
Kening Loralei mengerut sembari berpikir. Dia sampai lupa kapan terakhir kali menstruasi. Setiap hari teralihkan oleh belaian suami hingga tidak peduli apakah seharusnya datang bulan atau tidak.
Loralei mengusap dagu sembari menjawab, “Mungkin karena aku sempat mengkonsumsi obat pencegah kehamilan, jadi membuat menstruasi jadi terlambat.”
Ankie dan Rona membulatkan mata bersamaan. “Kau tidak dimarahi oleh suamimu?”
“Marah, gila ... orang seperti Agathias mana mungkin sabar menghadapi sesuatu yang tidak sesuai keinginannya? Mustahil!” Loralei begitu menggebu dan percaya diri ketika menggunjing suami sendiri. Sampai tak sadar kalau yang dibicarakan sudah berdiri di belakangnya.
Sementara Ankie dan Rona lekas menunduk, membiarkan Loralei yang akan menghadapi si bos.
“Sepertinya bergosip tentang aku tak ada habisnya, ya?” ucap Agathias begitu datar. Dia meletakkan nampan di depan istri, lalu duduk di samping Loralei.
Pria itu menyunggingkan senyum miring saat ditatap. “Kenapa? Seru membicarakan suami sendiri di depan teman-temanmu?”
Loralei menyengir manis supaya Agathias tidak marah dan tersinggung. “Mereka bertanya, ya aku jawab apa adanya sesuai kenyataan.”
__ADS_1
Agathias terkekeh dengan wajah kaku. Tangan kekarnya mengacak-acak rambut Loralei hingga berantakan. “Makan, aku ambilkan dua porsi.” Ia menunjuk nampan yang berisi lebih banyak dari karyawan lainnya.
Ankie dan Rona sampai melongo menyaksikan betapa perhatiannya si bos yang terkenal galak. Seperti tidak menyangka kalau CEO mereka bisa manis walau wajah tetap datar dan kaku.
“Loralei yang diacak-acak rambutnya, aku yang terserang jantungnya,” kelakar Ankie. Dia menghembuskan napas karena tadi sempat menahan saat menyaksikan Agathias memberikan perhatian pada temannya.
“Kalau tahu si bos bisa seperhatian itu dengan wanita, aku juga mau jadi istrinya,” celetuk Rona. Dia merupakan salah satu dari ratusan karyawan yang membenci sifat CEO yang galak itu. Tapi, setelah melihat Loralei diperlakukan dengan baik, hilang sudah image buruk si boss menyebalkan.
Agathias melirik sinis dua teman Loralei. “Sayangnya, aku yang tidak mau menjadikanmu istriku.”
Ankie menepuk punggung Rona. “Sabar, ya ... hanya Loralei yang bisa menakhlukkan si bos.”
Rona menunduk dan menutup wajah menggunakan satu tangan. “Malu aku.”
Agathias hanya bergeleng kepala. Pantas saja istrinya berkelakuan unik, ternyata bergaul dengan orang-orang yang bersifat aneh juga.
__ADS_1
“Maafkan suamiku, dia itu tidak bisa diajak bercanda, kurang asyik.” Loralei mencubit lengan Agathias, walau tidak sedikit pun kulit yang bisa dijangkau karena tertutup oleh kemeja dan jas.
...........
Hari berganti. Tangan Loralei terus mengusap perut yang membuncit. Setelah dirasakan, bagian itu memang kencang, bukan seperti lemak. Ia sembari menatap pantulan diri di cermin yang ada dalam kamar mandi.
Wanita itu sedang menelusuri dari atas sampai bawah, perbedaan tubuhnya. “Yang semakin besar sepertinya hanya perutku, lengan dan kaki tidak.” Ia menunduk. “Apa benar aku hamil?” gumamnya.
“Sayang ... kau baik-baik saja? Kenapa lama sekali?” Agathias mengetuk pintu. Izin buang air kecil, tapi belum keluar juga sampai tiga puluh menit.
“Iya, sebentar.” Loralei lekas mengancingkan kemeja suaminya. Dia senang tidur memakai pakaian milik Agathias, terasa lebih nyaman.
“Kenapa lama sekali?” tanya Agathias. Dia langsung mengecek seluruh tubuh Loralei dari atas sampai bawah saat wanita itu sudah keluar, khawatir kalau terjadi sesuatu yang buruk karena tiga puluh menit buang air kecil itu tidak wajar.
“Aku bercermin, melihat ini.” Loralei menarik ke atas ujung kemeja yang awalnya menutup sampai paha, lalu kini sudah menunjukkan perut buncitnya. “Besok antar ke dokter, ya? Takutnya ada yang salah. Setelah ku rasakan, ternyata kencang, bukan menggelambir seperti lemak.” Dia menarik tangan Agathias supaya ikut menyentuh. “Iya, kan?”
__ADS_1