Married To Fierce Boss

Married To Fierce Boss
Part 40


__ADS_3

“Suami?” Itu bukan sebuah pertanyaan yang dikeluarkan oleh bibir Loralei, tapi kebingungan. Lihat saja wajah wanita itu yang seperti orang ling-lung. Bagaimana bisa ibunya tahu kalau ia sudah menikah? Sementara dirinya saja belum sempat menceritakan karena semua terlalu dadakan.


“Ya, suamimu. Apa kau sudah bercerai?” Linda justru aneh melihat reaksi putrinya.


Loralei menggeleng pelan seolah jiwa penurut nan baik menjawab pertanyaan itu. “Be—lum ....” Suaranya tertahan oleh sebuah ragu dan segala pikiran yang berputar dalam otaknya. “Tapi, bagaimana bisa Mom tahu tentang itu?”


“Loh! Dari mana? Ya suamimu.” Linda menepuk lengan putrinya dan memberikan isyarat supaya merubah posisi ranjang pasien agar sedikit ditegakkan.


Loralei masih dengan kerumitan pikirannya, tapi sembari menekan sebuah tombol hingga merubah posisi duduk orang tuanya. “Memang siapa suamiku?”


“Bosmu, bukan?”


Mulut dan mata Loralei langsung membulat. Bagaimana tidak terkejut ketika ibunya bisa tahu begitu saja. Berarti, Agathias sudah tahu tentang kondisi orang tuanya? Tunggu ... sepertinya ia butuh penjelasan lebih detail lagi.


“Jika Mom tahu dari bosku—” Loralei harus menahan kalimat selanjutnya karena disela.

__ADS_1


“Suamimu.” Linda meluruskan dan mempertegas. “Harus dibiasakan memanggil itu.”


Loralei menyengir penuh paksaan. “Iya, su—amiku.”


“Nah, begitu.” Telunjuk Linda menoel hidung putrinya.


“Mom tahu nama lengkap suamiku?” Loralei harus memastikan terlebih dahulu. Siapa tahu apa yang ada dalam pikirannya tidak benar.


Kepala Linda mengangguk. “Agathias—” Dia memutar mata, berpikir dan mengingat nama panjang menantunya.


“Ya, itu. Dia memperkenalkan diri dengan yang baru saja kita sebutkan.”


Loralei menyandarkan punggung seakan ingin pingsan. Sengaja dirinya merahasiakan tentang orang tuanya, ternyata si bos sudah tahu juga.


“Jadi, bagaimana ceritanya sampai Mom tahu tentang pernikahanku?”

__ADS_1


“Oh ... saat itu bosmu datang ke sini, pagi-pagi sekali. Dia terlihat tampan, gagah, dan kharismatik. Awalnya, ku pikir malaikat pencabut nyawa, aku sudah siap dibawa pergi kalau benar iya.”


Loralei mencubit kecil lengan orang tuanya, tapi tidak sakit karena sengaja mengambang. Bisa-bisanya berkelakar saat ia menanti cerita serius. Ya ... walaupun tahu kalau ibunya sedang mengalihkan suasana supaya tidak perlu merisaukan tentang kondisi kanker yang tak akan bisa sembuh.


Linda terkekeh saat melihat reaksi putrinya. “Ternyata benar apa kata suamimu. Kau itu lucu saat diusili, pantas saja dia langsung menikahimu.”


Loralei mencebikkan bibir. “Ternyata si bos menyebalkan itu yang mengajari,” decaknya kemudian.


Dan kini Linda balik mencubit lengan putrinya. “Menyebalkan bagaimana? Dia itu pria baik, terlihat bertanggung jawab. Sebelum menikahimu, bahkan datang dahulu menemuiku.”


Oke, itu informasi baru. Loralei pikir, Agathias menikahinya begitu saja tanpa ada persiapan apa pun. Juga tak menyangka kalau pria itu sampai berpikiran untuk meminta izin langsung pada orang tuanya. Ya, bisa ku masukkan ke dalam nilai plus.


“Apa yang dia katakan saat datang?”


“Memperkenalkan diri, menyebutkan nama dan pekerjaan, juga hubungan denganmu di mana sekretaris dan bos. Kemudian, dia meminta persetujuanku untuk memberikan restu karena hendak menikahimu secara dadakan. Saat itu, mau membawa aku ke Badan Kependudukan juga sebagai saksimu, tapi dokter melarang karena kondisiku tidak cukup baik. Jadi, aku memintanya untuk merekam seluruh prosesi.”

__ADS_1


Linda meraih ponsel dan membuka sebuah riwayat chat dari sebuah nomor yang ia simpan. Memutarkan sebuah video untuk menunjukkan pada Loralei kalau dia juga melihat saat sang putri menikah, meski tidak secara langsung.


__ADS_2