
“Duduklah ... bagaimana aku bisa cerita kalau kau saja seperti satpam yang berdiri terus.” Linda menggerakkan tangan untuk memberi isyarat supaya putrinya mendekat.
Loralei masih dengan segala penasaran di pikiran, hanya saja sedikit ditutupi. Ia berangsur mendekat dan kembali mendaratkan pantat. “Mom tidak bertanya hal yang aneh, kan?” Alisnya terangkat sebelah.
“Tidak, aku hanya bertanya, kenapa dia menikahimu, sedangkan wanita di luar sana sangat banyak.”
Hembusan napas lega keluar dari bibir Loralei, seraya tangan mengusap dada seolah lega. Ia pikir, mommynya akan melakukan interview yang menjurus pada harta atau jaminan apa pun layaknya pernikahan antara kaum konglomerat dengan kaum kolong jembatan. “Lalu?”
“Dia menjawab karena kau penurut, tidak ribet, suka melihatmu ketika kesal, dan wajahmu tidak membosankan saat dipandang.”
Bukannya senang atau tersentuh hatinya saat mendengar cerita sang ibu, Loralei justru mencebik. Bahkan dengan orang tuanya pun Agathias blak-blakan sekali kalau senang membuatnya kesal. Suami menyebalkan!
Justru ibunya yang terlihat senyum-senyum sendiri seolah terkesima ketika bercerita. Loralei sampai bergeleng kepala. “Demi apa pun, dia tidak semenarik itu, Mom. Agathias itu sering menindasku karena senang kalau wajahku ditekuk maupun menggerutu.”
Linda mendaratkan sebuah cubitan kecil di lengan putrinya. “Kau itu bodoh atau hanya pura-pura tak sadar? Alasannya menikahimu sangat manis. Biasanya, jawaban para lelaki itu klise demi mengambil hati calon mertua. Tapi, dia jujur.”
__ADS_1
Tangan Loralei mengusap pelan lengan. “Orangnya tidak ada pun dibela mati-matian, apa lagi kalau Agathias ikut, habis sudah aku tersisihkan,” gumamnya sangat lirih, bahkan kepala sengaja dialihkan ke samping kanan supaya tidak terlihat kalau berkomat-kamit.
“Dengar, Lo ... menantuku itu jenis pria yang unik. Cara dia menunjukkan ketertarikan memang dengan membuatmu kesal.”
“Jujur, sebenarnya aku membenci dia.” Loralei menyengir seolah merasa bersalah karena memiliki pendapat yang berbeda. “Di mataku, apa pun yang Agathias lakukan adalah hal paling menyebalkan di dunia.” Jari tengah dan telunjuknya diangkat ke atas membentuk huruf V.
“Aduh ... kau itu dapat suami luar biasa, bisa-bisanya justru dibenci.” Linda berdecak dan bergeleng kepala. Tidak habis pikir dengan selera anaknya.
“Maklum, dia selalu melakukan hal-hal yang aku tak suka.”
“Banyak. Ketika aku masih sekretaris biasa, dia selalu tiba-tiba telepon untuk bertanya hal-hal sepele yang seharusnya bisa dilakukan besok saat di kantor. Tapi, justru tengah malam menggangguku.” Loralei mengangkat telunjuk untuk menghitung. “Terus, senang sekali membelikan barang-barang mahal, padahal aku tidak mau. Dan, masih banyak lagi, sampai sulit ku ingat karena semua yang Agathias lakukan pasti berkebalikan dengan keinginanku.”
Linda berdecak dengan kepala menggeleng. “Tandanya, dia tertarik denganmu. Pokoknya, jangan sampai kau bercerai dengannya. Aku sudah senang dan tenang karena sekarang kau ada yang menjaga. Jadi, kalau sewaktu-waktu nyawaku menghilang, lega ketika meninggalkan dunia.”
“Mom ... jangan bicara seperti itu.” Wajah Loralei langsung berubah sendu. Dia tidak senang kalau ibunya membahas tentang kematian. Walaupun tahu kalau kanker itu tak akan bisa sembuh karena sudah parah.
__ADS_1
Tenggorokan Loralei mulai tercekat. Pasti setelah ini, mata juga berkaca-kaca. “Aku keluar sebentar, mau membayar tagihan,” pamitnya.
Lekas berdiri, saat sudah memunggungi, tangan Loralei menyeka pipi untuk menghilangkan air mata yang baru saja menetes.
Loralei berdiri di depan tempat pembayaran. Dia mengeluarkan kartu kredit milik suaminya. Belum gajian, jadi akan memakai itu terlebih dahulu. Malam ini ia sudah mempersiapkan diri untuk mempersembahkan tubuh sebagai penggantinya.
“Tagihan pasien atas nama Linda Nyx,” ucap Loralei.
“Tunggu sebentar.”
Loralei menanti petugas mencetak rincian beserta total yang perlu dibayar.
“Sudah lunas, Nona. Tidak ada tunggakan untuk bulan ini.”
“Ha?”
__ADS_1