
Waktu terus berlalu, tidak terasa kandungan Loralei telah menginjak bulan ke sembilan. Hanya menunggu beberapa hari lagi akan lahir buah hati keduanya.
Sungguh menepati janji, pasangan itu mulai menjalin hubungan normal. Loralei tidak mengerjai suami lagi, sudah cukup puas dengan diakhiri Agathias memakai busana bagaikan balon. Bahkan foto yang diambil saat itu pun dijadikan wallpaper.
Menjelang persalinan, Loralei tinggal di mansion keluarga suaminya supaya ada yang menemani. Seperti hari ini, dia tengah duduk di sofa, menonton film di layar besar, dan ditemani Annora.
Walau terlihat bersantai, tapi Loralei banyak bermain ponsel untuk mengirimkan pesan pada suami yang belum terlihat batang hidungnya padahal sudah sore hari. Annora sesekali melirik karena penasaran sang ipar terkadang cekikikan sendiri.
Annora jadi ikut tertawa saat melihat wallpaper di ponsel Loralei. “Kau membuat kembaranku seperti itu? Serius?” celetuknya.
Loralei lekas mengunci ponsel, lalu meringis menunjukkan rentetan gigi. “Ya, tapi sebagai gantinya, dia membuatku sampai muntah-muntah akibat miliknya dimasukkan ke mulutku.” Hanya menceritakan bagaimana malam setelah ia mendandani Agathias pun berhasil membuatnya kembali mual. Paling risi kalau memuaskan suami dengan cara seperti itu.
__ADS_1
Loralei sampai menjeda cerita karena gejolak di perut mengaduk-aduk meminta dikeluarkan. Dia jadi membayangkan bagaimana saat itu yang tak bisa menolak. Dan berakhir lebih baik tidak mengerjai suami karena pada akhirnya ia pun akan dikerjai juga.
“Dia semburkan di mulutku—hoek ....” Loralei menutup mulut. Untung tidak ada yang keluar, baru angin. “Sudahlah, aku tidak mau menceritakan itu lagi.”
Annora kali ini menertawakan iparnya. “Agathias itu tidak mau kalah. Walau kita berpikir dia mengalah, tapi sebenarnya caranya membalas itu dengan hal yang tidak kita suka.” Dia menepuk pundak Loralei. “Tahan seumur hidup dengannya?”
Loralei menaikkan bola mata. “Em ... tahan, asal tidak diselingkuhi.”
“Dan aku tidak akan pernah selingkuh.” Suara berat itu langsung menyahut, membuat Loralei dan Annora menengok ke belakang. Agathias berjalan dengan santai dan gagah.
Annora merotasikan bola mata. “Pamer ... mentang-mentang sudah cinta, lalu mesra-mesraan di depan yang tak punya pasangan,” cibirnya ketika Agathias dan Loralei berciuman bibir tanpa malu.
__ADS_1
Agathias tersenyum miring. “Kenapa? Mau? Makanya, jangan jual mahal, banyak yang kejar tapi tidak ada satu pun yang diterima. Sendirian terus, kan, jadinya.” Dia balas mencibir.
Annora berdecak, kedua tangan sengaja disilangkan pada dada. “Tidak ada yang sesuai kriteria.”
Kepala Agathias sampai bergeleng. Kembarannya itu cantik, banyak yang suka, tapi entah apa yang dicari. “Memangnya kau mau yang seperti apa? Ku kenalkan dengan rekan bisnisku, mau? Supaya tidak iri kalau melihatku bermesraan.” Dia semakin menunjukkan kedekatan dengan Loralei, memeluk wanitanya, dan mendaratkan dagu di pundak istri.
“Aku ingin seseorang yang mampu menggetarkan hati dalam sekali bertemu. Sayangnya, sejauh ini belum ada yang bisa melakukan itu. Hambar semua pria yang mengantri untuk mendekatiku.” Annora menghela napas, menyandarkan kepala di sofa. Dia terlihat lelah.
“Di luar nalar, kriteriamu itu sulit untuk dinilai orang lain. Cari sendiri kalau begitu, aku tidak bisa membantu.” Agathias menepuk pundak kembarannya. “Kabari kalau sudah mendapatkan orangnya. Aku perlu tahu siapa yang berhasil meluluhkanmu.”
Sedang menyimak obrolan saudara kembar, tiba-tiba ponsel Loralei bergetar. Dia lekas mengangkat tanpa berpindah duduk. “Ya?”
__ADS_1
Loralei tidak mengeluarkan suara apa pun lagi. Dia mendengarkan informasi dari penelepon, dan seketika itu ada air mata yang luruh membasahi pipi.
Agathias segera mengambil alih ponsel istrinya saat menangkap raut sedih wanitanya. Dia mendekap Loralei dan saat gadget itu ditempelkan telinga, panggilan sudah terputus. “Hei, kenapa menangis?”