
Setelah melihat foto yang membuat hati Loralei panas, wanita itu jadi lupa kalau perutnya lapar. Ada amarah yang sedang menggebu ingin disalurkan. Tentu pada suaminya.
Loralei seakan tidak terima dengan apa yang baru saja dikirimkan oleh nomor asing. Tapi sudah pasti itu adalah mantan Agathias.
Bagaimana tidak kesal kalau pria berstatus sebagai suaminya duduk di dalam ruang rawat sebuah rumah sakit, dan terlihat ada seorang wanita sedang berbaring di ranjang pasien. Seakan sedang menunggu pasangannya.
Ini tidak bisa dibiarkan. Harus dituntaskan segala rasa penasaran yang menyeruak dari ujung kaki hingga kepala. Kalau sampai benar suaminya justru menjaga mantan, dibandingkan menyelesaikan masalah rumah tangga, maka lihat saja apa yang akan ia lakukan.
“Wah ... perlu ku tendang biji kembarnya sampai tidak bisa berdiri lagi.”
Suara Loralei keluar Dengan geram. Tentu saja kesal. Entah kenapa sekarang jadi mudah emosi. Atau mungkin itu juga salah satu bentuk sakit hati karena suami hanya menyukai tubuhnya, sementara dirinya sudah mulai memakai hati.
Dia menyambar kasar ponsel yang sempat dibanting ke atas ranjang. Mengirimkan pesan pada nomor tersebut untuk menanyakan di rumah sakit mana dan ruang apa.
Tidak berselang lama, balasan pun masuk. Loralei lekas turun dari ranjang. Tanpa berganti pakaian terlebih dahulu, ia segera keluar kamar.
__ADS_1
Memakai sandal yang lebih mudah dan cepat dimasuki kaki. Tepat sekali saat Loralei membuka pintu, seseorang membawa papperbag.
“Nona Loralei?”
“Ya, aku.”
“Ini pesanan Anda.” Orang itu mengangsurkan makanan tersebut.
“Oh, iya, terima kasih.” Loralei menerima itu. Saking kesalnya pada Agathias, dia sampai lupa kalau sedang memesan makanan. “Sudah ku bayar dengan e-wallet, ya.”
Emosi juga butuh tenaga. Wanita itu masih memakai baju yang sama seperti saat terakhir kali meninggalkan mansion keluarga suaminya. Dia langsung mencari taksi untuk mengantar menuju rumah sakit.
Di dalam transportasi umum beroda empat itu, Loralei mengeluarkan papper lunch box. Jadi, selama perjalanan, dia makan. “Perbanyak tenaga supaya bisa menendang kuat biji kembar siam suamiku,” gumamnya.
Tepat sekali taksi berhenti, makanan juga habis. Loralei lekas turun dan kaki menuju ruang rawat seperti balasan yang ia dapat beberapa saat lalu.
__ADS_1
Hari menjelang malam, masa bodoh belum mandi pun, yang penting Loralei harus melihat apakah itu benar Agathias atau hanya tipu muslihat Aretha untuk merusak rumah tangganya.
Kaki terayun keluar lift, menengok ke kanan dan kiri sembari membaca nomor kamar yang menempel di pintu. Dada terus berdebar, risau sekaligus takut. Berharap kalau foto yang dikirimkan padanya bukan Agathias, tapi hanya editan.
Berhenti di depan pintu bertuliskan VIP 9, Loralei berdeham sebentar untuk menampik segala pikiran buruk. Menguatkan diri dan juga hati, dia menguping dahulu.
“Aku hamil ... hiks ....”
Ada kalimat itu yang masuk ke dalam gendang telinga Loralei, membuat hatinya semakin terasa diremas. Padahal belum tahu siapa orang yang diajak bicara oleh Aretha.
Sudahlah, Loralei tidak boleh langsung pergi kalau belum melihat dan memastikan. Didoronglah pintu itu hingga terbuka.
Sepasang mata Loralei langsung membulat saat mendapati ada seorang pria tiba-tiba menengok ke arahnya, seiring suara pintu mulai tertutup dengan sendirinya. Berkali-kali coba mengerjap, siapa tahu itu hanyalah ilusi.
“Loralei? Kenapa ke sini?” Pertanyaan itu keluar dengan nada sedikit panik yang sengaja disamarkan oleh mimik datar. Ternyata benar, Agathias ada di sana.
__ADS_1