Married To Fierce Boss

Married To Fierce Boss
Part 53


__ADS_3

Tujuh hari telah berlalu, setelah adegan main sate kelinci alias kelincinya ditusuk-tusuk, Loralei dan Agathias menjadi makin hangat dan mesra. Wanita itu tidak uring-uringan lagi karena sang suami sudah kembali menjadi si penjajah, penindas, dan cabul. Ternyata, dia justru suka dengan sifat-sifat itu, walau cenderung negatif. Tapi, merasa kehilangan kalau tidak menghadapi sisi bosnya yang menyebalkan.


Agathias keluar dari kamar, sudah memakai kemeja yang dua kancing atas sengaja dibuka. Bibir mengulas senyum saat melihat istri tengah berdiri menanti roti keluar dari toaster.


Langsung saja dihampiri ke sana. Dua tangan Agathias memeluk wanita yang tertutup oleh blouse biru dongker berlengan panjang, dan jeans panjang.


Sentuhan fisik yang selalu dilakukan oleh Agathias setelah bersiap berangkat kantor. Memeluk, membiarkan tubuh tanpa jarak dengan istri, lalu mencium maupun memberikan kecupan.


“Roti lagi?” tanya Agathias. Dia bukan protes. Tapi, setiap hari sarapan itu terus kalau Loralei yang membuatkan.


“Iya, yang mudah dan cepat.” Loralei membiarkan suami terus menempel bagaikan anak monyet yang bergelayut di tubuh sang induk. Lanjutkan saja apa yang akan dilakukan. Mengambil roti yang baru saja matang dari toaster, dan diletakkan ke atas piring.


Saat Loralei berjalan menuju meja, Agathias tetap tidak melepaskan pelukan. Membuatnya berat saat bergerak. “Astaga ... Sayang, lepas,” pintanya dengan tubuh sengaja digoyangkan.


“Katanya, kau senang ku jajah, ini salah satu bentuk penjajahan,” bisik Agathias tepat di telinga istri.

__ADS_1


Loralei mengeluarkan decakan, meletakkan dua piring ke atas meja. “Iya, tahu. Tapi, kita mau sarapan. Tidak nyaman kalau kau terus seperti anak monyet begini.” Tangannya sudah tidak memegang apa pun, digunakan untuk coba melepaskan tautan tangan di lehernya.


“What?” pekik Agathias. “Anak monyet? Panggilan sayangmu pada suami, seperti itu?” Ia bergeleng kepala.


“Iya, kau gelayutan terus ditubuhku, seperti anak monyet yang masih kecil dan selalu minta gendong induknya,” jelas Loralei.


Agathias hanya tersenyum, dan membiarkan panggilan itu. Sudah biasa juga mendapatkan banyak julukan dari Loralei. “Baiklah, pagi ini kau ku lepaskan.” Tapi, tidak sekedar mengurai tangan saja yang dilakukan, sempat-sempatnya pria itu meremas bagian dada, baru membiarkan sang istri leluasa.


“Bagian itu sedang sakit, Aga!” Loralei langsung memukul lengan suami.


Loralei menghela napas. “Tidak perlu. Tak ada benjolan yang terlihat bahaya juga,” tolaknya, kemudian duduk di kursi.


“Yakin?” Agathias juga sama, tapi di bagian hadapan istri.


Loralei mengangguk. “Rasanya seperti saat aku mau menstruasi. Mungkin sebentar lagi akan keluar darah,” jelasnya, lalu menggigit roti panggang yang sudah menjadi hangat.

__ADS_1


“Yah ... berarti, sebelum kau tidak bisa ku cumbu, kita harus main sepuasnya dulu.”


“Ck! Itu terus pikiranmu, dasar cabul,” gerutu Loralei.


“Bukankah itu yang kau suka?” goda Agathias dengan senyum yang terlihat mesum.


“Iya juga sih ....”


Selepas sarapan, mereka berdua langsung berangkat kerja. Sekarang, datang ke perusahaan pun sudah mulai menunjukkan kemesraan. Walau sebatas gandengan tangan, membiarkan semua orang melihat kalau mereka adalah sepasang bos dan sekretaris yang kini juga berstatus sebagai suami istri.


Masuk ke dalam ruangan, Loralei lekas memberi tahu jadwal pagi. “Pukul sembilan ada meeting bersama beberapa calon perusahaan yang akan diajak kerjasama.”


Agathias hanya mengangguk dan duduk di tempatnya. Dia mengeluarkan ponsel dari saku untuk diletakkan pada meja. Menghidupkan komputer, siap mengecek berbagai proposal kerjasama yang masuk.


Baru juga tiga menit benda di atas meja itu diletakkan, sudah bergetar dan membuat layar menyala. Otomatis saat Agathias melirik pun bisa membaca isinya. “Aretha?” gumamnya sangat pelan. Dia membuka pesan yang dikirim oleh wanita itu, tak lain adalah mantan kekasihnya.

__ADS_1


__ADS_2