Married To Fierce Boss

Married To Fierce Boss
Part 74


__ADS_3

Perut Loralei sudah dilumuri oleh gel. Kini wanita itu bisa merasakan ada transducer bergerak di atas kulit. Karena terbiasa diusap tangan kekar Agathias, jadi gerakan benda itu bagaikan tidak berasa apa pun.


Sepasang mata wanita itu terarah pada monitor yang menunjukkan gambar empat dimensi. Jadi, sekarang Loralei bisa melihat ada sesuatu yang bersemayam dalam rahimnya.


“Usia kandungannya sudah enam belas minggu. Kepala, kaki, dan tangan mulai terbentuk walau belum sempurna.” Dokter memberi tahu seraya menunjukkan bagian yang dimaksud.


Antara terharu, senang, dan kesal bercampur menjadi satu dalam hati Loralei. Dia tidak menyangka kalau sudah hamil selama itu, tak sadar pula. Tapi, saat melihat Agathias menahan senyum, membuatnya menatap tajam pria itu.


“Kau pasti sudah tahu sejak awal, kan?” Loralei mencubit lengan suami yang sejak tadi mengusap dan menggenggam tangannya.


Agathias menyentakkan kedua alis ke atas tanpa rasa bersalah. “Sejak kau pingsan di rumah sakit,” jawabnya santai. Ditambah mengecup permukaan tangan istrinya pula.


Bagaimana Loralei tak semakin sebal kalau seperti itu. Dia balas menarik tangan Agathias, dibawalah ke depan bibir. Bukan untuk gantian dicium, tapi digigit dengan sangat gemas di bagian lengan.

__ADS_1


Agathias sampai meringis karena sakit. Dia tidak mengaduh, justru terkekeh ketika Loralei sudah melepaskan gigi dari lengannya. Bagaimana tidak semakin cinta kalau istrinya menggemaskan begitu.


“Kenapa kau tidak bilang sejak awal?” gerutu Loralei seraya berpindah posisi menjadi duduk saat dokter sudah membersihkan perut dari gel.


Agathias sigap membantu Loralei. “Bagaimana bisa ada wanita yang tak sadar kalau sedang hamil? Sudah empat bulan pula.” Dia justru balas menimpali dengan pertanyaan.


“Kau itu bisa tidak sehari saja jangan menyebalkan.” Loralei mencubit pipi Agathias. Sebab, perut dan lengan tidak ada yang bisa ditarik.


Wajah Loralei sudah menunjukkan rasa kesal yang tak terhingga. “Suami macam apa kau itu,” cibirnya, lalu duduk di kursi berhadapan dengan dokter.


“Suami bertanggung jawab yang bisa membuatmu bahagia dan menua bersama sampai akhir hayat kita.” Agathias ikut duduk di samping Loralei. Ia menarik kepala wanita itu dan melabuhkan kecupan di ubun-ubun, lalu ke pelipis. Memamerkan kemesraan di depan dokter.


Loralei menghela napas. Mendengarkan penjelasan dari dokter. Katanya kandungan dan janinnya baik semua, sehat, tidak ada gangguan apa pun. Lalu ia bertanya kenapa bisa tidak menyadari kalau sedang hamil. Dijawablah karena tak menunjukkan tanda-tanda yang biasa dialai oleh wanita hamil muda, Loralei cenderung enjoy saja melakukan keseharian, sibuk oleh pekerjaan, dan berpikiran kalau pernah mengkonsumsi obat pencegah kehamilan bisa menunda terbentuknya janin.

__ADS_1


Selepas periksa dan menebus vitamin, Loralei dan Agathias kembali ke mobil untuk berangkat kantor. Di dalam kendaraan itu ada sepasang mata yang masih nampak kesal.


“Jadi, vitamin yang kau berikan itu bukan penambah napsu makan?” ucap Loralei, sampai detik ini masih cemberut.


Agathias tersenyum dan mengangguk. “Vitamin dari dokter tadi.”


“Astaga ... kenapa aku punya suami yang senang sekali mengerjai istrinya,” gerutu Loralei.


Justru hal itu membuat Agathias semakin senang, gemas, bahagia, dan berakhirlah mengacak-acak rambut sang wanita. “Kau tahu? Wajahmu saat kesal dan cemberut itu justru membuatmu semakin terlihat cantik, aku sangat suka.”


Loralei menggembuskan napas pelan. Sabar ... sabar ... terjebak seumur hidup dengan manusia seperti Agathias. Untung cinta.


Tangan Loralei mengusap perut buncitnya. “Ayo, Nak, kita balas kerjai daddymu.” Dia memprovokasi janin yang belum tahu apa-apa itu.

__ADS_1


__ADS_2