
Agathias mengunci kembali layar ponsel. Dia hanya membaca isi pesan yang dikirimkan oleh mantan, tidak berniat untuk membalas atau menyetujui ajakan bertemu. Lagi pula, kerjaannya sedang banyak. Loralei sudah fokus ke layar, untuk apa juga dirinya membuang waktu pada sesuatu yang sudah menjadi masa lalu.
Si bos mulai membuka email, membaca dokumen dari perusahaan lain yang dikirimkan padanya untuk pengajuan kerjasama. Biasanya, sebelum meeting, Agathias pasti mempelajari terlebih dahulu, supaya tahu ada yang mengganjal atau tidak.
Dari pukul tujuh mereka sudah di dalam kantor, hingga kini dua jam lamanya pantat duduk di kursi. Agathias melihat ke arah jam di pergelangan, menunjuk ke angka sembilan.
Agathias ingat kalau ada jadwal meeting sekarang. “Tumben sekali Loralei belum mengingatkan didetik terakhir,” gumamnya.
Sejak mereka semakin lengket dan mesra, Agathias jadi lebih bersemangat. Dia lekas berdiri, tidak mempermasalahkan juga kalau sekretarisnya lupa tak mengingatkan.
“Lo?” panggil Agathias. Tapi, tidak mendapatkan jawaban.
Sepasang kaki Agathias terayun menuju meja kerja sekretaris. “Pantas saja diam saat ku panggil. Ternyata tidur.”
__ADS_1
Senyum Agathias tercetak jelas kala menyaksikan wajah sang istri yang begitu damai ketika terpejam. Tangan hendak membangunkan. Tapi, diurungkan. “Pasti dia kelelahan, semalam sudah memuaskanku.”
Jadilah si bos membiarkan begitu saja. Mau digendong dan pindahkan ke sofa atau ruang istirahat, tapi tahu kalau Loralei mudah sekali terbangun ketika ada yang mengganggu. Maka, Agathias meninggalkan istrinya dalam kondisi tidur berbantal tangan yang menyilang di atas meja.
Agathias juga menutup pintu begitu pelan. Meminimalisir adanya suara. “Tumben dia tertidur saat kerja,” ucapnya sembari melangkah menuju ruang meeting.
Untunglah yang berkepentingan bukan perusahaan milik Agathias. Jadi, yang akan menyiapkan adalah pihak pemohon. Ia cukup datang, dan memilih mana yang cocok menjadi partner dalam proyek besarnya.
Waktu telah menunjukkan pukul sembilan lebih lima menit. Pasti semua perwakilan dari perusahaan yang memohon kerjasama pun sudah hadir. Agathias mendorong pintu tanpa mengetuk. Namun, mata seketika membulat saat mendapati sosok Aretha—mantannya ada di dalam sana.
Masih diabaikan saja, Agathias mengambil duduk di kursi yang ada paling ujung dan bisa melihat semua orang. Dia tidak terpengaruh sedikit pun oleh keberadaan sang mantan.
“Maaf, aku terlambat.” Agathias membuka dokumen di hadapannya yang pasti dari perwakilan lima perusahaan di dalam ruangan itu. “Mari langsung dimulai.”
__ADS_1
Agathias mempersilahkan untuk perwakilan tiap perusahaan memaparkan proposal dengan jelas dan rinci. Pandangannya jatuh pada dokumen, juga sesekali menatap presentator. Sedikit pun tak melirik Aretha, walau sadar kalau wanita itu mencuri pandang ke arahnya.
Jarum jam terus berputar, empat sudah memaparkan, sisa satu. Sudah pasti Aretha. Agathias tak tahu kalau sang mantan bekerja di perusahaan yang menginginkan kerjasama dengannya, tak mencari tahu juga tentang itu. Tapi, tetaplah harus profesional.
“Sudah? Hanya empat saja yang berkepentingan di sini?” tanya Agathias dengan suara tegas dan tentu saja tak menghilangkan kesan galak.
Semua mata menatap Aretha, dan membuat wanita itu gelagapan. “Oh, iya. Maaf, aku lupa.” Dia lekas berdiri dan mempersiapkan presentasinya.
Selesai semua, Agathias menutup dokumen yang sejak tadi dibaca. “Keputusanku tidak bisa sekarang. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Mungkin, satu minggu lagi akan ku beri tahu, siapa saja yang pantas untuk dijadikan rekan dalam mega proyekku.”
Agathias merapikan dokumen untuk dibawa. “Kalian boleh pergi!” titahnya seraya tubuh telah berdiri. Meeting kali ini menghabiskan waktu tiga jam karena tadi ada proses tanya jawab juga supaya lebih meyakinkan pilihan yang tepat.
Sebelum Agathias berhasil keluar, Aretha lekas menghampiri dan menghadang jalan sang mantan. “Bisa kita bicara sebentar?”
__ADS_1