
“Apa lagi yang mau dibicarakan?” Agathias melipat kedua tangan di dada dan menatap datar wajah sang mantan. “Cepat katakan! Aku tak bisa lama, ada istri yang menunggu di ruanganku.” Dia sengaja menekankan kalimat terakhir supaya jelas kalau kini sudah memiliki pasangan baru.
Aretha menatap empat perwakilan dari perusahaan lain yang masih ada di dalam ruang meeting. “Bisa kalian keluar? Aku dan Agathias mau bicara berdua,” usirnya, seolah dia adalah pemilik gedung itu. Semena-mena sekali.
Empat orang tersebut lekas berdiri dan hendak pergi. Tapi, suara si bos galak itu sudah mengeluarkan sebuah perintah. “Jangan ada yang keluar! Atau, tak ada satupun dari kalian yang ku ajak kerjasama!”
Padahal hanya suara tanpa menatap. Tapi, semua orang langsung kembali duduk. Agathias si otoriter, ternyata lebih dominan dan berkuasa sampai tidak ada satu pun yang berani membantah.
Aretha mencebikkan bibir. “Kalian jangan ada yang menguping!” ancamnya. Jadi tak bisa leluasa karena ada empat pasang mata yang bebas menatap juga mendengar pembicaraan.
“Mau berbuat curang, ya?” tuduh salah satu perwakilan dari perusahaan lain.
“Apa yang akan ku lakukan, bukan urusanmu,” sindir Aretha.
__ADS_1
Agathias menghela napas. Wanita satu itu membuat waktunya terbuang sia-sia. Sudah diberi kesempatan untuk bicara, justru mengancam orang lain. Membuatnya muak dan malas.
Kaki Agathias pun melangkah melewati sisi kosong samping Aretha. Ini sudah jam makan siang, istrinya pun pasti lapar karena sarapan pagi mereka hanya sebatas roti.
Aretha menarik jas Agathias hingga pria itu berhenti bergerak. “Aku belum mulai mengatakan hal penting padamu, Aga ... jangan pergi dulu.” Dia kembali berdiri di hadapan sang mantan.
Agathias membuang napas kasar dan penuh rasa malas. “Cepat!”
Tapi, pria itu tidak, si bos justru melihat ke arah pintu. “Lalu, apa hubungannya denganku?” tanyanya begitu sinis.
Aretha berusaha meraih tangan kekar sang mantan. Tapi, Agathias sudah lebih dahulu menarik ke belakang dan disembunyikan. Membuatnya mendengus kecewa. “Ternyata, aku jauh lebih bahagia saat bersamamu.”
Agathias merespon dengan sunggingan senyum, cukup sebelah sudut bibir saja terangkat hingga wajah terkesan sinis. “Oh, ya? Bukankah saat mengakhiri hubungan kita, kau berkata kalau muak denganku yang lebih sering menghabiskan waktu untuk bekerja? Juga segala kecemburuanmu terhadap sekretarisku yang banyak menghabiskan waktu denganku di kantor,” sindirnya. Tidak ada kelembutan sedikit pun. Dia hanya mengeluarkan semua fakta yang terjadi.
__ADS_1
“Aku menyesal pernah mengatakan itu. Sekarang aku tahu, ternyata kau adalah yang terbaik. Kita sama-sama lagi, ya?” mohon Aretha. Tatapannya begitu minta dikasihani.
“Aku sudah menikah, dan istriku sangat cantik.” Agathias sengaja menekan intonasi dari kata awal sampai belakang. Juga memberikan tatapan tajam agar mantannya sadar. “Bukankah kau yang sejak awal meremehkanku? Menilai bahwa aku tak akan bisa mendapatkan kebahagiaan seperti kau dan suamimu?”
Aretha memejamkan mata, menelan ludah dan merutuki mulutnya yang pernah berkata tak mengenakkan untuk Agathias. “Aku minta maaf jika pernah menyakiti hatimu. Tak masalah menjadi istri kedua atau simpananmu. Aku yakin kalau kau masih mencintaiku.”
Tepat lima detik setelah Aretha selesai bicara, pintu ruang meeting pun terbuka. Loralei orangnya.
...*****...
...Baca karya baruku yang satunya juga yuk bestie. Judulnya Buried Love...
__ADS_1