ini kau harus tidur. Setelah melahirkan belum istirahat sedikit pun. Besok prosesi pemakamannya, aku tak ingin kau yang akan jatuh sakit kalau terus-terusan begini.” Sembari menyodorkan minum, Agathias masih sempat menasehati. “Ada anak kita yang sangat butuh kau. Rasanya sakit, kan, kehilangan orang tua? Maka dari itu, jaga kesehatanmu juga,” imbuhnya.
__ADS_1
Loralei mengangguk menurut. Benar apa kata suaminya. Dia memang sedih dan terlalu larut oleh duka sampai kurang memikirkan kesehatan yang bisa berakibat buruk.
“Good.” Agathias mengusap puncak kepala sang istri, lalu mengecup kening sebentar. “Aku kembalikan ini ke dapur, setelah ini ku jemput dan kita tidur.”
Loralei lagi-lagi mengangguk dan ia kembali menatap sendu ibunya yang sudah dibalut make up dan gaun indah. “Sekarang aku juga seorang ibu. Maaf kalau malam ini tak bisa menemani sampai esok. Tapi, aku janji, akan kuantarkan kau sampai ke tempat peristirahatan terakhir. Aku mencintaimu, selalu.” Dia sudah berdiri, mencium kening orang tuanya untuk terakhir kali.
Agathias yang sudah gagah di samping peti pun lekas merangkul Loralei. “Mandi dulu.” Dia harus membersihkan sang istri dari virus, kuman, atau bakteri yang menempel pada jasad mertuanya. Tapi dia tak memberi tahu maksud kenapa meminta wanita itu untuk membersihkan tubuh. Takutnya tersinggung.
“Iya, malam ini kita tidur bertiga, ya?” pinta Loralei. Dia ingin berada di samping sang anak.
__ADS_1
Tapi, Agathias menggeleng. “Tidak, nanti tidurmu tak nyenyak karena bayi sering menangis saat malam hari.”