
Loralei sudah siap dengan pakaian rapi. Menanti suaminya keluar dari kamar. Sejak tadi ada harap-harap cemas yang dirasakan. Gugup juga. Dada bahkan berdebar entah kenapa.
Tak hanya itu, Loralei juga merasa gelisah. Walau tengah duduk di sofa, dua jempol ditarungkan. Takut saja kalau ia bukan hamil seperti yang teman-temannya curigai, tapi bagaimana kalau penyakit?
Ternyata gerak gerik yang tak biasa itu juga dilakukan saat Loralei dan Agathias berada di dalam mobil. Kendaraan yang dilajukan oleh si bos galak itu tengah menuju rumah sakit tempat biasa mengambil vitamin.
Agathias sampai mengernyit saat kaki istrinya tidak bisa diam. Apa lagi ketika melihat bibir Loralei yang sesekali digigit. Euh ... rasanya ingin dia gigit juga.
Astaga ... Agathias masih sempat terlintas pikiran cabul saat mengendarai mobil. Bagaimana tidak kalau yang disuguhkan depan mata adalah istri seksi. Tanpa Loralei melakukan apa pun bisa membuatnya langsung turn on.
“Kenapa?” tanya Agathias seraya meraih tangan sang istri untuk digenggam.
Mobilnya matic, tenang saja, tidak perlu merubah-rubah persneling. Bahkan menghidupkan autopilot pun bisa.
“Aku gugup dan takut. Bagaimana kalau ternyata perutku ini buncit karena sakit?” Dari wajah Loralei memang tak bisa ditutupi kalau keresahan jelas terpancar di sana.
__ADS_1
Agathias menarik tangan yang digenggam, mengusapkan permukaan kulit Loralei di dagunya yang baru dicukur. “Tenang, kau itu sedang hamil.”
Walau sudah diberi kalimat yang menenangkan, tapi tetap saja dada Loralei terus berdebar. Juga geli di kulit tangannya tidak meredakan sedikit pun. “Bagaimana jika tidak hamil? Apa kau akan kecewa lagi?”
Astaga ... batin Agathias rasanya semakin gemas. Padahal sudah jelas baru saja dia katakan kalau Loralei hamil. Sudahlah, memang lebih baik biarkan wanita itu melihat langsung ketika USG.
“Aku tidak akan kecewa.” Karena sudah tahu hasilnya.
Sampai di rumah sakit, Agathias lekas turun dan membukakan pintu. Dia merengkuh pinggul Loralei saat jalan masuk.
...........
Tidak menunggu waktu lama sampai nama Loralei dipanggil. Agathias membawa sang istri masuk ke dalam ruangan dokter obgyn.
“Wah ... akhirnya membawa istri datang langsung untuk cek kandungan, ya, Tuan.”
__ADS_1
Pertama kali sapaan yang dilontarkan oleh dokter itu membuat Loralei mengernyit. Dia merasa suaminya akrab sekali.
“Iya, dia baru sadar kalau ada yang aneh,” balas Agathias begitu santai. Menarikkan kursi untuk duduk sang istri.
“Mungkin karena kehamilan pertama dan kata Anda pernah konsumsi obat tiga butir. Jadi, berpikir kalau wajar saja yang dialami,” balas dokter berjenis wanita itu.
Kerutan di kening Loralei semakin dalam. Obrolan suami dan dokter terkesan bukan berasal dari seseorang yang baru pertama kali bertemu dan ingin periksa. Tapi, seolah sudah biasa konsultasi.
Mata Loralei menatap Agathias. “Kau sering datang ke sini?”
Agathias tersenyum dan menaikkan alis ke atas sebagai jawaban. Dia sedang menikmati raut bingung sang istri. Suka sekali dengan mimik Loralei saat ini. Menggemaskan dan polos.
“Hampir setiap minggu minta vitamin untuk ibu hamil. Tapi, Tuan Agathias tidak mau membawa istrinya datang ke sini,” jelas dokter.
“Tunggu ... maksudnya bagaimana? Aku hamil?” Loralei menunjuk dirinya sendiri.
__ADS_1
“Lebih baik kau lihat sendiri saja.” Agathias merangkul pundak Loralei. “Kita USG agar jelas.”