Married To Fierce Boss

Married To Fierce Boss
Part 45


__ADS_3

Agathias benar-benar tidak mengikuti Loralei. Jadilah wanita itu duduk bersama teman-teman kantor di satu meja yang sama. Ada Ankie dan Rona di sana.


Loralei sampai tak berselera makan karena masih memikirkan perubahan sikap suaminya. Sejak tadi hanya beberapa kali lahap dengan kunyahan sangat lama. Sampai teman-temannya sudah selesai pun miliknya tersisa banyak.


“Jadi, bagaimana rasanya menjadi istri bos kita?” tanya Ankie.


Masih ada waktu tiga puluh menit lagi sebelum jam kerja dimulai. Mereka menyempatkan sejenak untuk mengobrol dan menggosip tentang bos mereka.


Loralei mengedikkan bahu dengan malas. “Ya begitulah, tetap saja menyebalkan.”


“Ayo cerita, bagaimana bercinta dengan bos kita? Apa dia menghentakmu sambil marah-marah jika kinerja ranjangmu tidak memuaskan?” Rona semakin mencondongkan posisi duduk supaya lebih ke depan. Sangat penasaran.


Ankie yang mendengar pertanyaan itu pun tertawa. “Aku jadi membayangkan bagaimana si bos bergoyang di atas tubuh Loralei, tapi bibirnya sembari mengeluarkan umpatan dibalut desahann.”


“Pasti suasana di atas ranjang mereka ramai sekali.” Rona sampai menepukkan dua telapak tangan karena terlalu lucu jika dibayangkan.


“Jika pasangan normal bunyi prot ... prot ... prot ... kalau bos kita pasti suaranya, bodoh! Kerja yang betul! Memuaskan suami saja tidak becus! Tapi, milik dia sendiri ukurannya kecil,” ucap Ankie dengan seluruh pemikirannya.

__ADS_1


Rona dan Ankie tertawa sampai terbahak-bahak dan ada air mata yang keluar karena terlalu lucu dengan obrolan mereka. Sementara Loralei bergeleng kepala tanpa ikut mendalami kelucuan imajinasi teman-temannya.


“Asal kalian tahu, punya si bos, besar,” sanggah Loralei. Dia menelungkupkan sendok dan tidak menghabiskan makan siangnya. “Dan ... mantap.”


Ankie dan Rona membulatkan mata serta bibir. “Tumben kau membela dia? Sudah jatuh cinta dengan bos galak kita?”


“Ck! Aku hanya mengatakan yang sejujurnya.” Loralei menghela napas, menggeser nampan makanan, lalu melipat kedua tangan di atas meja. “Sekarang justru aku dibuat bingung oleh si bos.”


“Oke, kami akan mendengarkan ceritamu.” Ankie dan Rona menatap fokus wajah Loralei.


“Apa yang membuatmu sampai terlihat tak bersemangat?”


“Cie ... sekarang mau mengakui suami.”


“Bau-bau tumbuh cinta rupanya.”


Loralei berdecak. “Bagaimana mau tumbuh cinta? Dia sekarang sudah berubah.” Cerita pun berlanjut, bibirnya memberi tahu kalau bosnya selama satu minggu ini tidak pernah mengganggu atau memaksa seperti biasa.

__ADS_1


“Terus, apa masalahnya? Bukankah bagus? Kau jadi tak perlu pusing menghadapi sifatnya yang menyebalkan,” ucap Ankie.


“Masalahnya, aku jadi merasa aneh karena dia berubah. Bisa saja Agathias sakit atau baru terbentur kepalanya,” sanggah Loralei.


“Kau khawatir?” tanya Rona.


“Ya ... sedikit.”


“Kalau begitu, tanyakan saja kenapa dia berubah.”


Loralei menimbang saran itu. Benar juga, kenapa harus menerka sementara bertanya pun bisa. “Ya sudah, aku kembali dulu. Suamiku pasti belum makan.”


“Pergilah, nanti kami yang kembalikan nampanmu.”


Loralei pun beranjak dari kantin. Lift tidak terlalu ramai karena masih ada waktu lima belas menit sebelum jam kerja. Saat masuk ke dalam ruangan CEO, ia melihat Agathias sedang menelepon, entah siapa. Tapi, wajah pria itu terkesan dingin dan datar.


“Aku ke sana.” Agathias melirik Loralei tanpa mengajak bicara. Dia justru memasukkan ponsel ke dalam saku dan dompet juga.

__ADS_1


Agathias berdiri begitu saja dan berjalan melewati sang istri yang tengah mematung. Tanpa berpamitan atau memberi tahu mau pergi ke mana dan bertemu siapa.


“Kenapa kau berubah?”


__ADS_2