
Loralei hanya menggangguk-anggukkan kepala saat melihat video pernikahan yang jauh dari impiannya. Namun, saat melihat raut ibu yang terlihat gembira, ia tak mungkin menghancurkan ekspektasi orang tuanya. Biarlah diri sendiri yang merasakan kalau menikah dengan Agathias berlandaskan ketidakjelasan.
Makan siang untuk pasien pun datang, Loralei lekas menarik meja dan meletakkan satu nampan berisi beberapa hidangan. “Makan dulu, Mom.” Ajakan itu sekaligus untuk mengakhiri perbincangan tentang suaminya.
Loralei menyuapi ibunya. Hal yang selalu ia lakukan setiap menjenguk.
“Suamimu itu, menantu idamanku, Lo.” Disela mengunyah, Linda memberi tahu. Namun, Loralei lekas menyuapi lagi supaya berhenti bicara.
“Makan jangan sambil bicara,” tutur Loralei. Mana mungkin dia mengatakan kalau bosnya itu memang tipikal penindas. Buktinya, niat sekali sampai meminta izin orang tuanya, pasti untuk mencari dukungan agar bisa membuatnya kesal setengah hidup dan tidak ada yang memihaknya, kecuali Annora. Ya ... untung ia ingat peringatan wanita itu. Jadi, tidak akan terhanyut walau Agathias dipandang gentleman oleh sang ibu.
“Orangnya terlihat serius. Walau kau belum pernah mengenalkan padaku, tapi dia sekali datang langsung meminta izin menikah. Di mana lagi mencari pria seperti itu? Tindakannya sangat nyata.” Linda tersenyum dengan cerita yang bersemangat.
__ADS_1
“Iya, dia memang serius.” Menindas dan memanfaatkan aku maksudnya.
Mana mungkin Loralei menghancurkan kebahagiaan sang ibu. Biarlah tetap melihat baik menantu yang katanya idaman itu. Walau di matanya tetap menyebalkan. Kebenciannya sudah terlalu dalam, sehingga sulit menghilangkan penilaian negatif tentang Agathias.
Loralei memberikan gelas berisi air mineral. “Obatnya di minum dulu.” Ia melihat bagimana orang tuanya meneguk beberapa pil untuk mengurangi rasa sakit.
“Kapan-kapan, kalau kau ke sini, jangan sendiri lagi. Ajak suamimu juga.” Linda sembari menyodorkan gelas kosong.
“Dia itu orang sibuk, tidak bisa pergi sesuka hati.” Sembari mengembalikan meja ke ujung ranjang pasien.
“Iya ... iya, nanti ku ajak ke sini.” Sudahlah, setujui saja, daripada tidak berubah topik pembicaraan mereka.
__ADS_1
“Kau tidak tanya kenapa aku memberikan suamimu izin untuk menikah walaupun dadakan?” tanya Linda. Matanya sampai lelah melihat Loralei yang mondar-mandir tidak jelas. “Duduklah, kau itu seperti orang menahan buang air besar saja.”
“Sebentar, aku merapikan ruangan supaya lebih rapi.” Padahal itu hanya alasan saja agar terlihat sibuk.
“Perasaan ... ruangan ini tidak berantakan,” gumam Linda. “Sudahlah. Kau sekarang tanya, kenapa aku memberi dia izin.”
Loralei berdecak. Hari ini dipenuhi oleh Agathias terus. Ibunya tidak berhenti membahas pria itu. Dia sendiri sampai bosan mendengar. “Karena dia tampan dan kaya, aku sudah tahu.”
Kepala Linda bergeleng meski Loralei tidak memperhatikan. “Bukan. Tapi, aku beri dia pertanyaan, dan suka dengan jawabannya.”
Loralei berhenti menyibukkan diri yang sebenarnya tidak penting sekali. Ia membalikkan badan dan menyandarkan tubuh. Keningnya mengernyit. “Pertanyaan? Mom interview bos—suamiku?”
__ADS_1
Ada anggukan ditunjukkan oleh wanita kurus yang tak lagi memiliki rambut akibat kemoterapi. Meski sakit yang diderita tidak mungkin sembuh, tapi ia tak pernah mengeluh pada putrinya. Justru berusaha memperlihatkan bahwa baik-baik saja supaya Loralei tidak banyak pikiran.
“Jelas, mana mungkin aku langsung setuju begitu saja. Sebagai orang tuamu satu-satunya, harus ku cari tahu terlebih dahulu kenapa dia memilihmu. Apa lagi dengan statusnya yang seorang bos dan keluarga terpandang, tapi mau menikahimu yang seorang sekretaris biasa.”