Married To Fierce Boss

Married To Fierce Boss
Part 37


__ADS_3

Agathias langsung menarik tangan Loralei setelah memelototi kembarannya sekaligus mengumpat. Mood untuk makan siang jadi hilang seketika seiring wajahnya jadi lengket oleh strawberry milkshake, juga membuat pakaian jadi kotor dengan bercak merah.


“Kau jangan bergaul dengan Annora lagi. Aku tidak suka!” larang Agathias sembari mengendurkan dasi saat mereka telah masuk ke dalam ruang kerjanya.


“Dia keluargamu, mana mungkin aku menjauh. Ada-ada saja permintaanmu itu.” Loralei menggeleng sembari membantu melepaskan jas ketika melihat Agathias sedikit kesulitan karena terlalu kesal.


“Jangan sering-sering bertemu, dia itu jenis kembaran yang menyebalkan,” decak Agathias. Berjalan menuju ruang istirahat yang menyatu dengan kantornya, sembari jemari membuka satu kancing.


Namun, gerakan kaki pria itu tertahan karena tidak merasakan ada seseorang yang mengikuti. Jadilah Agathias berbalik dan mendapati Loralei justru duduk santai. “Kenapa kau masih di situ? Ayo masuk!”

__ADS_1


“Kenapa? Tentu saja bekerja. Lagi pula, kau bisa ganti sendiri, bukan?” tolak Loralei. Bosnya kalau sedang kesal memang menyebalkan seperti itu, sekaligus manja.


“Ku seret atau datang sendiri?!” ancam Agathias dengan mata mendelik.


“Iya, iya.” Loralei bagaikan mengasuh anak kecil yang harus semua keinginan dituruti. Begitulah Agathias, sejak dirinya masih sekretaris biasa pun selalu merepotkan, ditambah sekarang menjadi istri bos. Berlipat-lipat menyebalkannya.


Loralei membantu menanggalkan kemeja putih yang membalut tubuh suaminya hingga berakhir meneguk ludah karena melihat badan atletis Agathias. Seandainya hubungan mereka jelas, sudah pasti ia akan menjadi orang yang selalu mengagumi sosok di hadapannya. Tampan, mapan, walau sifat lebih banyak buruknya tapi tak masalah seandainya semua dilandasi oleh cinta.


Loralei menghembuskan napas lega karena terhindar dari tatapan Agathias yang mengerikan. Pria itu selalu menunduk ketika ia membantu, pastilah yang dilihat oleh si cabul adalah belahan dadanya. Pantas saja manusia itu diam dan tidak mengomel.

__ADS_1


Loralei membuka almari, berisi banyak setelan kerja Agathias. Tidak ada yang berwarna merah karena pria itu tak suka. Ia memilih untuk mengambil abu-abu saja. Meletakkan ke stand hanger.


“Gantinya sudah ku siapkan, ya ... aku keluar dulu,” teriak Loralei. Dia tidak meminta izin, tapi memberi tahu.


Kaki Loralei sudah siap untuk memutar tubuh. Namun, terhenti kala pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan Agathias yang sudah bersih dari semburan strawberry milkshake. Ia menelan ludah lagi saat pria itu dengan santainya berjalan hanya menggunakan selembar kain hitam yang menutupi area pinggul hingga sedikit ke bawah.


“Siapa yang memberimu izin keluar?” Agathias menarik pergelangan Loralei saat wanita itu berusaha jalan menuju pintu.


Ditariklah tubuh wanita itu dan sengaja dihempaskan ke ranjang empuk. Agathias langsung naik ke atas sana dengan tatapan mata yang ... tentu saja mengerikan.

__ADS_1


“Emosiku belum reda. Jadi, kau tidak boleh keluar.” Agathias berada di atas tubuh sang wanita. Meski tatapannya mengunci sorot mata istrinya, tapi tangan bergerilya untuk melepas kancing-kancing kemeja Loralei.


“Ka—u mau apa?” Loralei berusaha menahan pergerakan tangan Agathias. Saat dilirik ke bawah, kemeja sudah terbuka dan pria itu menatap liar bagian dadanya.


__ADS_2