Married To Fierce Boss

Married To Fierce Boss
Part 81


__ADS_3

Seiring kelopak mata Linda Nyx terpejam, di situ juga Loralei mulai merasa kesakitan yang tak tertahankan. Jika beberapa saat lalu ia bisa membendung selaga nyeri di sekujur tubuh akibat kontraksi, maka kali ini tidak lagi.


Loralei meringis seraya memegang perut. Dia sangat ingin tetap berada di sana, di sisi ibunya, walau tahu mata tua itu mulai terpejam seiring grafik detak jantung yang kian menurun mendekati nol.


Tangan Loralei meremas lengan suaminya. Dia berdesis kesakitan. Fokusnya terbagi antara anak yang sepertinya ingin dilahirkan sekarang dan ibunya yang sebentar lagi berpulang.


Agathias lekas merangkul istrinya saat tubuh wanita itu hendak merosot ke bawah. Mata seketika membulat saat melihat ada bercak basah di lantai. “Kau sudah kontraksi? Dan air ketubanmu pecah?”

__ADS_1


Loralei mengangguk, tidak mampu menjawab dengan kata-kata karena serbuan bagai tulang-tulang dipatahkan mulai menyiksa. Dia sampai menggigit bibir sendiri sekuat mungkin karena tidak mau berteriak.


Agathias sigap menggendong istrinya. Saat itu juga tatapan mata tertuju pada monitor yang nyaris membentuk garis lurus. Dia memang peduli dengan mertuanya, tahu juga kalau sang istri ingin berada di samping sana pada saat-saat terakhir waktu yang tersisa. Tapi, di sisi lain ada anaknya yang mau lahir ke dunia.


Dalam kondisi seperti itu, Agathias yang mengambil keputusan. Dia tahu kalau Loralei pasti tak bisa bijak dalam situasi yang sama-sama diinginkan. Melahirkan di ICU tidak memungkinkan, dan di sana pastilah ada virus atau bakteri dari pasien. Maka, pilihannya membawa kaki untuk segera keluar, meninggalkan mertuanya seorang diri melewati detik-detik tersiksa karena ia sempat melihat cara bernapas mulai tersengal.


“Tolong tangani orang tuaku. Jika masih bisa diselamatkan, maka berikanlah yang terbaik. Apa pun yang terjadi, hubungi aku, kau punya nomorku, kan?” Saat berhenti di depan pintu ruangan, Agathias menitipkan pesan pada dokter yang secara khusus ia minta untuk merawat mertuanya.

__ADS_1


Dokter itu mengangguk. Agathias pun bergegas mempercepat jalan menuju ruang persalinan. Pria itu berbicara pada siapa saja dokter yang dilihat, memberi tahu kalau istrinya mau melahirkan dan minta tolong supaya dibantu. Terlihat sekali dia sedikit panik. Ini adalah pengalaman pertama menemani istri melahirkan. Sebisa mungkin tetap menggunakan akal sehat dan tidak menunjukkan secara jelas kegusaran yang tengah dirasakan, supaya Loralei juga tak ketakutan. Apa lagi saat melihat wanita itu terus menghela napas berkali-kali, ditambah meringis kesakitan.


Agathias membaringkan tubuh Loralei ke brankar yang dibawakan oleh seorang perawat. Dia lekas mengikuti seorang dokter, mungkin petugas medis itu yang akan membantu istrinya.


Mereka tidak langsung masuk ke ruang persalinan. Tapi melewati area sterilisasi terlebih dahulu supaya tidak ada bakteri dan kuman yang ikut masuk ke dalam.


Kini Agathias terus menggenggam tangan sang istri, membiarkan wanita itu mencakarnya. Apa pun yang diinginkan asal bisa memberi kekuatan untuk mengejan saat dokter memberikan instruksi.

__ADS_1


“Ingat, Sayang, kau harus semangat, dan jangan menyerah. Ketika anak kita lahir, maka bisa diperlihatkan pada ibumu.” Agathias membisikkan kalimat itu saat melihat Loralei seperti mulai kelelahan. Mungkin tenaga istrinya sudah terkuras oleh tangis yang tumpah ruah beberapa saat lalu.


__ADS_2